
Aku masih terpaku di pusara ibu tanpa sepatah katapun.
"Sayang sudah sore,ayo pulang! lagi pula sebentar lagi sepertinya akan segera turun hujan." ucap mas Rio padaku memberi tau.
"Ngg,i- iya mas baiklah." ucapku padanya dengan terbata karena menahan air mata agar tak mengalir jatuh kepipiku.
Entah kenapa ada perasaan sedih yang menguasai diriku,seolah aku benar- benar kehilangan dan ada kerinduan yang teramat besar di dalam hati ini.
Mungkin kah karena setelah ini aku akan tinggal jauh dari keluargaku,dari ibu kandungku juga. Karena setelah tinggal jauh dari kota ini aku tidak akan lagi bisa mengunjungi makam ibu sesering biasanya.
"Bu...Rara pamit dulu ya,maaf jika setelah inu Rara akan jarang mengunjungi ibu." ucapku lirih berpamitan pada batu nisan yang bertengger di atas pusara ibu.
Mas Rio segera meraih tubuhku dan menuntunku menuju jalan kekuar pemakaman yang sunyi dan sepi.
Hawa dingin semakin menyeruak hingga kedalam tulang sumsumku dengan disertai gelapnya langit karena mendung semakin tebal. Kami segera memasuki mobil dan pak Pras langsung menginjak pedal gas melajukan mobil meninggalkan pemakaman.
Rintik- rintik tetesan air hujan seolah mengerti dengan apa yang sedang aku rasakan saat ini. Kesedihan,kebahagiaan,rasa rindu dan juga rasa haru bercampur menjadi satu dalam satu wadah yang kini mulai sesak dan seolah tak mampu lagi membendung luapan emosi hingga tumpahlah bendungan pertahananku. Air mata mulai menetes di sela hidung dan pipi saat kusandarkan kepalaku di bahu mas Rio.
"Hei,kamu kenapa?" tanyanya yang mulai menyadari pundaknya kini mulai basah oleh linangan air mataku.
Aku hanya diam sambil menggelengkan kepala pelan,ku lingkarkan lenganku di perutnya dan semakin kuper erat pelukanku pada suamiku. Rasa malu sudah tak lagi kuhiraukan meski aku tau bukan hanya kami berdua saja yang berada di dalam mobil saat ini.
Mas Rio berusaha menenangkanku dengan mengusap pelan kepalaku yang terbungkus hijab,serta jari jemarinya yang lentik dan kulitnya yang halus menyeka bulir bening yang mengalir diantara pipiku.
Meski aku mulai merasa tenang dengan sentuhan hangat suamiku,namun rasa sedih dan rinduku masih tetap mengganjal di hati karena tak lama lagi aku harus berpisah dengan orang orang yang selama ini aku sayangi dan juga menyayangiku.
__ADS_1
"Pras,kita langsung pulang kerumah mama!" perintah mas Rio pada sang asisten pribadi kepercayaannya tersebut.
Mobil perlahan mulai melaju di jalanan perkampungan yang sepi,mungkin karena hari sudah mulai sore dan juga gerimis membuat siapapun enggan untuk keluar dari tempat mereka merasa nyaman yakni rumah.
Ciiiiiiiiiiiitttt!!!!!!!!
Tiba tiba mobil yang kami tumpangi mendadak oleng dan kini sudah berada di bahu jalanan yang sepi. Seketika aku dan mas Rio langsng melihat keadaan sekitar.
"Maaf tuan muda,maaf nona Maura tadi ada yang mendadak menyeberang" ucap pak Pras memberitahukan alasannya mengerem mendadak hingga membuat kami berdua jadi ikutan kalang kabut.
"Apakah kita menabraknya Pras?" tanya mas Rio masih dengan nada panik tanpa melepaskan pelukannya pada tubuhku karena khawatir.
"Sa- saya belum tau tuan,biar saya turun untuk melihatnya dulu." jawab pak Pras sambil membuka pintu mobil hendak keluar melihat keadaan luar.
Dengan cepat mas Rio membukakan pintu mobil untuk pak Pras yang terlihat sedang menggotong tubuh seorang perempuan asing yang nampak sedang tak sadarkan diri.
