Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Hendak memangsa


__ADS_3

Kami segera masuk kedalam,mami yang terlihat sangat bahagia melihat kedatangan kami langsung mengajakku duduk di sofa menanyakan kabar kami,bagaimana ini dan itu,bla,bla,bla,bahkan aku sampai bingung untuk menjawabnya.


"Mi.....biarkan mereka beristirahat dulu,jangan ganggu mereka dulu!"


Mami hanya tertawa kecil saat menyadari tingkahnya sendiri padaku.


"Maaf ya....mami senang sekali setiap anak-anak mami berkunjung kesini,soalnya mami kesepian sekali sejak Reina pindah dan Rio juga pergi dari rumah."


Ucap mami mempersilahkan kami untuk beristirahat.


Mas Rio langsung menuntun untuk membawaku kekamarnya,kami segera bergantian mandi lalu sholat ashar berjama'ah seperti biasa yang sering kami lakukan setiap ada waktu untuk sholat berjama'ah.


"Istirahatlah jika kamu lelah!"


Ucap mas Rio padaku sambil kami membereskan sajadah dan alat ibadah kami masing-masing seusai sholat.


"Mas Mau kemana?"


Tanyaku padanya sambil meletakkan mukenaku diatas tempatnya semula.


"Kamu mau ikut?"


Tanyanya menawarkan.


"Kemana?"


Tanyaku lagi padanya.


"Berenang!"


Jawabnya sambil menyelipakan rambutku yang terurai kebelakang telingku membuatku jadi salah tingkah dibuatnya.


"Mau ikut tidak,hemmmm?"


Bisiknya lagi ketelingaku.


"Tidak!aku tidak bisa berenang,"


Jawabku sambil membalikkan tubuhku dan berjalan menjauh darinya menjaga jarak aman.


"Benarkah?"


"Ehem!"


"Mau aku ajari?"


"Tidak,terima kasih!"


"Yasudah!"


Ucapnya sambil berjalan keluar dari kamar meninggalkanku sendirian dikamarnya yang begitu luas.


Ini memang bukan pertama kalinya aku masuk kekamar ini,jadi aku tidak akan lagi tersesat saat akan kekamar mandi seperti saat pertama kali masuk kemari.


Aku berjalan kearah jendela kaca besar didekat sofa,ada sebuah pintu menuju balkon kamar ini yang coba kubuka.


Ternyata pemandangan dari balkon kamar mas Rio langsung menuju ke kolam renang dimana mas Rio sekarang berada,kulihat dengan lihai seorang laki-laki bertelanjang dada yang kini telah menjadi suamiku.

__ADS_1


Seorang pelayan pria mengantarkan minuman untuknya.


Mas Rio melihatku dari bawah saat menepi di tepian kolam sambil melambaikan tangan mengisyaratkan agar aku segera turun dan ikut berenang bersamanya,namun kutolak dengan mengelengkan kepala.


Aku lebih memilih menonton tivi dikamar saja dari pada harus ikut berenang dengannya.


Kunyalakan tivi yang besarnya dua kali lipat lebih besar dari tivi yang ada di dalam kamarku,kucari chanel yang menayangkan kartun kesukaanku berwarna kuning kotak atau dua anak kembar botak yang entah sampai kapan akan lulus dari bangku taman kanak-kanak.


Aku terbangun dan menggeliatkan tubuhku diatas sofa dengan tubuhku yang tertutup selimut,kulihat tivi sudah tidak lagi menyala namun kamar masih terlihat sepi.Tak kulihat tanda-tanda keberadaan mas Rio disini.


Lalu siapa yang menyelimutiku?


Tanyaku dalam hati.


Saat mas Rio masuk kedalam kamar,aku sudah bangkit dari pembaringanku di atas sofa.


"Tadi ada telfon dari Dimas!"


Ucapnya memberitahuku.


Segera kuraih hapeku yang tergeletak diatas meja depan sofa tempatku tadi tertidur.


Begitu kulihat ternyata benar,ada beberapa panggilan tak terjawab dari Dimas,Medina,dan Jesika serta chat dari kak Roi,Medina,Jesika,Yasmin dan juga Dimas.


Aku hanya diam memandangi wajah mas Rio,memastikan ekspresi wajahnya saat ini.


Seperti yang kulihat saat ini wajahnya datar-datar saja,tidak terlihat seperti sedang marah seperti kemarin-kemarin ketika aku mendapat chat dari Dimas.


"Mas tidak marah?"


Tanyaku dengan hati-hati,karena takut pertanyaanku justru akan menjadi boomerang untukku.


