
Aku masih merasa was-was bahkan sampai saat kudengar suara mesin motor Samuel dan Medina berhenti tepat dihalaman depan rumahku.
"Assalamu'alaikum....!"
Kudengar suara Samuel dan Medina mengucap salam saat bibi membukakan pintu dan mempersilahkan keduanya untuk masuk.
Bibi langsung mempersikahkan kedua sahabatku itu untuk langsung menuju keruang tengah dimana kini aku berada atas permintaanku pada bibi sebelum mereka tiba.
Aku sedang duduk santai meski dengan perasaan yang tidak tenang sambil menyalakan tivi,sambil merebahkan tubuhku diatas sofa.
"Waalaikum salam.....!"
Sengaja baru kujawab salam mereka supaya mendengar secara langsung.
"Gimana keadaanmu Ra?"
Tanya Medina sambil duduk disampingku saat aku berganti posisiku duduk yang sebelumnya rebahan.
"Sudah baikan kok,aki nggak apa-apa."
Jawabku.
"Lho,ada tamu rupanya?"
Ucap mama berbasa-basi,padahal sebelumnya sudah tau jika mereka akan datang kemari.
"Iya tante,kami khawatir dengan keadaan Rara."
"Tante apa kabar?"Tanya Medin berbasa-basi sambil menyalami dan mencium punggung tangan mama,lalu disusul oleh Samuel.
"Alhamdulilah tante sehat,cuma berduaan saja sama Sam?"
Tanya mama pada keduanya,sedangkan Medina hanya memandang mama dan Samuel dengan tatapan heran.
"Tante sudah kenal dengan Sam?"
Tanya Medina dengan bingung.
"Kan dulu Sam pernah nganterin aku pulang,Din! kamu lupa?"
Jawabku menyahut dengan cepat,takut mama akan salah menjawab dan akan menimbulkan kecurigaan Medina.
Tidak cuma kenal Din,kami sekarang bahkan sudah menjadi keluarga.Batinku.
"Ra,kamu tau gosip tentang Jesika disekolah?"
Medina memulai,mengajakku bergosip.
"Apa?"
Tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Bukankah kemarin kamu yang ikut mengantar Jesi ke klinik? apa kamu tidak tau jika Jesi benar-benar hamil Ra!"
"Kamu tau dari siapa?"
__ADS_1
Tanyaku.
"Satu sekolah sudah tau! dan yang lebih heboh dari kabar kehamilan Jesi,ternyata pak Mario pelakunya!"
Mata Medina melirik kearah Sam yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
"Mulai lagi bergosipnya! dasar perempuan!"
Sam mengingatkan kami agar tidak bergosip lagi,apalagi orang yang sekarang mulai digosipkan adalah saudaranya.
"Apa kabar ini benar-benar sudah pasti?"
Tanyaku pada Medina yang datang membawa kabar burung hantu yang sejak kemarin seperti menghantuiku.
"Tadi anak-anak bilang sepulang sekolah akan diadakan sidang!"
Jawab Medina,sedangkan mataku terus melirik kearah Samuel yang hanya diam sambil memandangku.
"Oiya Ra,selain kabar tentang pak Mario dan Jesi ada lagi kabar yang harus kamu tau Ra!"
Wajah Medina berubah nampak sumringah,terlihat dari aura wajahnya yang begitu bahagia hingga awan nampak begitu cerah dan kupu-kupu seolah sedang menari-nari diatas kepalanya.
"Apa?"
Tanyaku dengan antusias,kulirik Samuel yang kini nampak tersenyum dengan tersipu saat aku melihatnya.
"Kalian sudah....."
"Jadian!"
Medina menyambar kata yang bahkan belum sempat aku menebaknya.
Tanyaku terkejut,kupeluk tubuh Medina dengan bahagia seperti halnya perasaannya sekarang.
"Sekarang gantian kamu yang harus kenalkan mas Riomu itu padaku,jangan cuma Sam saja yang tau tentangnya!"
Pinta Medina padaku,aku hanya bisa diam sambil menatap tajam Samuel.
"Mas Rionya Rara sedang sibuk,dia bukan sembarangan orang yang dengan mudah bisa ditemui."
Sahut Samuel.
"Sam...!"
Ucapku lirih sambil melotot kearahnya,tatapan penuh ancaman agar tak sepatah katapun keluar lagi dari mulutnya membahas soal mas Rio saat ini.
