Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Memenangkan tantangan


__ADS_3

Pagi-pagi setelah sholat Subuh mas Rio sudah bersiap dengan pakaian olah raganya,begitu juga denganku yang hari ini tiba-tiba saja mau ketika mengajakku berolah raga bersamanya.


Kami mulai dengan berjalan pelan di area halaman rumah saja,beberapa pelayan sedang sibuk melakukan tugas masing-masing.Mereka segera menunduk dan menyapa kami setiap melewati mereka,bibirku ini rasanya sampai capek menjawab sapaan dari mereka sedangkan mas Rio dengan santainya melenggang begitu saja tanpa menjawab sapaan mereka.


"Mau coba jalan-jalan sekeliling?"


Tanya mas Rio padaku.


"Boleh!"


Jawabku bersemangat.


"Selamat pagi tuan muda,nona Maura! perlu saya temani?"


Sapa pak Pras sekaligus menawarkan diri untuk mengawal kami.


"Tidak perlu!"


Jawab mas Rio dengan cepat.


"Baiklah tuan muda,"


Ucap pak Pras sambil menunduk pada kami saat kami melewatinya.


Seorang penjaga gerbang berseragam serba hitam dengan cepat membukakan pintu gerbang bahkan sebelum kami sampai dingerbang.


Kami berlari-lari kecil mengelilingi komplek area rumah mas Rio yang masih sepi atau memang selalu sepi.


"Mas,Sasa apa kabarnya ya?"


Tanyaku padanya dengan nafas sedikit terengah masih sambil berlari kecil mengiringinya.


Mas Rio seketika menghentikan langkah kakinya.Aku ikut berhenti karena dia berhenti berlari.


Mas Rio terdiam nampak sedang menarik nafas panjang sambil mendongakkan kepalanya.


"Dia....sudah meninggal dunia!"


Jawabnya sambil kini melanjutkan kembali berlari kecil meninggalkanku yang masih diam terpaku.


Aku masih tidak percaya dengan jawaban dari mas Rio,bulu kudukku meremang mengingat tentangnya.


Aku hanya bisa berjalan pelan sambil kembali membayangkan wajah Sasa kecil yang sempat menolakku namun akhirnya tersenyum padaku ketika kami hendak berpisah karena hatinya yang mulai melunak menerimaku bersama kak Rio yang dia cintai,bahkan dia punya harapan saat dewasa nanti akan menikah dengan orang yang saat ini sudah menjadi suamiku.


Aku masih berjalan pelan sambil melamun,membayangkan wajah ceria Sasa.Tanpa kusadari tubuhku menabrak tubuh tinggi mas Rio yang sedang berdiri dihadapanku.


"Aduh!"


Ucapku mengaduh sambil melihat seorang pria yang masih berdiri sambil diam memandang wajahku itu.

__ADS_1


"Kenapa berhenti tiba-tiba!"


Gerutuku padanya yang masih saja diam tak mengatakan apapun.


"Aku sudah sejak tadi berdiri disini menunggumu yang terus melamun sambil berjalan!"


Jawabnya terdengar sedang kesal.


"Benar kah?"


Tanyaku tak percaya.


"Sasa meninggal karena apa mas?"


Tanyaku penasaran tentang Sasa.


"Sebenarnya dia sudah sangat lama menderita penyakitnya,tapi keluarganya tidak ada biaya untuk membawanya berobat.Saat kami bertemu dengannya dan juga keluarganya,penyakitnya sudah semakin parah dan harapan untuk sembuh sangat tipis.Yayasan kami sudah berusaha membantu semampunya berusaha mengupayakan kesembuhan Sasa,namun Allah berkehendak lain."


"Waktu kita bertemu dengannya,sepertinya dia sedang baik-baik saja!"


"Iya,dia selalu berusaha menutupi rasa sakitnya dengan senyuman."


"Apakah dia tau tentang penyakitnya?"


"Tau,bahkan semua teman-temannya juga tau.Tapi semua teman-temannya tidak pernah mengucilkannya dan menganggapnya seperti anak yang lain."


"Beberapa hari setelah pernikahan kita,saat itu aku masih sempat menemuinya dan memberitahukan bahwa kita sudah menikah!"


"Apa keadaannya memburuk setelah mengetahui pernikahan kita?"


