Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Teman-teman Samuel


__ADS_3

Kak Reina Keluar bersama dengan kak Aldi berjalan disampingnya,datang pula seorang pelayan lain membawakan suguhan serta minuman untuk kami.


"Kalian belum pulang sejak dari pemakaman?"


Tanya kak Reina pada kami yang memang masih mengenakan pakaian serba hitam dengan percaya dirinya kami sempat berjalan-jalan ke mall.


"Belum kak,tadi kami mampir sebentar belikan ini buat Zarra!"


Jawab mas Rio sambil menyodorkan paper bag ke kak Reina.


"Aku tidak yakin kalian berdua yang beli,kalau Rara yang belikan mungkin masih masuk akal!"


Jawab kak Reina meledek mas Rio yang hanya tersenyum setuju dengan perkataan sang kakak.


"Tuh kan bener!"


Ucap kak Reina sambil membuka isi yang ada di dalam tas belanjaan yang tadi kami bawakan.


"Sayang,bilang terimakasih sama tante dong.....!"


Ucap kak Reina sambil membelai lembut rambut tebal putrinya yang sedang berada dipangkuanku sedang duduk di samping kak Reina.


"Terima kasih ya Ra......,lho! ini apa?"


Tanya kak Reina sambil menunjukkan sebuah box kecil berisi gelang yang kubeli kembar tiga tadi.


"Itu untuk kakak!"


Jawabku sambil memandangnya yang nampak bahagia mendapat perhatian dariku,lalu kak Reina memelukku dengan haru sambil mengucapkan terima kasih.


Kak Reina menawarkan pada kami untuk makan siang bersama dirumah mertuanya,kebetulan hari ini rumah juga sedang tidak ada orang kecuali keluarga kecil kak Aldi.


Kedua orang tua kak Aldi sedang pergi keluar kota karena suatu keperluan,sedangkan Samuel lebih sering pergi keluyuran tidak jelas bersama teman-temannya nakalnya disini. Begitu menurut cerita kak Aldi pada kami setelah selesai makan siang bersama,sedangkan Zarra sudah tertidur lelap setelah sang pengasuh menyuapinya makan siang.


"Samuel katany satu kelas dengan kamu ya?"


Tanya kak Aldi padaku.


"Iya kak,kami satu kelas."


Jawabku sekenanya.


"Bagaimana dia selama sekolah disana?"


Tanyanya lagi mulai menginterogasiku.


"Baik kok kak,sama seperti teman-teman yang lain.Sam sangat mudah akrab dengan siapapun,"


Jawabku berkata apa adanya,karena memang begitulah kenyataannya Samuel selama sekolah bersama kami.


"Apa disana dia mendekati banyak perempuan?"


"Tidak kak! hanya Medina,Jesika dan saya.Setahu saya disekolah cuma kami teman perempuannya."


Jawabku jujur tanpa mengurangi serta menambahkan bumbu apapun dari pertanyaan kak Aldi.

__ADS_1


"Dia mendekatimu juga!"


Tanya kak Aldi sedikit terkejut sambil melihat kearah mas Rio.


"Cuma teman dekat kak...."


Jawab mas Rio membantuku menjelaskan.


"Maaf ya Rio,kalau adikku sering menyusahkan kamu disana."


"Santai saja kak,Sam tidak menyusahkanku kok! Disana dia berubah jinak,hehehe!"


Jawab mas Rio sambil terkekeh.


Disusul tawa kecil kak Reina dan kak Aldi bercanda dengan perkataan jinak yang sempat diucapkan mas Rio tentang Samuel.


Baru saja selesai dibicarakan Samuel datang bersama kedua orang teman laki-lakinya yang langsung saja nyelonong masuk kedalam rumah,bahkan kak Aldi menunjukkan wajah ketidak sukaannya pada kedua teman Samuel.


"Kalian masuk dulu kekamar sana! nanti aku susul,"


Ucap Samuel pada kedua temannya yang langsung berjalan masuk dengan santainya tanpa permisi pada siapapun bahkan kak Aldi sekalipun.


Jadi seperti ini Samuel ketika dirumah? kenapa berbanding terbalik dengan Samuel yang selama ini aku kenal baik dan sopan.


"Hai Ra,kak Rio.....sudah pada lama disini?"


Tanyanya berbasa-basi.


