Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Kak Rendi


__ADS_3

Untuk apa aku begitu pusing memikirkannya toh aku masih anak SMA,aku fikir tidak mungkin mama dan papa akan menjodohkanku dalam waktu dekat.Jika aku memilih tinggal,mungkin mereka akan menjodohkanku setelah aku lulus kuliah dan itu masih beberapa tahun lagi.


Hari-hari lalui dengan belajar lebih giat agar kelak aku bisa lulus dengan nilai yang memuaskan,agar aku bisa masuk universitas kelak.Namun hingga hari ini aku masih belum membahasnya dengan mama dan papa tentang niatku untuk masuk perguruan tinggi mana.


Malam ini setelah makan malam rasa kantuk sudah mulai menyerang mataku,rasanya tubuh ini benar-benar lelah karena seharian ini aku baru saja jalan-jalan dengan Medina dan Jesi ke sebuah mall untuk merayakan kenaikan kelas kami dengan jalan dan nonton.


Kurebahkan tubuhku keatas tempat tidurku yang nyaman,kupejamkan mata agar segera terlelap namun saas juatru kudengar pintu jamarku diketuk.


'Tok,tok,tok'


"Siapa?"


Tanyaku,namun tak ada sahutan justru hanya terdengar suara ketukan pintu yang terdengar berulang-ulang membuat rasa kantukku terganggu.


Kubuka pintu kamarku dan ternyata kak Rendi yang sedang berdiri disana.


"Ada apa kak?aku dah ngantuk,besok pagi aja ya.'


Kataku sambil menutup mulut sambil menguap.


Namun saat hendak kututup pintu kamarku justru ditahan oleh kak Rendi.

__ADS_1


Dia menerobos masuk kedalam kamarku lalu mendorongku sampai kedinding kamarku.


Kulihat wajah kak Rendi yang seolah siap menerkamku,sepertinya di dalam pandangan matanya seakan aku terlihat seperti mangsanya.


"Kak....kakak mau apa!"


Aku begidik ketakutan dengan sikap dan pandangan matanya padaku,sampai kutundukkan wajahku karena tak mau memandang kengerian diwajahnya.


Tercium bau yang begitu menyengat dari nafas kak Rendi yang begitu dekat dengan wajahku.


"Jadilah milikku,menikahlah denganku seperti yang sering kau ucapkan."


Ucapnya sambil memelukku sangat erat sampai membuatku sangat susah untuk bernafas.


Berusaha kudorong tubuh kak Rendi sekuat tenaga sampai tubuhnya ambruk diatas tempat tidurku,segera kuberlari menuruni anak tangga menuju kamar orang tuaku.Segera kugedor pintu kamar mereka dengan kasar agar segera membukakan pintu untukku.


Saat mama membuka pintu kamarnya segera kupeluk tubuh mama dengan nafas yang masih memburu,disusul dengan kemunculan papa dari dalam kamar.


"Ada apa sayang? tenanglah,istighfar nak."


Papa keluar dari kamar dan kembali dengan membawakanku segelas air putih,setelah kuteguk air yang papa berikah nafasku terasa mulai kembali teratur.

__ADS_1


"Kakak ma,pa....."


"Kakak kenapa?!"


Tanya mama ikitan panik dan aku kembali ikutan panik,lalu papa dengan buru-buru menaiki anak tangga menuju lantai atas dimana kamar kami berada.Aku dan mama mengikuti dari belakang.


"Di kaamarku pa."


Kataku sambil menunjuk kearah kamar dimana kak Rendi tadi tergeletak.


Aku masih bersembunyi di balik punggung papa dengan memeluk mama karena masih merasa takut.


Sedangkan kak Rendi masih meracau tak karuan memanggil-manggil namaku dan masih memohon memintaku untuk menikah dengannya.


"Ra.....menikahlah denganku,tak akan ku relakan kamu menjadi milik siapapun! ingat janji kita dulu Ra,kamu bilang mau menikah denganku jika sudah besar.Tapi kenapa sekarang kau menghindariku?!"


Racaunya,papa menggelengkan kepala melihat kelakuan anak laki-laki kebanggaannya.


Diambilnya segelas air yang memang sengaja kusiapkan dikamar sebelum tidur takut jika kebangun haus ditengah malam.


Diguyurnya wajah kak Rendi dengan segelas air oleh papa,membuatnya gelagapan dan kaget seketika namun masih tetap meracau.

__ADS_1


"Bersambung......


__ADS_2