
"Aku dengar kalian mau jalan? aku boleh ikut Jes?"
Sam tiba-tiba saja mendekat mengagetkanku dan Jesi yang sedang berbisik.
"Aku ikutan juga dong Jes!"
Medin ikutan menyusul untuk mendekat kearah bangku Jesi.
"Ee......,yakin kalian mau ikut?"
Tanya Jesi dengan canggung tanpa berani mendingakkan wajah meski hanya untuk sekedar melihat wajah Medin dan Sam.
"Memangnya mau kemana sih!"
Tanya Sam lagi.
"Ee....."
Belum sempat Jesi menjawab pertanyaan Sam,kami semua dikejutkan oleh suara bel tanda berkumpul karena hari ini adalah hari Senin saatnya mengikuti upacara bendera wajib setiap hari Senin.
Sepulang sekolah Jesi mengajakku jalan ke sebuah mall,Samuel dan Medina ikut serta bagaikan bodyguard yang mengikutiku dari belakang kemanapun aku pergi dengan Jesika bahkan saat kekamar mandi sekalipun Sam menunggu di luar pintu masuk toilet sedangkan Medina justru ikut serta menemaniku ke toilet.
Meski sebenarnya aku merasa risih dengan tingkah mereka berdua yang tak banyak bicara namun terus mengikutiku dan juga Jesi.
"Ra,temenin aku ketoilet sebentar yuk!"
__ADS_1
Jesi menarik tanganku menuju ketoilet.
"Kenapa tadi nggak sekalian waktu aku ketoilet sih Jes!"
Protesku padanya.
"Jes!pelan-pelan dong.....tanganku sakit nih!"
Jesi melepaskan tanganku saat kami sampai di toilet sebuah Mall yang sering kami bertiga atau bahkam berempat kunjungi jika ingin jalan bareng atau nonton.
"Ra sebenarnya ada yang mau aku bicarakan sama kamu,tapi aku merasa nggak nyaman karena ada Medin dan Sam."
"Memangnya kenapa dengan mereka Jes? mereka kan juga teman-teman kita!"
"Kamu nggak ngerti Ra,Medin sekarang berubah bukan lagi Medin yang dulu.Sam dan Medin seolah memusuhiku sekarang!"
Tanyaku seolah aku benar-benar tidak mengetahui apa yang Jesi lakukan pada Medin.
"Aku nggak tau pasti Ra,tapi semenjak ada Sam.....Medina berubah!"
"Benarkah? tapi menurutku
Belum selesai aku bicara Medin masuk menyusul kami di toilet.
"Ra,di toiletnya sudah? kenapa lama sekali?"
__ADS_1
Tanya Medina sambil menarik pergelangan tanganku untuk keluat dari toilet meninggalkan Jesi.
Tiba-tiba saja hand phoneku yang berada di dalam tas berbunyi,ternyata dari kak Rendi.
Ada apa lagi sih kak Rendi ini? bukankah tadi aku sidah izin sama dia mau jalan sama teman-temanku.
"Halo kak.....!"
"Hah! nggak kok.....masa sih?"
Dengan cepag kubuka chat dari kak Rendi yang berisi foto sebuah surat permintaan maaf dari mas Rio beserta sebuah kotak yang entah apa isinya.
Isi dari surat tersebut intinya permintaan maaf dan keinginan mas Rio untuk mengajakku bertemu disebuah taman.
Aku ragu apakah aku haruas menemuinya dan memaafkan kesalahan fatal yang telah dia perbuat kemarin padaku.
Kuabaikan kata-kata kak Rendi yang memintaku untuk segera menemui mas Mario,aku masih kesal dan marah padanya meski aku agak sedikit khawatir jika dia nekat menemui orang tuaku dan meminta maaf pada mereka.
Aku,Jesi,Medin dan Sam akhirnya memutuskan untuk pulang setelah kenyang makan karena memang sudah sore.
Aku pulang bersama Jesi dengan diantar oleh sopirnya sedangkan Medina memutuskan untuk langsung pulang kerumah begitu juga dengan Samuel.
Jesi mengantarkanku dengan aman sampai kerumah,meski awalnya aku merasa sedikit cemas jika harus pergi berdua saja dengan Jesi karena teringat cerita dari mas Rio tentang hal yang pernah dilakukan Jesi pada Medina.
Tapi kenyataannya aku baik-baik saja dan juga aman diantarkan pulang oleh Jesi tanpa ada kejadian apapun,Medina dan Sam juga tak pernah menceritakan apapun tentang yang dilakukan Jesi pada Medina sesuai dengan cerita mas Mario.Mungkinkah mas Mario berbohong padaku? untuk tujuan apa?
__ADS_1
BERSAMBUNG.......