
Aku semakin tak berdaya saat dibawah kungkungannya tangan kanannya mulai meraba tubuhku masuk kedalam kaos yang kukenakan.
Bibirnya kini telah lepas dari bibirku yang sudah basah karena sisa salivanya yang menyatu dengan saliva milikku,kini diciuminya telingaku dan terkadang dijilat menimbulkan rasa geli dan hangat bercampur menjadi satu.
Ciumannya semakin turun keleherku,sedangkan tanganya masih bermain di dalam kaosku menggerayangi gundukan bukit kecil yang masih terbungkus oleh penutupnya terkadang tangnnya meremas hingga membuatku menggigit sendiri bibir bawahku menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara apapun.
Aku berusaha berontak ketika tangannya dengan liat mulai masuk kedalam pembungkus bukit kecil yang masih murni milikki,namun dia tak melepaskanku.
Pemberontakanku hanya sia-sia belaka,justru membuatku tanpa sadar menggeliat menimbulkan sensasi aneh ketika kurasakan sesuatu yang mengganjal dibawah sana saat mas Rio menindih tubuhku dan menempelkan tubuhnya padaku.
"Mas......"
Pintaku lirih agar dia melepaskanku seperti sebelum-sebelumnya.
"Aku menginginkanmu sayang......jangan menolakku lagi,kali ini aku tidak bisa menahannya lagi."
Bisiknya ditelingaku sambil lidahnya tak hentinya menjilati leher dan terkadang menggigit kecil menimbulkan rasa sakit bercampur geli.
Kini tangannya sudah dengan ganas menyentuh setiap inci bagian atas tubuhku,dengan cepat dia mambuata kait pembungkus lalu menaikkan kaosku hingga menampakkan utuh bagian atas tubuhku.
Dengan cepat kugunakan tanganku untuk menarik selimut guna menutupi tubuhku yang kini sudah polos dibagian atasnya.
"Jangan mas!"
Pintaku memohon,namun dia mengabaikanku.
Aku masih berada di bawah kungkungannya,berusaha menarik dan merebut dangan paksa selimut yang menutupi tubuhku.
"Mas...jangan!"
Kini tubuh bagian atasku terpampang dengan jelas tanpa penutup apapun karena dia telah berhasil menarik dengan paksa selimut yang kugunakan untuk menutupi diriku,dengan cepat ku gunakan kedua tanganku untuk menutupi gundukan gunung kembar yang terpampang nyata dihadapannya.
Diraihnya kedua tanganku dan di cengkeram kuat,kini aku benar-benar tak mampu melindungi diriku sendiri dari serangannya.Sapuan lidahnya di area sensitifku bagian atas membuatku tak mampu menahan untuk mengeluarkan ******* kecil yang tanpa sadar keluar dari mulutku.
"Aaahhh....mas....!"
Aku merasa sensasi hangat mulai mengalir dan membanjiri daerah inti sensitifku dibawah sana.
Tangan serta lidahnya tak hentinya menjamah apapun dari seluruh tubuhku,kini tangannya mulai meraba perut hingga kenawah.Mencoba menarik resliting celana jeans yang ku kenakan,dengan cepat tanganku menghentikan tangannya dia melihatku menggeleng.
"Kenapa!"
Tanyanya kesal.
"Jangan! kamu jangan serakah untuk buru-buru memiliki semuanya mas!"
Segera dia ambruk di sampingku,mendengus dengan kesal.
Dengan cepat kuraih kembali selimut untuk menutupi tubuhku yang kini mulai kedinginan.
"Kamu tega mengiksaku!"
Ucapnya dengan kesal padaku,kami sama-sama terlentang dengan bertelanjang dada hanya bedanya tubuhku tertutup oleh selimut sedangkan dia tidak.
"Maaf mas,aku belum bisa memberikan apa yang kamu mau sekarang."
__ADS_1
Ucapku padanya sambil membelai lembut rambut diarea keningnya dengan posisi memiringkan tubuhku kearahnya sambil tanganku yang lain memegang selimut yang menutupi tubuhku,dia hanya terdiam dengan mata terpejam.
"Jangan menyentuhku Maura! atau aku akan benar-benar memangsamu!"
Ucapnya padaku,terdengar seperti sedang mengancamku.
"Apakah kamu mulai percaya padaku?"
Tanyanya sambil memandangku,kini tubuh kami saling berhadapan dengan jarak yang cukup lumayan aman.
