
Malam ini aku sudah bersiap untuk tidur,setelah lelah belajar mengerjakan bertumpuk-tumpuk tugas dari beberapa mata pelajaran di sekolah.Yang lebih parahnya lagi adalah pelajaran Bahasa Indonesia,pak Mario tak pernah kira-kira jika memberi tugas untuk kami dan harus selesai dalam waktu yang singkat.
Hapeku yang tergeletak diatas meja belajar berbunyi,saat kulihat dilayar ternyata panggilan dari Samuel.
"Halo......"
Ternyata Samuel mengajakku berangkat bareng besok pagi,aku hanya bisa mengiyakan ajakkannya.
Lagipulan selama ini Samuel baik dan kebetulan juga rumah kami searah,jadi nggak papa kalau aku sering bareng sama dia.Mungkin suatu saat nanti Samuel bisa saja kujadikan alasan untuk menolak om-om yang akan dijodohkan denganku nanti,tentu saja dengan berpura-pura bahwa kami berpacaran misalnya.
Pagi hari aku sudah bersiap akan berangkat kesekolah,kutunggu kedatangan Samuel sambil duduk-duduk di teras rumah.
"Lho kok belum berangkat?"
Tanya papa padaku yang juga sudah siap dengan setelan jas membuatnya semakin berwibawa bersiap akan berangkat kekantor.
"Lagi nunggu temen pa."
"Siapa? lho nggak di anter sopir?"
"Nggak pa,lebih cepet nyampenya kalo naik motor pa."Aku beralasan.
"Sama siapa? yang kemaren itu?"
"He'em."
Aku segera mencium punggung tangan papa dan berlari menuju gerbang saat kudengar suara klakson motor Samuel berbarengan dengan pak Satpam membukakan pintu gerbang untuk dilewati mobil yang akan di kendarai papa dan kak Rendi.
__ADS_1
"Besok mau dijemput lagi?"
Tanya Samuel sambil melepas helm yang dikenakannya.
"Boleh."
Jawabku sambil menyodorkan helm Medina yang ku kenakan.
"Cie....barengan lagi nih?"
Medin yang tiba-tiba datang dengan motor maticnya mengagetkan kami yang juga baru datang.
Kami bertiga masuk kedalam kelas bersama,dan tak lama berselang datanglah Jesi dengan wajah pucat.
"Jes....kamu sakit?"
"Iya Jes,mukamu pucet."
Kataku sambil memutar badan kearah Jesi.
Media juga tak mau ketinggalan segera berjalan cepat mendekat kearah Jesika.
"Minggir kamu Sam!"
Kata Medin sambil mendorong pelan tubuh Samuel.
"Idih,dateng-dateng ngusir!"
__ADS_1
"Bodo!"
Sedangkan Jesika hanya diam sambil memegang kepalanya yang mungkin sedang pusing.
"Mau ku gendong ke UKS Jes?"
Tanya Samuel.
"Nggak usah,nanti juga enakkan kok."
Kami segera membubarkan diri saat pak Widodo guru Matematika memasuki kelas kami.
Jesi masih nampak lemas dan wajahnya begitu pucat selama pelajaran berlangsung,namun dia bilang tidak apa-apa.Sampai jam pulang sekolah Jesi lebih banyak diam,bahkan saat jam istirahat Jesi lebih memilih tetap dikelas dan menolak ajakan kami pergi ke kantin.
Aku merasa khawatir dengan keadaannya,meski berulang kali dia bilang nggak apa-apa namun keadaannya menyatakan hal yang lain.
Entah kenapa akhir-akhir ini Jesi nampak seperti sedang menyembunyikan banyak hal dari kami,dia lebih banyak diam dan terlihat murung.
Saat pulang sekolah kami berniat mengantarkannya pulang sampai kerumah hanya sekedar memastikan bahwa keadaannya memang baik-baik saja,namun niat kami ditolak mentah-mentah olehnya.
"Kami hanya khawatir sama kamu Jes,biar kami ikut mengantarkanmu sampai kerumah."
Kataku padanya.Namun dia tetap bersikeras bahwa semuanya baik-baik saja,dia hanya bilang butuh istirahat saja dirumah.
Akhirnya kami mengalah dan pulang kerumah masing-masing,aku kembali di bonceng Samuel saat pulang namun kini tidak lagi meminjam helm milik Medin melainkan helm cadangan yang sengaja dibawa Samuel untukku.
Aku merasa ada yang aneh selama perjalanan pulang,entah memang hanya perasaanku atau memang hanya kebetulan saja.Sepanjang perjalanan aku merasa ada yang membuntuti motor yang kami naiki,bahkan saat Samuel mampir ke apotek motor tersebut pun ikut berhenti tepat dibelakang kami dan kembali mengikuti kami lagi sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Bersambung.....