"Tidak!"


"Benarkah?"


Tanyaku lagi memastikan sambil duduk di sampingnya yang kini sedang duduk santai memainkan hape di tepi ranjang.


Dia hanya diam memandang kearahku sambil meletakan hapenya dengan sembarang ketempat tidur.


Aku yang tidak siap dengan serangan mendadaknya langsung dibanting keatas tempat tidur tanpa perlawanan.


Kini dia berada diatas tubuhku,aku tak berdaya dibawah kungkungannya dengan kedua tangannya yang sudah mencengkeram kedua tanganku dan menyumpal mulutku dengan bibirnya serta lidah yang sudah bermain dengan bebas masuk kedalam mulutku.


Aku tak berdaya dibuatnya,hanya bisa berusaha meronta supaya segera terlepas olehnya namun apa daya kekuatanku tak sebanding dengannya,kini bibirnya mulai turun ke cekunga leherku menggigit pelan disana membuatku menggigit bibir bawahku sendiri karena rasa sakit bercampur geli disana.


"Lepasin mas.....!"


Pintaku memohon padanya agar dia berbaik hati segera melepaskanku dari keadaan seperti ini.


Mas Rio perlahan mengendurkan cengkeraman tangannya namun masih tetap mengungkungku dibawah tubuhnya,tubuhnya yang jauh lebih besar dariku bertumpu pada siku dan lututnya sendiri agar tidak langsung ambruk diatas tubuhku.


"Apa perlu aku melakukannya sekarang? agar kamu tau posisimu!"


Bisiknya ditelingku,kata-katanya seperti sedang mengancamku.


"Maaf mas,aku tidak bermaksud membuatmu marah! sungguh aku tidak ada hubungan apapun dengan laki-laki lain selain dirimu,sungguh!"

__ADS_1


Dengan diiringi lelehan air mata,ucapku setengah memohon agar apa yang dilakukan padaku saat ini segera disudahi karena aku benar benar takut melihatnya seperti ini.


Mas Rio segera bangkit lalu terduduk di sampingku,dia hanya terdiam lalu membantuku bangkit untuk duduk disampingnya.


"Maaf,aku sudah membuatmu takut!"


Ucapnya lirih sambil menyeka air mata yang masih mengalir dipipiku dengan jemarinya.


Aku hanya terdiam dengan tatapan waspada,kini aku benar-benar merasa takut saat berada didekatnya.


Takut jika dia akan melakukan hal yang lebih menakutkan dari apa yang pernah dia lakukan padaku.


Bahkan aku sering kali dibuatnya bingung dengan sikapnya yang sering kali berubah-ubah padaku.Terkadang dia begitu manis dan lemah lembut,namun terkadang dia bagaikan singa lapar yang hendak memangsaku.


Aku sering kali kurang waspada ketika dia sedang bersikap manis namun dengan tiba-tiba dia seakan berubah menjadi orang lain yang sungguh berbeda sifat.


Aku masih terisak saat kedua tangan mas Rio menyentuh pipiku dengan tanpa henti meminta maaf padaku namun masih tak ku gubris.


"Aku harus apa,supaya kamu mau memaafkanku?"


Tanyanya lirih padaku,perkataannya seperti sudah putus asa.Tapi aku masih tetap diam dengan air mata yang tak hentinya mengalir.


"Aku mohon,maafkan aku! katakanlah apapun akan kulakukan dan akan kuberikan supaya kamu mau memaafkanku."


Ucapnya lagi padaku,sekarang dia berusaha merayuku.


"Kamu mau apa dariku?"


Bisiknya lagi sambil menyeka kembali air mataku.


"Tinggalkan aku mas,aku hanya mau sendiri sekarang!"


Jawabku sambil terisak.


"Tidak!"


Jawabnya sambil berdiri,lalu duduk lagi dan memegang kepala dengan kedua tangannya sambil tertunduk.


"Biarkan aku menenangkan diri sejenak mas,tinggalkan aku sebentar saja!"


Ucapku lirih sambil memandanginya yang sepertinya mulai frustasi.


"Berapa lama?"


Tanyanya sambil melihat kearahku,kulihat matanya memerah.


"Keluarlah dulu,nanti kembalilah saat kita akan sholat maghrib berjama'ah!"


Pintaku padanya,kini aku mulai berhenti menangis.


"Kamu akan memaafkanku?"


Tanyanya lagi padaku.


"Entahlah,"


Jawabku diiringi langkah kaki mas Rio keluar dari kamar.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2