"Tidak,saat itu keadaannya sudah sangat tidak baik-baik saja.Dia menginginkan kita segera menikah dan aku memberu tahunya tentang pernikahan kita,dia terlihat senang dan mendo'akan tentang kita.Namun esok harinya aku mendapat kabar duka tentangnya."


Aku benar-benar tak sanggup lagi mendengar cerita tentang Sasa,tanpa sadar air mataku meleleh melewati pipi.


Mas Rio menyeka air mataku dan berusaha menenangkanku,namun rasa bersalah ini pada gadis kecil yang begitu kuat membuatku tak bisa menahan aliran air mataku.


"Sudahlah,kita do'akan saja Sasa agar tenang disana!"


"Aku merasa sangat bersalah padanya mas!"


"Aku tau,tapi semua ini bukan salahmu juga kan?"


Ucap mas Rio tersenyum sambil menyeka kembali air mataku.


Mas Rio memintaku berhenti menangis lagi dan mengajakku untuk segera pulang,karena dia bilang akan mengajakku kesuatu tempat untuk memperkenalkanku pada seseorang yang spesial katanya.


Karena penasaran aku langsung menuruti perintahnya dan perlahan berhenti menangis,mas Rio memberiku tantangan untuk mengajakku berlomba lari siapa yang lebih cepat sampai rumahnya maka boleh menghukum yang kalah.


Aku sangat bersemangat mendengar tantangannya karena sekali-sekali aku ingin menghukumnya juga nanti saat aku berhasil memenangkan tantangan darinya ini.

__ADS_1


Aku berusaha berlari sekuat tenagaku,namun aku tetap saja kalah darinya.Baik secara fisik maupun kemampuan sudah jelas pasti aku akan kalah dan dia yang akan memenangkan tantangan ini nantinya.


Namun takdir berkehendak lain,saat pintu gerbang rumah mas Rio sudah mulai nampak meski dari kejauhan kupercepat lariku sekuat tenaga berusaha menyusulnya.


Kulihat mas Rio mulai memelankan laju larinya,entah karena sengaja untuk mengalah dariku atau memang tenaganya yang sudah habis terkuras karena larinya yang lebih kencang dariku ketika diawal.


Akhirnya kami berhasil mencapai titik finish,aku lebih dulu sampai di depan pintu gerbang dengan tawa bahagia karena merasa menang.


Sedangkan mas Rio dengan terengah-engah berlari pelan menyusul dibelakangku dengan wajah penuh kekecewaan,namun tetap tersenyum bangga padaku.


"Yeah......aku menang!"


Teriaku penuh dengan kesombongan sambil berjalan melenggang memasuki pintu gerbang yang sudah dibukakan lebar oleh penjaga,disusul oleh mas Rio yang berjalan pelan sambil menggeleng pelan melihatku tertawa penuh kemenangan.


"Aku sudah tidak sabar ingin menghukummu! hahahahha,"


Tawaku meledak seiring kulihat wajah mas Rio yang terlihat begitu kecewa karena kekalahannya.


"Ternyata kamu larinya cepet juga ya!"


Pujinya padaku.


"Makanya ingat umur pak! hahahaha!"


Aku kembali menetawakannya.


"Enak saja,kalau aku tidak mengalah mana mungkin kamu akan menang!"


Jawabnya sambil menggelitik pinggangku.


Aku hanya bisa tertawa karena merasa geli karena ulahnya,mas Rio ikutan tertawa saat melihatku tak berdaya mendapat serangan di bagian pinggang dan segera berlari menjauh saat berhasil terlepas darinya.


"Benarkah? terima saja kekalahan pak Mario,jangan ngaku-ngaku mengalah begitu!"


Teriakku saat aku merasa berada dijarak aman yang lumayan jauh darinya.


Namun dengan secepat kilat dia berhasil menyusul dan menangkap tubuhku yang terlihat mungil ketika berada didekatnya.


"Masih mau bilang kalau aku bisa kalah darimu?hah!"


Bisiknya lirih saat tangannya berhasil menangkap pinggangku.


"Iya,iya,ampun! tolong lepaskan aku!"


Pintaku memohon padanya,dan dengan cepat segera melepaskan tubuhku diiringi senyuman nakal yang ditujukan padaku.


Mas Rio mengajakku duduk di sebuah bangku yang berada di halaman rumahnya di dekat taman bunga,sepertinya rumah ini dipenuhi oleh taman bunga karena disetiap sisi selalu ada taman yang dipenuhi bunga dan tanaman buah lainnya.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2