
Kami sekeluarga sedang dalam perjalanan menuju kota tempat tinggal keluarga Wijaya.
Pak Pras megantarkan kami sekeluarga,sedangkan kak Rendi akan menyusul setelah urusan kantor selesai.
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa bertanya-tanya dalam batinku sendiri dengan dari perkataan mas Rio yang dikirimnya lewat chat.
Bahkan mama juga tak banyak bicara padaku,begitu juga dengan nenek.
Hari sudah sore saat kami tiba di rumah sakit tempat om Dedi dirawat saat ini.
Papa memeluk erat tubuhku saat kami baru saja sampai dirumah sakit.
Hanya ada kak Reina dan mami yang nampak dengan mata sembab sedang duduk di kursi tunggu,memelukku saat aku mendekat kearah mereka.
Papa mendekat kearahku,lalu menuntunku untuk duduk kesisi lain bangku yang ada di seberang tempat duduk mami dan kak Reina.
Mama duduk disamping mami,nampak mama sedang merangkul pundak mami sambil menggenggam tangam mami dengam satu tangannya yang lain.Tak ku temui keberadaan mas Rio disini,entah kemana perginya.
Sampai saat papa melepaskan pelukannya padaku tampak mas Rio yang berjalan lemas baru saja keluar dari sebuah ruangan,memandangku dengan tatapan kosong lalu melangkahkan kakinya menuju sebuah bangku panjang terbuat dari besi stanles yang ada di depan kami dan mendudukinya.
"Pa.....ada apa?"
Tanyaku pada papa sambil melihat kembali kearah mas Rio yang masih tertunduk lesu.
"Nak,keadaan pak Dedi saat ini sangat buruk.Dokter menyarankan agar kurang dari dua puluh empat jam sejak tadi siang segera dilakukan operasi."
Jawab papa menerangkan.
"Lalu? kenapa tidak segera dilakukan operasinya pa! jika itu yang terbaik untuk om Dedi."
"Pak Dedi ragu akan keberhasilan operasinya,dia takut jika operasinya gagal dan dia tidak memiliki kesempatan melihat pernikahan Rio denganmu."
Aku hanya memandang semua yang ada di sini dengan bingung,karena seketika semua menatap kearahku kecuali mas Rio yang masih tertunduk.
"Maksud papa,apa?"
Tanyaku dengan bingung karena benar-benar tidak mengerti dengan maksud papa dan maksud pandangan semua orang padaku.
Tak ada jawaban apapun,papa hanya terdiam sambil ikut menatap semua orang yang ada disini.
"Papi ingin kita secepatnya menikah,sebelum operasi dilakukan!"
Ucap mas Rio masih dengan tetap menunduk.
Kata-katanya begitu lirih namun terdengar jelas olehku.
"Apa!"
Kubelalakan mataku,memandang tajam kearah mas Rio yang masih tak bergeming.
Rasanya bagaikan mimpi disambar petir disiang bolong,saat kudengar perkataan mas Rio.
Aku masih belum percaya dengan apa yang kudengar dan baru saja terucap dari mulut mas Rio.
"Pa.....?"
Tanyaku sambil menatap wajah papa yang hanya terdiam sambil mengangguk pelan,lalu memelukku kembali.
__ADS_1
"Demi pak Dedi!"
Bisik papa lirih ditelingaku.
"Tapi pa....."
Ucapku yang tak kalah berbisik.
Papa hanya mengangguk,mengisyaratkan agar aku menyetujuinya.
Seorang perempuan muda berseragam khas petugas medis rumah sakit keluar dari ruangan yang sama dengan mas Rio saat aku baru tiba disini tadi.
Ia mempertanyakan kehadiran seseorang yang bernama Rara,yaitu aku.
Perawat memberitahukan jika pasien masih terus menanyakan kehadiranku dengan mas Rio sedari tadi sejak sadarkan diri dan mulai bisa diajak berkomunikasi.
Mas Rio bangkit dari duduknya,berjalan pelan menuju kearahku.
"Ayo!"
Ajaknya padaku.
Kulihat papa yang kini berada disampingku dan mama yang masih berada di samping mami secara bergantian.
