Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Hukuman yang memabukan


__ADS_3

Setelah sekian lama memijat kurasakan pegal yang dirasakan oleh mas Rio pada lengannya kini mulai mengalir berpindah ketanganku.


Mas Rio memiringkan tubuhnya menghadap padaku sambil mengganti dengan salah satu tangannya yang lain untuk kupijit.


Dia membetukkan posisi tubuhnya,tangan yang sudah selesai dipijit kini dilingkarkan pada pinggngku dari arah belakang.


"Tolong tangannya dikondisikan ya!"


Ucapku kesal padanya.


Bukannya menyingkirkan tangannya,dia hanya diam sambil menatapku dengan menyunggingkan senyuman yang menurutku menakutkan.


Baru sebentar salah satu tangannya kupijit,kini kepalanya sudah dengan cepat berpindah kepangkuanku.


"Pijit sini juga!"


Ucapnya sambil meletakkan tanganku diatas kepalanya.


Dengan pelan kupijit kepalanya karena takut akan menyakitinya jika terlalu kencang.


"Kamu sudah makan banyak kenapa masih tidak ada tenaga!"


Protesnya karena merasa pijitanku kurang berasa untuknya.


Perlahan kukencangkan pijitanku di kepalanya,membuatnya terpejam karena merasa nyaman.


"Ra!"


Panggilnya padaku.


"Ya?"


Jawabku membuatku menghentikan pijitanku pada pelipisnya.


"Boleh aku bertanya padamu?"


"Tentang apa?"Tanyaku kembali padanya sambil kembali melanjutkan aktifitas memijatku di kepalanya.


"Perasaanmu padaku!"


Kihentikan lagi pijatanku yang kini berhenti lagi tepat pada pelipis.


"Maksudnya,perasaanku.....padamu? saat ini?"


Tanyaku padanya.


"Ya!"


Ucapnya sambil membuka mata lalu mendongak melihat wajahku.


"Aku.........kesal,karena mataku sudah mengantuk tapi masih tetap disuruh memijat kepalamu!


Jawabku sambil mengencangkan pijatanku dan juga mempercepat durasinya.


"Jadi kami kesal karena disuruh memijat kepala?"


"Iya! boleh berhenti sekarang? aku lelah!"


Ucapku memohon padanya.


"Baiklah...."


Aku begitu bahagia mendengarnya,meski sepertinya kata-kata yang dia ucapkan terdengar menggantung dan belum selesai.


"Baiklah,sekarang pijat bagian kaki."


Perintahnya sambil meluruskan kakinya sejajar.


Aku kira dia akan mengatakan 'baiklah,istirahatlah!' tapi ternyata buka disuruh berhenti tapi hanya pindah tempat tugas saja! ih menyebalkan sekali dia.

__ADS_1


"Jangan menggerutu,cepat kerjakan!" ucapnya padaku membuatku terkejut dan langsung memijt kakinya yang masih dalam keadaan terlentang.


"Bukankah seharusnya mas tengkurap?"


"Kerjakan saja salah satu hukumanmu dengan baik!"


"Apa! salah satu? memangnya ada berapa untukku?"


Aku begitu tercengang,lama-lama merasa heran dengan orang ini.


"Kenapa hanya sampai lutut! kamu tidak tau mana saja bagian kaki?"


Dia nampak marah saat aku memijat kakinya hanya sebatas lutut kebawah.


Karena takut aku langsung menainan tanganku sampai ke pahanya.


"Jangan terlalu naik! jika kamu menyenggolnya sedikit saja,maka akibatnya akan sangat fatal untukmu!"


Ancamnya padaku saat tanganku mulai memijit bagian paha merambat keatas lalu kembali turun hingga kejari-jari kakinya.


Perlahan aku mulai merasa jika sepertinya dia sedang sengaja mengerjaiku sejak tadi.


Pijatanku pada sepanjang kaki jenjangnya perlahan mulai kupelankan saat kulihat matanya sudah terpejam dan juga karena tangan serts jari-jariku mulai lelah memijitnya sedari tadi.


"Kamu capek!"


Suaranya terdengar menggelegar mengagetkanku dalam kesunyian sontak membuat pijatanku pada kakinya mulai ku paksa untuk kencang kembali.


"Tidak!"


Dustaku,meski sejujurnya aku sangat lelah dan mengantuk.


Ingin rasanya segera terlelap dibalik selimut hangatku.


"Berhentilah!"


Ucapnya sambil sorot matanya nampak mengintai sesuatu.


"Apakah aku sudah di maafkan?"


Tanyaku dengan kepercayaan diri yang menjulang tinggi melebihi gedung tertinggi yang ada di kotaku.


"Hah,dimaafkan? bahkan itu baru satu hukuman atas kesalahanmu tadi siang! belum lagi kesalahan yang baru saja kamu lakukan."


