
Akhirnya mas Rio mengajakku kerumahnya yang berada satu kota denganku dan juga keluargaku tinggal,karena kebetulan Samuel pulang kerumah orang tuanya dan Pak Pras juga sudah kembali lagi ke tempat tinggalnya karena masih ada beberapa pekerjaan mas Rio yang harus ia selesaikan.
Ya begitulah mas Rio,dia tidak akan ada habisnya kalo soal perkara menyusahkan danmembuat repot pak Pras asisten pribadinya itu. Seolah tak pernah ada penolakan sama sekali sang asisten pribadi pun dengan begitu patuh segera melaksanakan apapun titah bosnya tersebut.
"Mas,aku harus banyak belajar untuk persiapan ujian minggu depan."
Rengekku saat tangannya tak hentinya mengerjakan aktivitasnya terhadapku.
"Baiklah,belajarlah dan aku akan memasak makan siang untuk kita."
Jawabnya seraya dengan terpaksa menghentikan keusilannya padaku.
"Maaf ya...."
Ucapku seraya mencium lembut pipinya.
"Jangan menggodaku sayang!"
Aku hanya tersenyum nakal melihat tingkah jengkelnya yang dengan malas berjalan meninggalkanku sendirian dikamar.
__ADS_1
Aku yang masih fokus dengan setumpuk buku dihadapanku mencium aroma wangi masakan yang menggugah selera hingga membuyarkan konsentrasi belajarku.
"Hemm enak sekali bau masakannya,"
Ujarku sambil berjalan pelan mengendus dan mencari sumber aroma yang sudah pasti berasal dari dapur rumah ini.
Benar sajaaku mendapati mas Rio yang tengah menghidangkan masakannya di meja makan,sepertinya masakannya memang baru selesai di masaka terlihat dari kepulan asap diatas hidangan yang tengah siap di atas meja makan.
"Hmmmmm,baunya enak mas."
Pujiku seraya menarik kursi untuk duduk.
"Cuma di puji aja nih?"
Tanyaku sambil kembali bangkit mendekat kearahnya.
"Upahnya!"
Tangannya langsung meraih pinggangku dan merapatkan tubuhku ketubuhnya.
__ADS_1
"Kita cicipi dulu rasanya,kalo enak nanti aku kasih upah deh. Heehehee...."
Godaku sambil mencium pipinya.
"Kamu sekarang makin berani ya?!" ledek mas Rio padaku terkekeh.
Waktu terasa begitu cepat berlalu,tak terasa hari susah sore dan waktunya mas Rio untuk kembali ke kota tempat tinggalnya.
Apalagi minggu depan dia bilang ada meeting dengan klien penting lalu setelah itu dia harus pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kami sebelum kami akan kembali terpisahkan jauh oleh ruang dan waktu karena kesibukan masing-masing.
Kami sudah kembali kerumah orang tuaku sebelum pak Pras sang asistan pribadi mas Rio datang menjemputnya untuk kembali ke habitat aslinya dengan segudang aktivitas yang membuatnya sangat sibuk sekali.
Hanya dalam hitungan jam kami bertemu dan dalam hitungan beberapa menit yang akan datang kami akan kembali dipisahkan entak dalam kurun waktu berapa lama. Karena memang kesibukan mas Rio yang membuat jadwal pertemuan kami menjadi tak lagi bisa teratur seperti janji kami dulu sebelum bena2-benar berpisah seperti saat ini.
Memang awalnya sesuai rencana,yakni dalam waktu satu minggu sekali kami harus bertemu. Namun karena memang kenyataan sering kali tak bisa sesuai dan sejalan serta selaran dengan harapan manusia itu sendiri.
Kami sedang berkumpul diruang tangah rumah kami. Duduk berempat di sofa depan tivi yang masih menyala.
Kami bercengkerama sambil sesekali bercanda ria,bahkan mungkin suara tawa kami terdengar sampai kedepan rumah atau bahkan dari rumah tetangga.
__ADS_1
Terdengar bunyi klakson yang tidak lagi asing di telingaku,itu adalah suara klakson mobil mas Mario yang kini tengah dikendarai oleh pak Pras.
BERSAMBUNG