
Dari kejadian semalam benar-benar membuatku tak bisa tidur nyenyak semalaman,alhasil membuatku bangun kesiangan pagi ini.
"Tumben jam segini kamu baru bangun Ra?mentang-mentang hari minggu aja!"
Kata kak Rendi padaku yang sudah siap dimeja makan.
Bisa-bisanya dengan tenang dia bicara seperti itu! Apa dia tidak tau kalo aku bergadang semalaman karena ulah dia? Dia yang membuatku tak bisa tidur nyenyak semalaman.
"Oiya sayang,katanya hari ini kamu jalan sama kak Rosa?"
Tanya mama mengingatkanku.
"Oiya! coba aku telfon kak Rosa dulu ya ma jadi atau nggak."
Aku segera merogoh hape dari saku celana piyama yang masih kukenakan,karena aku memang belum mandi pagi ini.Tapi tenang saja meski aku belum mandi tubuhku tidak bau asam kok,hehehehe...
"Nggak usah!"
Aku terkejut mendengar perkataan kak Rendi yang tiba-tiba mengagetkanku.
"Kenapa emangnya kak?"
"Nggak usah ya nggak usah!"
"Iya tapi.....
"Dia nggak bakalan dateng! dan nggak usah hubungi dia."
Segera kak Rendi bangkit dan berjalan menaiki anak tangga.
"Ma,kak Rendi kenapa sih?"
Tanyaku,namun mama hanya mengangkat kedua bahunya.
Aku mendekat kearah mama dan mengamati sekitar.
"Ma,Rara mau ngomong sesuatu."
__ADS_1
Ucapku sedikit berbisik masih sambil mengawasi sekitar.
Mama memandangi wajahku dengan serius dan menghentikan aktifitasnya menyiapkan sarapan pagi ini.
"Ada apa sih sayang?kok bisik-bisik."
"Ma,masak semalem kakak nyium aku ma."
Sambil ku tunjukkan jariku ke arah pipi kananku.
Mama mengerutkan dahinya sambil melihatku dengan serius.
"Kamu serius sayang?"
"Iya ma....masak aku nge prank mama."
"Terus kakak kamu bilang apa lagi?"
"Cuma bilang suruh cepat tidur saja sih ma,tapi sebelum itu kakak tanya-tanya sama aku soal pacar gitu,ngecek-ngecek chat di hape aku terus tanya tadi seharian aku kemana sama siapa cewek apa cowok.Gitu ma."
Sejenak mama hanya terdiam sambil kembali meneruskan aktifitasnya mendengar ceritaku,tak ada komentar apapun lagi darinya.
Setelah sarapan siap,mama memintaku memanggil kak Rendi dikamarnya.
Aku segera naik menuju kamar kakakku,namun tak ada sahutan saat kuketuk pintu kamarnya.Kuberanikan diri membuka pintu yang tak terkunci,kupanggil-panggil nama kakakku dan ku cari sampai kekamar mandi didalam kamarnya pun tak ada.
"Apa mungki kakak dikamarku ya? Tapi ngapain dikamarku?"
Gumamku sendiri pada diriku.
Dan ternyata,benar saja saat ku buka pintu kamarku kak Rendi sedang duduk di depan meja belajarku membaca sebuah buku yang begitu rahasia untukku.
"Kakak! itu kan Diary aku!"
Segera ku berlari dan merebut buku yang tergeletak diatas meja dengan salah satu tangan kak Rendi memegang buku tersebut.
Aku sangat marah dan malu karena privasiku dibuka oleh kakakku,padahal aku tak pernah mengganggu privasinya selama ini.Kenapa dia begitu berani-beraninya lancang membuka buku Diaryku,padahal dia sendiri tidak suka kalau aku kepo dengan urusan pribadinya.
__ADS_1
Kak Rendi bangkit dari kursi yang di dudukinya,berjalan perlahan menuju kearahku tanpa sepatah katapun.
Pandangannya tajam kearahku,membuatku takut dan spontan berjalan mundur sampai tubuhku terhenti karena mentok dengan dinding kamarku.Namun kak Rendi masih saja tetap maju hingga tubuh kami begitu dekat.
"Kamu sudah punya pacar!"
Tanyanya dengan nada mengintimidasi.
Aku hanya menggelengkan kepala tanpa bersuara.
"Ada laki-laki yang kamu suka?"
Tanyanya,kali ini nada suaranya aga sedikit melunak.Aku masih terdiam,aku begitu takut melihat wajak kak Rendi saat ini dia tak pernah seperti itu sebelumnya.
Entah apa yang membuatnya semarah ini,apa hanya aku merebut buku Diaryku dan berkata cukup keras padanya tadi yang membuatnya semarah ini?
"Lalu pak Mario itu,guru disekolahmu,orang yang pernah menolongmu malam itu,yang menggendongmu disekolah saat kamu pingsan dan mengantarkanmu pulang?!"
'Deg!'
Itukah yang membuat kak Rendi semarah itu padaku sekarang? kenapa? apa aku salah jika punya rasa kagum dengan lawan jenis?apa karena dia guru disekolahku dan usianya jauh diatasku? kenapa dia sampai semarah ini?
Semua pertanyaan serasa sedang bertarung memenuhi pikiranku hingga membuatku merasa pusing.
Ingin rasanya kulahirkan semua yang memenuhi isi kepalaku,namun tak sepatah katapun mampu kuucapkan didepan kakakku.Aku begitu takut melihat ekspresi wajahnya saat ini,aku tak pernah melihat kak Rendi marah bahkan sampai seperti ini.
Tiba-tiba kak Rendi memelukku dengan begitu kuat hingga membuatku susah untuk bernafas dan bergerak.
"Kak,aku nggak bisa nafas."
Ucapku dengan nada lirih karena tubuhku rasanya hampir lemas kekurangan oksigen.
Seketika kak Rendi melepaskan pelukannya.
"Adekku sudah besar ternyata,sudah tau rasanya jatuh cinta."
Ucapnya sambil berjalan menjauh dariku.
__ADS_1
Bersambung.....