"Kenapa bertanya begitu?"
Kini tangannya menyentuh jemariku dan memainkannya.
"Karena kamu sudah memberikan separuhnya untukku,"
"Kamu yang memaksa memintanya! bukan aku yang dengan suka rela memberikannya!"
Jawanku kesal.
"Tapi kurasa kamu menikmatinya."
Dia kembali menggodaku membuatku tertunduk malu karena ucapannya yang memang benar adanya.Meski degan terpaksa namun aku merasa menikmati setiap sentuhan yang memabukkan darinya.
Dia memelukku dan kembali mencium keningku sangat lama,hingga hampir saja menimbulkan kembali percikan gelombang panas yang pasti akan terjadi lagi bahkan lebih menyeramkan dari yang baru saja terjadi jika aku tidak mencegahnya dengan segera mendorong tubuh kekarnya yang kini masih bertelanjang dada.
"Ah,kamu!"
Ucapnya dengan kesal lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi meninggalkanku diatas tempat tidurnya.
"Malam ini kita menginap disini saja,aku sudah bilang sama mama tadi."
Ucap mas Rio sambil duduk di sampingku.
"Asalkan janji tidak macam-macam padaku!"
Ancamku padanya.
"Iya.....!"
Jawabnya sambil menarik tubuhku berbaring bersama disampingnya diatas tempat tidur.
"Tidurlah!"
Mas Rio segera bangkit saat terdengar bunyi dering hapenya.
"Halo!"
"Baiklah,ikuti terus pergerakannya!"
Lalu di letakkannya hape diatas nakas,kemudian dia keluar dengan membawa piring kotor bekas makam malam kami tadi.
"Sayang,ayo bangun!"
Dikecupnya kening dan bibirku secara bergantian oleh mas Rio saat aku mulai membuka mata.
__ADS_1
Terlihat mas Rio yang masih mengalungkan handuk di lehernya dengan rambut basah,sepertinya dia baru selesai mandi.
"Mandi san! setelah sholat subuh kita pulang kerumah mama."
Ucapnya sambil memainkan rambutku yang masih kusut diatas bantal.
Rasanya aku masih malas untuk bangun karena alarm dihapeku yang belum berbunyi,meski kini mata sudah terpejam namun raga ini serasa enggan untuk bangkit.
"Mau bangun sendiri atau aku bangunkan?"
Tanya mas Rio menggodaku,laku menarik selimut yang menutupi tubuhku dan ikut masuk kedalamnya sambil memeluk tubuhku.
"Lepaskan! aku akan segera bangun,tapi lepaskan dulu....!"
Pintaku dengan kesal.
"Cium dulu....!"
Pintanya sambil memanyunkan bibirnya kearahku dengan tangan tetap memeluk.
"Nggak mau! aku belum gosok gigi,aku masih bau!"
Bukannya melepaskan pelukannya,justru kini dia malah menindih tubuhku lalu dengan cepat ******* bibirku dengan rakus.
"Mmmph!"
Aku bahkan tak diberi kesempatan untuk bernafas,dia menciumku semakin dalam dan sangat lama membuatku hampir mati kekurangan oksigen.
"Sana,mandilah!"
Ucapnya sambil melepaskanku dengan kesal lalu merebahkan dirinya terlentang diatas tempat tidur.
"Kira-kira siapa yang melakukannya pada Jesi kalau bukan kamu mas?"
Tanyaku pada mas Rio yang sedang mengendarai mobil yang sedang kami tumpangi saat dalam perjalanan pulang menuju rumah mama.
"Orang suruhan Pras sedang menyelidikinya."
Jawab mas Rio sambil menatapku sesaat sambil tersenyum.
"Kenapa melihatku seperti itu!"
Tanyaku kesal dengan tatapan matanya yang seolah sedang menggodaku itu.
"Sayang,apakah kamu sudah melihat dirimu sendiri dicermin pagi ini?"
"Iiiih,nyebelin kamu mas!"
Kucubit kecil pinggangnya,mas Rio hanya mengaduh sambil terkekeh melihatku.
"Untung aku pakai hijab,kalau tidak bisa jadi bahan pembicaraan aku di sekolah.Apalagi kak Rendi kalau tau aku akan di buli habis-habisan olehnya!"
Aku benar-benar kesal tadi saat selesai mandi dan melihat diriku sendiri di cermin,begitu banyak tanda merah di leher serta dadaku jejak kenakalan suamiku semalam.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1