
Kak Rendi melajukan mobil menuju rumah sakit untuk menjemput kak Rosa,karena hari ini kak Rosa sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit.
Sebenarnya keadaan kak Rosa belum sepenuhnya pulih,namun keadaannya sekarang sudah jauh lebih baik setelah menjalani serangkaian pengobatan.
Kak Rendi hampir setiap hari menyempatkan waktunya untuk datang kerumah sakit meski hanya sebentar menjenguk kak Rosa.
"Terima kasih ya Ra,berkat kamu kini Rosa nampak begitu bahagia bisa dekat lagi sama Rendi."
Kata tante Widia padaku saat kami berjalan dikoridor rumah sakit hendak pulang,sedangkan kak Rendi mendorong kursi roda yang kini diduduki kak Rosa dan om Ridwan papanya kak Rosa yang baru pertama kali ini aku bertemu dengannya sedang berjalan dibelakang kami sambil menenteng tas besar yang sepertinya berisi pakaian ganti kak Rosa dan tante Widia.
Papa kak Rosa memang sangat jarang berada dirumah karena sering kali melakukan perjalanan bisnis keluar negeri.
Saat kami sudah hampir sampai diparkiran tiba-tiba saja handphoneku berdering,ternyata panggilan dari kak Reina.
"Maaf tante ada telfon,saya permisi sebentar mau angkat telfon ya!"
"Iya silahkan."
"Kak,aku angkat telfon dulu ya!"
Kataku pada kak Rendi sambil berjalan agak menjauh dari mereka semua yang masih melanjutkan berjalan menuju parkiran.
"Hallo,Assalamu'alaikum kak Reina...!"
__ADS_1
"Waalaikum salam!"
"Mas....Rio!"
Kututup mulutku dengan tanganku sendiri saat menyadari suaraku terdengar terlalu bersemangat,aku nggak mau membuatnya salah paham.Nanti dikira aku kesenengan lagi di telfon sama dia!
"Iya,ini aku.Maaf aku pinjam hape kak Reina soalnya hape aku kemaren kena air hujan!"
"Iya nggak apa-apa! aku sudah maafin kok!"
Jawabku.
"Benarkah! termasuk untuk kejadian waktu itu?"
"Sebenarnya nggak mendadak,cuma kemarin mau pamit sama kamu lupa! Sudah pulang sekolah?"
"Oiya! ini aku lagi dirumah sakit sama kak Rendi soalnya hari ini kak Rosa pulang,sudah dulu ya telfonnya nggak enak sudah di tungguin!"
"Iya,hati-hati!"
Kami saling menutup telfon setelah mengucapkan salam,lalu aku segera berjalan cepat menyusul kak Rendi dan keluarga kak Rosa ke parkiran.
Ternyata kak Rosa dan tante Widia pulang semobil dengan om Ridwan sedangkan aku dan kak Rendi mengikuti mereka dari belakanh dengan menaiki mobil lak Rendi.
__ADS_1
"Siapa yang telfon! Rio?"
"Iya!"
Jawabku singkat.
"Kenapa jadi jutek gitu? kan habis di telfon pacar!"
"Hah! pacar? kak.....aku sama mas Rio itu nggak pacar-pacaran!"
"Oiya,dia kan calon tunangan kamu ya? bukan pacar!"
Ledek kak Rendi padaku.
Memang antara aku dan mas Rio alias pak Mario tidak pacar-pacaran karena memang kami bukan pacaran tetapi lebih tepatnya dijodohkan.
Meski orang tuaku tidak memaksaku untuk menerima perjodohan ini,namun terpaksa aku menerima perjodohan ini karena tidak mau membuat orang tuaku kecewa serta ini adalah sebagai bukti baktiku untuk mereka yang selama ini telah merawat serta menyayangiku meski aku bukanlah darah daging mereka.
Ditambah lagi kak Rendi yang dulu begitu menginginkan aku untuk menjadi miliknya,membuatku mau tak mau harus menerima perjodohan ini agar dia tak lagi terus menerus mengharapkanku.
Setelah mengantar kak Rosa sampai kerumahnya,kami tak bisa berlama-lama berkunjung kerumahnya karena memang hari sudah semakin sore.Kami memutuskan segera pulang sebelum petang,saat senja baru menyambut kami sudah dalam perjalanan.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1