Jawabnya sambil menyunggingkan senyum penuh dendam padaku.


"Kenapa jahat sekali padaku? bukankah tempo hari kamu bilang sayang padaku?"


Protesku padanya sambil merengek berusaha membujuknya agar segera memberiku pengampunan.


"Semuanya akan dengan instan kumaafkan dengan imbalan satu permintaanku yang selalu kamu tolak itu,dan......"


"Tidak! aku tidak mau....!"


Jawabku segera memotong kata-katanya.


"Baiklah,kalau begitu kamu nikmati saja hukumanmu secara bertahap!"


"Kenapa hukumanku begitu berat? padahal aku hanya melakukan satu kesalahan,orang tuaku juga tidak menghukumku sepertimu.Bahkan mereka selama ini tidak pernah menghukumku atas apapun yang kulakukan!"


Kumajukan bibirku dan aku mulai merajuk.


"Apa kamu bilang? satu kesalahan? coba sebutkan apa saja yang kamu lakukan seharian ini hingga membuat semua orang panik! biar aku yang menghitungnya satu........per....satu!"


Ucapnya sambil menempelkan keningnya kekeningku.


"Aku pulang terlambat!"


Ucapku dengan tenang.

__ADS_1


"Satu,trus!"Ucapnya mulai menghitung.


"Memang ada lagi?"


Tanyaku sambil menyipitkan mataku.


"Kamu pikir saja sendiri! atau mau aku bantu untuk mengingatnya?"


Tangannya mulai beraksi menyentuhku,dengan spontan ku tepis tangannya karena terkejut.


"Iya iya! aku meminya pak Pras meninggalkanku dirumah Jesi,dan aku malah pergi dengan Medina hingga lupa waktu,aku tidak bisa memberi tahu siapapun kemana aku pergi karena ternyata hapeku mati."


Ucapku merasa sudah menyebutkan semua kesalahanku seharian ini padanya.Kulihat dia menghitung dengan jarinya sendiri hingga semia jarinya tertekuk tanpa sisa.


"Banyak sekali? pasti mas Rio salah menghitung!"


Protesku sambil membuka kembali tekukan jari-jari pada tangannya.


"Hei,aku ini gurumu! sudah pasti aku jauh lebih pandai dalam berhitung ketimbang dirimu."


Aku hanya bisa pasrah mengalah padanya daripada harus berdebat tanpa berkesudahan,lagipula mataku sudah mulai mengantuk.Entah sudah berapa kali aku menguap di hadapannya sejak tadi.


"Istirahatlah!"


Ucapnya padaku.


Segera kuberahkan tubuhku disampingnya berbaring lalu ku tarik selimut untuk menutupi tubuhku.


"Sini,mendekatlah!"


Dia menarik lenganku untuk mendekat pada tubuhnya.


"Apakah ini juga termasuk hukuman?"


Tanyaku padanya yang mulai melingkarkan lengannya untuk memeluk tubuhku begitu lekat dengannya tanpa lagi guling pembatas yang entah sudah berada dimana tempatnya sekarang.


"Hmmmm!"


Jawabnya dengan mata terpejam.


Hatiku sudah tak dapat diceritakan lagi bagaimana rasanya sekarang,darahku seperti mendidih mengalir keseluruh tubuhku dan jantung ini serasa mau melompat keluar dari dalam dadaku saat tubuhku berada dalam pelukannya.


"Cepatlah tidur!"


Bisiknya ketelingaku,tangan yang tadinya hanya diam memeluk tubuhku kini mulai aktif mengusap punggungku dengan lembut menciptakan sensasi seperti tersetrum aliran listrik.


Bagaimana aku bisa tidur jika tangannya usil begini! Gumamku dalam hati.


Selama satu tangannya berada di punggungku satu tangan yang lainnya sudah berada di depan dadaku menyusup masuk kedalam piyamaku dan wajahnya sudah tenggelam di leherku.


Aku hanya bisa diam menikmati sentuhannya yang memabukkan ini,dia semakin liar saat aku mulai mengeluarkan suara yang membuatnya semakin bersemangat.


"Ingat batasanmu mas!"


Ucapku disela-sela lenguhanku,sedangkan yang diajak bicara hanya diam sibuk dengan kegiatannya untuk mengerjaiku.


"Maura putri anggara......!"


Bisiknya dengan kesal di telingaku sambil menghentikan aksinya dan kini hanya diam memelukku erat.


Saat aku mendongak melihat kearahnya,nampak kekecewaan tergurat jelas di wajahnya.


"Ra....."


Panggilnya padaku sambil memandangi wajahku dan mempermainkan rambutku.


"Ya....?"


"Benar kamu tidak mencintaiku?"

__ADS_1


Tanyanya padaku,tangannya masih sibuk menggulung-gulung rambut lurusku.


BERSAMBUNG......


__ADS_2