"Mas, dia kenapa?! Apakah tadi pak Pras menabraknya?! Dia masih hidup kan mas?!" tanyaku dengan panik,karena aku takut jika perempuan yang menjadi korban tabrakan kami ini telah meninggal dunia. Alangkah merasa berdosanya kami,yang meski tidak sengaja telah mencelakai orang yang tak bersalah.
Mas Rio segera mendudukkan perempuan tersebut di bangku depan sebelah pak Pras bukannya di bangku belakang disebelahku,mungkin dia paham jika aku pun ikut merasa panik dan takut saat ini.
"Cepat ke Rumah Sakit Pras!" perintah mas Rio pada pak Pras yang juga langsung menginjak gas dan melajukan mobil dengan gesitnya menembus guyuran air hujan yang semakin derasnya.
"Mas,dia masih hidup kan?" tanyaku penasaran sekaligus panik dan takut.
"Insya Allah sepertinya masih sayang,dia masih bernafas dan denyut nadinya masih ada." jawab mas Rio yang mulai memperlihatkan wajah tenangnya yang tampan dan rupawan.
__ADS_1
Meski sebenarnya aku sendiri sangat penasaran,namun aku tak berani melihat wajah wanita yang sedang terkapar tak berdaya di bangku depan tersebut.
Setibanya di Rumah Sakit terdekat pak Pras segera meminta bantuan pihak Rumah Sakit untuk membantu menyiapkan brankar dan juga membantu menurunkan pasien.
Saat perempuan tersebut di pindahkan ke brankar aku sempat melihat pergelangan tangan perempuan tersebut mengenakan sebuah gelang yang tak asing,seketika kulirik juga pergelangan tanganku yang mengenakan gelang yang sama.
Seketika pikiranku kembali mengingat dimana saat aku masih mengenakan seragam SMPku. Kami bertiga yakni aku,Laura dan juga Yasmin. Mereka semua adalah sahabatku semasa SMP, kami sedang berada di sebuah mall yang tak jauh dari sekolah kami berjalan memasuki sebuah toko acesoris dan Yasmin memilih sepasang gelang persahabatan yang terdiri dari tiga gelang dengan warna berbeda.
"Yasmin?! Laura?!" gumamku lirih saat para petugas Rumah Sakit berlari mendorong brankar dimana perempuan yang sepertinya kunal tersebut dibaringkan.
"Ada apa sayang? kamu menyebut nama siapa?" tanya mas Rio padaku penasaran.
"Tidak mas,tapi perempuan itu....jika tidak salah sepertinya aku mengenalnya," jawabku setengah tidak yakin, pasalnya aku tidak bisa melihat wajah perempuan tersebut secara jelas hanya gelang yang dikenakan saja yang nampak. Dan bisa saja perempuan teraebut kebetulan saja mengenakan gelang yang sama denganku dan sahabatku kenakan.
Meski sangat penasaran,namun kutahan rasa penasaranku untuk sesaat karena memang untuk saat ini hanya pihak dokter dan perawat saja yang boleh masuk bersama pasian jedalam ruangan tertutup tersebut.
Sedangkan aku, mas Rio dan pak Pras hanya bisa menunggu di depan pintu ruangan IGD dengan rasa cemas dan was was karena takut terjadi hal buruk pada perempuan tersebut.
Tak lama setelah hampir satu jam kami menunggu,akhirnya keluarlah seorang perawat dengan pakaian khas petugas kesehatan rumah sakit dan kami bertiga langsung bangkit dari duduk secara bersamaan tanpa dikomando.
"Maaf,apakah kalian keluarga dari pasien didalam?" tanya seorang perawat perempuan yang baru saja keluar dari pintu dan pandangannya tertuju pada kami bertiga.
"Iya kami keluarganya,bagaimana dengan keadaan pasien didalam?" jawab pak Pras berbohong karena mengakui perempuan asing tersebut sebagai keluarga kami bertiga,serta menanyakan keadaannya dengan wajah panik.
BERSAMBUNG,
__ADS_1