"Benarkah? jadi mas Rio itu orang hebat dong berarti? Kamu kenal dari mana Sam?
Tanya Medina,rasa penasarannya semakin tersulut ketika Sam sedikit membuka tentang kehidupan mas Rio di hadapan Medina.
"Curang kamu Ra! punya pacar tidak pernah cerita,sahabat macam apa kamu!"
Medina mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya.
"Nanti kalau sudah waktunya akan aku kenalkan padanya!"
__ADS_1
"Janji ya Ra!"
"Insya Allah!"
Jawabku.
Dalam hati ku saat ini yang ada hanya kekhawatiran dalam segala hal.Mengenai masalah yang sedang menimpa mas Rio,tentang rahasia hubungan kami dan juga tentang banyak lagi hal yang membuatku pening.
Saat kami sedang asyik mengobrol terdengar suara mesin motor mas Rio berhenti di depan rumah.
"Ada yang datang ya Ra,kok kayak nggak asing dengan suara motornya ya Ra?"
Medin celingukan melihat kedepan namun jelas saja tidak akan nampak.
Aku dan Samuel hanya saling pandang dengan rasa khawatir yang sama,aku berusaha memberi kode pada Samuel untuk melakukan apapun agar Medina dan mas Rio jangan sampai bertemu.
"Ra,aku numpang ke toilet sebentar ya!"
Ucap Medina mengagetkanku sekaligus membuatku lega karena mas Rio bisa dengan amann masuk kedalam rumah tanpa ketahuan oleh Medina yang sedang ke toilet.
"Iya silahkan Din,masih ingat kan jalan ke toiletnya?"
Ledekku sambil terkekeh menggodanya.
Ketika Medina menutup pintu kamar mandi kuminta Samuel untuk memberihutau mas Rio segera masuk dan memasukan sepeda motornya langsung kegarasi samping agar Medina tidak melihatnya.
Dengan cepat Samuel berlari keluar,aku dengan was-was menunggu Medina keluar dari kamar mandi sekaligus menunggu mas Rio dan Samuel masuk kedalam rumah.
Samuel sangat lama sekali sedangkan Medina sudah keluar dari kamar mandi yang terletak tak jauh dari ruang tengah.
Ya Allah,kenapa mereka berdua lama sekali.....bagaimana kalau Medina bertemu dengan mas Rio nantinya? aku hanya bisa berdo'a dalam hati supaya mas Rio dalam sesaat menjadi manusia transparan hingga mata telanjang Medina tak mampu melihatnya,hanya untuk kali ini saja.
Pintaku pada Yang Maha Esa.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil kak Rendi pulang dan kulihat Samuel masuk dan bergabung kembali bersama kami dengan senyuman tersungging dibibirnya memberi tanda bahwa keadaan aman barulah aku bisa bernafas dengan lega.
Karena kebetulah hari sudah semakin sore,Medina dan Samuel berpamitan pulang.
Hatiku semakin lega ketika aku mengntar mereka pulang sampai kedepan rumah,tak kulihat tanda keberadaan mas Rio disekitar rumahku hanya ada kak Rendi yang nampak sedang berbincang dengan seseorang dari hapenya karena tangan kanannya yang menempel pada telinga.
Saat kulihat kedua tamuku pergi kak Rendi masih terlihat sibuk mengobrol sambil memandang kearah dalam mobilnya yang terbuka disalah satu pintunya,kini tangannya sudah tidak lagi menempel pada telinga iti artinya kak Rendi sudah tidak sedang menelfon.Tapi dengan siapa kini dia berbicara?
Dengan penasaran aku mendekatinya yang kini menyadari kehadiranku lalu menoleh kearahku dan mulai berhenti bicara.
"Istrimu mencarimu adik ipar!"
Ucap kak Rendi diiringi gelak tawanya karena berhasil meledekku.
Saat kulihat kedalam mobilnya,ternyata ada mas Rio didalam sana sedang duduk santai di bangku kemudi dengan mesin mobil yang sudah tidak menyala.
"Kamu masuklan dulu! ada yang masih perlu kami bicarakan sebentar."
Pinta mas Rio padaku yang sebenarnya penasaran tentang hal yang mereka bicarakan sedari tadi dan hingga kini belum mau kuganggu.
"Urusan laki-laki dek....!"
__ADS_1
Ucap kak Rendi sambil mendorong pelan tubuhku untuk menjauh dari mereka berdua.
BERSAMBUNG......