
Dengan ragu hendak kubuka pesan dari pak Mario namun kembali kuurungkan niatku.
"Bukankah ini hari Minggu,untuk apa pak Mario mengirim pesan padaku? membicarakan soal pelajaran?"
Gumamku sendiri sambil membuka isi pesannya karena penasaran,mungkin saja dia ingin membatalkan perjodohan kami karena bisa saja dia sudah punya calon sendiri.
'Maura jika hari ini ada waktu,bisa kita ketemu?'
Begitulah isi pesan yang beliau kirim padaku,aku segera membalasnya dengan cepat.
'Insya Allah bisa pak,kapan dan dimana?"
'Jika kamu belum sarapan,bersiap-siaplah mandi dan ganti piyamamu.Aku jemput sekarang.'
'Memangnya mau kemana pak?'
'Kita ke taman dekat rumahmu,sambil sarapan ada yang mau aku bicarakan sama kamu. PENTING! aku berangkat jemput kamu sekarang!'
'Siap pak.'
Pesan terkirim namun sudah tak lagi terbaca dan tanda online yang tertera pada profil aplikasinya juga sudah menghilang,mungkin pak Mario benar-benar sudah dalam perjalanan menuju kemari.
Entah hal penting apa yang akan dibicarakan padaku,pasti tidak jauh-jauh dari masalah perjodohan tentunya.
Belum ada lima belas menit sejak pesan terakhir yang kukirim,bel pintu rumahku berbunyi dan tak lama setelahnya kudengar bibi memanggilku.
"Non ada tamu buat non Rara."
"Iya bi,terima kasih ya."
"Sama-sama non."Jawabnya sambil berlalu menuju dapur.
Saat aku berjalan menuju ruang tamu kudengar suara pak Mario sedang bercakap-cakap dengan mama dan papa.
"Memangnya nak Rio mau ajak Rara kemana?"
Tanya papa pada pak Mario.
"Cuma ke taman deket sini saja kok om."
"Ini Raranya."
Ucap mama menggandeng lenganku saat melihatku muncul dari dalam.
__ADS_1
"Yaudah kalian hati-hati,om titip Rara dan tolong jaga anak om ya nak Rio."
"Iya om,kami pamit dulu."
Pak Mario mencium punggung tangan mama dan papa lalu kami segera pergi setelah berpamitan.
Pak Mario melajukan motornya menuju sebuah taman dekat komplek rumah,setelah memarkirkan motornya pak Mario mengajakku makan bubur ayam.
"Bang,buburnya dua ya."
Pak Mario memesan dua porsi bubur ayam pada abang tukang bubur.
"Satu saja bang."
Kataku.
"Kenapa?"
Tanya pak Mario padaku.
"Maaf pak,saya nggak suka bubur."
"O.....yakin nggak mau? bubur disini enak banget lho!"
"Kenapa nggak bilang kalau nggak suka bubur?"
"Bapak nggak nanya."
Pak Mario buru-buru menghabiskan bubur ayam dihadapannya,setelah membayar kemudian mengajakku mencari sarapan yang aku sukai.
"Kamu mau sarapan apa?"
"Hmmmmm.....belum tau,jalan saja dulu nanti kalau ada yang cocok kita mampir makan."
"Terus kalau nggak ada yang cocok nggak makan?"
Aku hanya mengangkat kedua bahuku karena sebenarnya sedang tidak ada selera sama sekali untuk makan.
"Sarapan apa aja boleh yang penting perut jangan sampai kosong,nanti mama dan papamu mengira aku nggak mau beliin kamu sarapan."
"Iya pak guru."
Jawabku kesal sambil menghembuskan nafas secar kasar.
__ADS_1
"Nanti badan kamu makin kurus."
Pak Mario melihat kearah tubuhku,melihat dari atas sampai kebawah membuatku ikutan melihat tubuhku sendiri.
"Emangnya saya sekurus itu ya pak?"
"He'em."
"Masa sih?!"
"Iya,masa saya bohong."
"Tadinya mau sarapan nasi goreng buatan mama dirumah,malah bapak ngajak kemari."
Gerutuku.
"Trus,nggak mau sarapan disini?"
Aku hanya menggelengkan kepala.
"Yakin? itu ada siomay,nggak mau coba?"
"Nggak!"
"Yaudah kalo gitu aku antar kamu pulang sekarang biar sarapannya nggak kesiangan."
"Lho! bukannya pak Mario ajak saya kesini katanya ada yang mau dibicarakan,kok malah buru-buru pulang?"
"Kalau kamu telat sarapannya nanti sakit terus pingsan lagi disekolah kayak dulu."
"Sebenarnya hal yang mau bapak bicarakan tadi penting atau tidak?"
"Penting,cuma aku nggak mau kita ngobrol sedangkan salah satu dari kita dalam keadaan lapar."
"Mmmmm....."
Aku berfikir sejenak lalu mataku tertuju pada sebuah warung nasi uduk dan tiba-tiba rasa lapar menghampiriku.
"Sepertinya nasi uduk enak."
"Oke,ayo."
Setelah menghabiskan nasi uduk satu porsi,pak Mario mengajakku duduk disebuah kursi dibawah pohon yang rindang.Hawa sejuk diantara pepohonan dan bunga-bunga membuat semakin asri suasana sekitar.
__ADS_1
Bersambung.....