"Sam,sini duduk sebentar!"


Kak Aldi terlihat sangat marah pada Samuel.


"Iya! apa lagi sih kak? kami cuma main biasa kok!"


Ucap Samuel sebelum kak Aldi sempat mengatakan sepatah katapun,sepertinya Samuel sudah tau betul kakaknya akan bicara apa padanya.


"Sam!"


Ucap mas Rio,lalu Samuel memandang kearah mas Rio.


"Iya,iya.....aku janji mereka tidak akan lama,akan aku suruh mereka segera pulang tapi nanti ya....jangan sekarang,aku tidak enak kak!"


Ucap Samuel memohon pada kedua pria di depannya yang sama-sama di panggilnya kakak.


"Baiklah,pergi temani mereka.Nanti akan aku bantu usir mereka!"


Kata mas Rio dengan wajah serius lalu disambut dengan senyum sumringah dari Samuel.


"Tenang mas,pawangnya ada disini.Dia akan tunduk pada pawangnya!"Ucap kak Reina berusaha menenangkan kak Aldi yang terlihat mulai melunak.


"Anak itu! selalu saja begitu,huh!"


Ucap kak Aldi sambil menggelengkan kepala.


"Aku bantu Samuel dulu sebentar ya...."

__ADS_1


Ucap mas Rio padaku sambil berjalan menuju kemana tadi Samuel pergi dan hanya kujawab dengan anggukan kepala.


Benar saja tak perlu waktu lama teman-teman samuel langsung pergi diikuti oleh Samuel yang ikut mengantarkan mereka sampai kepintu depan.


"Ayo Sam berangkat sekarang!"


Ajak mas Rio pada Samuel,membuatku bingung dan bertanya-tanya kemana mereka akan pergi.


"Memangnya kak Rio sudah mau melahirkan sekarang!"


Tanya Samuel kesal lalu duduk di samping kak Aldi dengan pasrah,diiringi gelak tawa mas Rio,kak Reina dan kak Aldi yang sepertinya paham dengan perkataan Samuel.


Hanya aku disini yang diam dengan wajah bingung membuat semua yang ada disini semakin terbahak ketika melihat ekspresiku yang bingung.


Ternyata mas Rio selalu menggunakan alasan meminta Samuel kerumah sakit karena ada yang mau lahiran ketika Samuel sedang bersama teman-teman yang menurut mereka bukan teman yang baik untuk Samuel,namun Samuel selalu saja tidak bisa menolak ajakan mereka.


Kami segera berpamitan pulang kekeluarga Wijaya karena hari sudah sore,pikiranku juga sudah lumayan tenang dan senang karena sudah bertemu dengan Zarra.


Aku terbangun saat kurasakan tubuhku serasa terguncang,aku kira mobil yang kami tumpangi sedang melewati jalanan yang berlubang jadi aku merasa seperti terguncang.


Saat kubuka mata,ternyata tubuhku sedang berad dalam gendongan mas Rio.Dia membopongku menaiki anak tangga didalam rumahnya menuju kamar.


Seketika aku tersentak karena terkejut dan mulai meronta untuk minta diturunkan dari gendongannya.


"Turunkan ku mas!aku bisa jalan sendiri,kenapa tadi tidak membangunkanku?"


Racauku padanya sambil meronta untuk diturunkan.


"Diamlah! atau kita berdua akan terjatuh,sebentar lagi sampai kamar!"


Jawabnya tanpa menurunkan tubuhku dari gendongannya.


Mas Rio masih tetap menggendongku bahkan sampai masuk kedalam kamarnya yang pintunya sudah terbuka lebar.


Setelah membawaku masuk kedalam kamar,segera mas Rio menutup pintu dengan salah satu kakinya.


Diletakkannya aku di atas tempat tidur dengan sangat lembut seperti meletakkan seorang bayi yang baru saja lahir.


"Jika suatu saat nanti kita tinggal ditempat yang terpisah,apakah kamu akan merindukanku?"


Tanyanya padaku yang kini duduk di tempat tudur sedangkan aku masih berbaring disamping tempatnya duduk.


"Mungkin tidak!"Jawabku.


"Kenapa?"


"Entah!"


Jawabku.


"Mungkin.......aku yang akan merindukanmu!"


Jawabnya lalu mengecup pelan ujung bibirku.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2