Mereka hanya mengangguk pelan padaku.
Aku segera berjalan pelan memasuki sebuah ruangan dimana om Dedi sedang menjalani perawatan diikuti langkah mas Rio dibelakangku.
"Kalian...?"
"Iya pi,Rio datang bersama Rara seperti yang papi pinta padaku tadi."
Mas Rio meraih tangan om Dedi yang diulurkan kearahnya dan memegangnya dengan erat.
Kulihat mas Rio menyeka air matanya sambil tertunduk,seolah tak ingin aku melihatnya menangis.
"Ra......sini nak,mendekatlah!"
Kulangkahkan kakiku semakin maju dan kian dekat dengan om Dedi serta mas Rio yang kinu duduk di samping tempat om Dedi berbaring.
Aku duduk disebelah mas Rio,berjejer dengannya.
"Iya om...."
"Om mohon padamu nak,izinkan om melihat Rio bahagia bersamamu disisa hidup om yang mungkin tak akan lama ini."
"Om,apa yang om katakan? om,kami semua mendo'akan kesembuh om.Dan insya Allah om akan segera pulih dari keadaa om saat ini."
Ucapku berusaha menguatkan calon ayah mertuaku.
"Amin....om hanya takut jika operasinya tidak akan berjalan sesuai rencana.Om mohon pada kalian,terutama padamu Ra.Menikahlah kalian sesegera mungkin sebelum operasi dilakukan"
Pinta om Dedi padaku dengan memohon.
Aku tak kuasa untuk menolaknya,tapi bagaimana dengan sekolahku? bukankah seharusnya pernikahan baru akan dilaksanakan setelah aku lulus sekolah? kenapa harus dimajukan secepat ini!
Batinku.
__ADS_1
Aku hanya terdiam tak berani memberi jawaban,kulirik wajah mas Rio yang kini menoleh kearahku.
"Pi,kami akan memberikan jawabannya pada papi nanti.Sekarang papi istirahatlah dulu!"
Ucap mas Rio sambil berpamitan pada papinya untuk mengajakku keluar dari ruangan yang penuh dengan peralatan medis.
"Ikutlah denganku,ada yang harus kita bicarakan!"
Bisiknya padaku pelan saat kami baru saja keluar dari ruangan dimana tempat om Dedi dirawat.
Aku hanya mengikuti langkah kakinya menyusuri koridor rumah sakit tanpa mengatakan apapun.
Mas Rio berjalan menuju parkiran,mengajakku masuk kedalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya kesebuah taman.
Mas Rio menepikan mobilnya didekat taman tersebut tanpa mengajakku turun.
Kami masih sama-sama saling diam dalam waktu yang cukup lama.
"Bagaimana?"
Tanyanya padaku.
Meski hanya sepenggal kata tanya yang lontarkan padaku,namun aku paham sekali tentang pertanyaannya.
"Aku tidak tau! aku masih mau melanjutkan sekolahku,setidaknya sampai lulus SMA!"
Jawabku dengan mata yang mulai tak kuasa menahan air mata yang menggenang.
"Kita nikah diam-diam,jangan sampai ada yang tau!"
"Lalu bagaimana jika ada yang tau?aku pasti akan dikeluarkan dari sekolah!"
Air mata mulai deras membanjiri pipiku,membayangkan betapa malunya aku saat semua orang satu sekolah tau aku telah menikah dengan pak Mario sedangkan aku masih tercatat sebagai siswi di sekolah.
"Kita nikah siri."
Ucapnya sambil memandangku yang masih berlinang air mata.
"Nikah siri?"Tanyaku dengan bingung
"Iya,kamu tau nikah siri?"
Tanyanya padaku.
"Tidak!tapi pernah dengar di tivi."
Jawabku sambil menyeka air mata yang mulai berhenti mengalir dipipiku.
"Apakah seperti nikah kontrak?"
Tanyaku padanya.
Mas Rio menjelaskan padaku perbedaan antara nikah siri dengan nikah kontrak.
Meski tidak seutuhnya paham namun aku sedikit mengerti tentang arti nikah siri yang dimaksud oleh mas Rio.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1