
Aku segera keluar dari kamarku lalu menuruni anak tangga dengan pelan karena suasana rumah yang sudah sepi.Mungkin karena sudah pada masuk kekamar masing-masing atau malah sudah pada tidur karena memang sudah malam.
"Sejak kapan mas disini?"
Tanyaku sambil menarik kursi untuk ku duduki.
"Sejak mamamu memberitahuku,sampai selarut ini kamu masih juga belum turun untuk makan malam."
Jawabnya sambil bangkit dari duduknya.
"Bi.....!"
Teriakku pelan.
"Mau apa panggil bibi?"
Tanya mas Mario sambil menaruh piring di hadapanku dan segera menyajikan makan malam untukku yang ternyata sudah ia siapkan.
Aku masih terdiam memandangi makanan yang sudah tersedia di hadapanku dengan teliti tanpa berani menyentuhnya sedikutpun.
"Kenapa? takut ada racunnya!"
Disuapkan makanan yang tersaji di hadapanku kedalam mulutnya sendiri.
"Aman kan? sekarang makanlah!"
Perintahnya padaku.
"Ini kan makanan bekasmu!"
Protesku masih tak belum menyentuh makanan yang ada di hadapanku.
"Huh! sekarang kamu maunya apa!"
Tanyanya dengan wajah kesal.
"Sebenarnya,semua ini maksudnya apa?"
Tanyaku dengan santai,sambil bertopang dagu.
"Aku minta maaf!"
Jawabnya terdengar dari nada bicaranya seperti tidak sedang sunggug-sunggu meminta maaf karena terdengar sepertinya masih kesal padaku.
"Maaf buat apa? kesalahan yang mana?"
Aku masih enggan menanggapinya.
"Untuk semua kesalahan yang membuatmu kesal selama ini."
Ucapnya sambil melihat kearah wajahku,terdengar sepertinya dia sedang bersungguh-sungguh.
Bahkan aku tidak menyangka jika dia menyadarinya,bahwa selama ini telah banyak membuatku kesal.
"Dengar! tidak semua hal tentangku harus kau ketahui,serta tidak semua yang terjadi harus kujelaskan padamu!"
"Kenapa?"
Tanyaku menoleh kearahnya,kini wajah kami saling berhadapan dan tatapan mata kami saling bertemu.
__ADS_1
Dengan buru-buru ku palingkan pandanganku ke piring yang ada di hadapanku lalu segera menyuapkan makannan ke dalam mulutku untuk mengurangi rasa gugupku setelah kami saling pandang dalam waktu yang meski tak begitu lam tapi mampu menghipnotisku.
"Karena mungkin tidak semua hal yang aku jelaskan kau akan mengerti."
"Karena aku masih dianggap anak kecil?"
"Bukan begitu maksudku!"
"Hah! sudahlah,kepalaku sudah cukup penuh dengan masalah yang terjadi akhir-akhir ini."
Aku terus menyendokkan makanan ke dalam mulutku sesuap demi sesuap sampai hampir habis karena selain sedang benar-benar lapar,makanan yang di sajikan mas Rio malam ini cukuo enak dan rasanya beda dengan masakan mama atau bibi yang sering di siapkan untukku.
"Mulai sekarang aku tidak akan lagi bertanya apapun padamu dan juga tidak akan perduli dengan penjelasan apapun dari anda tuan muda!"
Jawabku kesal sambil meletakkan alat makanku karena kini piring di hadapanku telah kosong tak bersisa.
"Makanannya enak?"
Tanyanya padaku.
"Lumayan!"
"Meski itu sudah bekas kumakan?"
Aku terdiam dan tertegun karena baru menyadari jika makanan yang sedari tadi ku makan bahkan sampai habis adalah makanan yang sudah dia makan sebelumnya.
Entah dikemana hilangnya ingatanku barusan,hingga aku benar-benar lupa.
"Setelah ini istirahatlah,terima kasih!"
"Untuk apa?"
"Karena sudah memaafkanku!"
Jawabnya,bahkan aku saja belum menjawab permintaan maafnya dan sekarang dia sudah berterima kasih karena sudah ku maafkan! benar-benar orang yang aneh,sikapnya benar-benar di luar nalar manusia biasa.
"Kamu menghabiskan makanan yang kusiapkan,berarti aku sudah di maafkan!"
"Jadi,makanan ini sogokan!"
"Iya!"
Jawabnya sambil menaikkan kedua alisny dan menyunggingkan semyum padaku.
"Dasar,curang!"
Ucapku dengan kesal sambil bangkit dari tempatku duduk.
"Istirahatlah,aku akan segera pulang!"
Aku berlalu tampa jawaban,dia datang meminta maaf namun justru malah membuatku semakin kesal.
Saat aku sedang menaiki anak tangga,terdengar suara kak Rendi seperti sedang bercakap dengan mas Rio.
Segera kutoleh dan ternyata memang kak Rendi.
Tak ku hiraukan mereka berdua karena aku ingin segera masuk kedalam kamarku.
Perutku kini sudah kenyang,tubuhku lelah dan mataku sudah mulai mengantuk.
__ADS_1
Aku segera melaksanakan kewajibanku yang tertunda,aku segera melaksanakan ibadah sholat Isya' sebelum malam semakin larut dan rasa kantuk semakin menggelayuti mataku.
Setelah selesai sholat Isya' segera kumatikan lampud dan bergegas untuk tidur,karena mata ini sudah sangat berat dan ingin segera kupejamkan serta bibirku mulau tak hentinya menguao sambil kuntutup mulutku dengan tanganku sendiri.
'Ting'
Terdengar bunyi pesan masuk dari hapeku namun tak kuhiraukan karena mata ini sudah sangat mengantuk dan raga ini sudah sangat enggan bangkit kembali hanya sekedar untuk meraih hape yang masih berada di atas meja belajarku.
Pagi hari saat aku selesai mengenakan seragam putihku,kuraih hape yang semalam sempat berbunyi tanda adanya pesan baru masuk.
'Malam Maura,sudah tidur kah? ini Dimas,aku dapat nomormu daru hape Yasmin.'
Kamu tidak keberatan kan,jika aku ingin kenal denganmu lebih jauh?'
'Tolong jangan beritau Yasmin jika aku punya nomormu dan mengirim pesan padamu secara pribadi.please!'
Apa maksudnya ini? kenapa Dimas begitu! bukankah Yasmin itu pacarnya, lalu untuk apa dia mengirim pesan padaku secara pribadi.Kenapa juga dia tidak ingin Yasmin tau tentang ini?
Bukankah selama ini hubungan mereka terlihat baik-baik saja? bahkan aku sempat inu dengan kisah kasih mereka.
'Selamat pagi Dimas,maaf semalam aku sudah tidur.Memangnya kenapa jika Yasmin tau kau mengirim pesan padaku?'
Tanyaku saat membalas pesan,lali dengan cepat terkirim dan terbaca serta dipojok atas layar tampilan aplikasi dalam chatku dengan Dimas tertera sedang mengetik.
'Aku hanya tidak mau Yasmin salah paham,dia sangat cemburuan!'.
Balasnya dengan cepat.
Cemburuan? setauku Yasmin yang ku kenal bukanlah Yasmin yang seperti itu.Meski setauku baru kali ini Yasmin memiliki seorang pacar,namun pecemburu bukanlah sifat yasmin.
'Yasmin cemburuan?'
Tanyaku dalam pesan balasan yang telah kukirimkan.
'Iya,dia sangat posesif!'
Balasnya lagi,lalu dengan cepat kumasukkan hape kedalam tasku dan tak kuhiraukan lagi pesan dari Dimas karena aku harus bersiap sebelum pak Pras datang.
"Selamat pagi nona,kita berangkat sekarang?"
Tanya pak Pras padaku saat aku keluar dari rumah dan berjalan mulai mendekati mobil.
"Pagi juga pak Pras,pak Pras sudah sarapan?"
"Sudah nona."
"Baiklah,kita berangkat sekarang!"
"Baik nona..."
Pak Pras selalu tepat waktu saat datang kerumah untuk mengantarkanku kesekolah setiap pagi dan juga selalu tepat waktu untuk menjemputku disekolah.
Sepertinya pak Pras tak pernah pergi kemanapun selama aku berada disekolah,mungkin dia tetap berada di area sekolah untuk menungguiku selama aku di sekolah.
Karena setiap kali aku membutuhkanya atau saat waktu aku pulang sekolah dia sudah berada di depan gerbang sekolah untuk menjemputku.
Meski sudah berkali-kali kukatakan jika aku aman saat berada di are sekolah.
BERSAMBUN.......
__ADS_1