Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Pantai


__ADS_3

Setelah selesai sarapan mas Rio dan keluarga membawa kami berjalan-jalan mengelilingi kota,membawa kami ketempat-tempat wisata yang memang pantas direkomendasikan.Hari mulai sore,sinar sang surya tergelincir kearah barat saat kami tengah berada di pantai menikmati indahnya mentari terbenam.


Mas Mario membawaku duduk terpisah di sebuah kursi kayu di sudut sebuah resto yang berada di tepi pantai.


Menikmati suara deru ombak serta nyiur yang melambai,sinar matahari yang tampak begitu indah terpapar indah dihadapan kami sambil menikmati hidangan sore.


Aku hanya terdiam bertopang dagu sambil teraenyum sendiri menikmati keindahan suasana pantai serta mas Rio yang berusaha menunjukkan sikap romantisnya padaku.


Mas Rio menempelkan punggung tangannya di dahiku yang buru-buru kutepis dengan tangan kananku.


"Aku kira kamu sakit,atau kesambet!"


"Apaan sih!"


"Lagian sejak tadi hanya diam sambil senyum-senyum tidak jelas! pulang yuk!"


"Sekarang?"


"Besok sudah mulai sekolah!"


Kutepuk jidatku sendiri,karena mulai lupa bahwa aku masih berstatus sebagai siswa SMU yang besok pagi harus kembali berangkat sekolah.


"Aduh! gara-gara lamaran jadi lupa kalau besok masih harus sekolah!"


"Ck,ck,ck! jadi seperti ini muridku ketika diluar sekolah?"


"Hehehe,maaf pak guru!"


Kubungkukkan badanku dihadapan mas Rio,dan dia hanya menyunggingkan senyum sambil menggelengkan kepala.


Kami berdua berjalan menyusuri pantai menuju jalan pulang sedangkan yang lain sudah lebih dahulu berada di parkiran.


"Bolehkah kita foto berdua?"


Tanyaku sambil menatap wajah mas Rio.


"Untuk apa? di pamerkan di sosial media? supaya semua orang tau kalau kita sedang dekat?"


"Tidak boleh ya?"


"Boleh! hanya untuk koleksi pribadi"


"Benarkah? aku tersenyum girang dan segera merogoh hape dari dalam tas kecil ku.


"Pakai hapeku saja! hapemu kameranya kurang bagus!"


"Enak saja!"


Jawabku ketus.


Akhirnya kami ber foto selfi berdua dengan menggunakan hape milik mas Rio dengan beberapa pose.Kami nampak seperti sepasang kekasih yang sedang bahagia karena jatuh cinta satu sama lain,meski kenyataannya berbanding terbalik dengan kelihatannya.


"Nanti jangan lupa dikirim ya!"


Pesanku pada mas Rio.


"Kalau tidak lupa!"


Jawabnya sambil berjalan cepat meninggalkanku yang tak berhasil ku susul karena langkah kakinya yang jauh lebih panjang dariku membuat langkah kakinya lebih cepat dariku.


"Ayo cepat!"


Ajaknya,sedangkan aku hanya diam mematung karena terlanjur tertinggal jauh darinya.


Mas Rio nampak menghela nafas panjang karena kesal dengan ulahku yang tak kunjung bergegas menyusulnya dan justru malah berhenti mematung.

__ADS_1


Aku sendiri kesal dengannya karena bukanny menungguku tapi malah berjalan terlalu cepat meninggalkanku.


"Kenapa lagi?"


Tanyanya sambil berjalan mendekat kearahku lagi.


"Aku kesal padamu!"


"Kenapa? ayo!"


Diulurkannya tangannya kearahku namun aku tak menyambutnya,justru aku berjalan mendahuluinya dengan menyedekapkan kedua tanganku.


"Apa semua perempuan memang suka marah dan ngambeg seperti ini?"


Tanyanya sambil berjalan mengiringiku.


"Apa mantan pacarmu dulu tidak pernah marah dengan sikapmu yang selalu seperti ini?"


Tanyaku padanya.


"Mantan pacarku? mantan pacar yang mana!"


"Saking banyaknya mantan pacar,jadi harus di sebutkan satu per satu?"


"Hahaha! kamu itu lucu,asal bicara tapi tidak tau apa-apa.Apakah kamu memang sengaja memancingku agar mau bercerita tentang mantan!"


"Kenapa mas selalu tau apa sedang kupikirkan!"Tanyaku sambil mengentikan langkahku.


"Dasar bocah! pikiranmu terlalu dangkal untuk diselami."


Ucapnya sambil menyentil dahiku dan menyunggingkan senyum tipis disudut bibirnya.


"Kenapa mas tidak pernah mau menjawab setiap aku menanyakan tentang siapa saja mantan pacar mas Rio?"


Tanyanya sambil kembali berjalan pelan di belakangku dengan sedikit mendorong pundak kananku dengan salah satu lengannya seolah sedang menggiringku agar segera berjalan kembali.


"Ya....setidaknya aku jadi tau!"


Ucapku sambil berusaha menoleh kearahnya namun tetap saja dia mendorong tubuhku dengan salah satu tangannya.


"Kalau sudah tau mau apa!"


"Nggak apa-apa,cuma pengen tau saja!"


Jawabku masih sambil tetap berjalan pelan didepannya.


"Kamu tidak perlu tau!"


"Kenapa?"


Tanyaku dengan harapan aku akan segera tau tentang alasannya.


"Karena kau harus membayar mahal tentang informasi ini!"Jawabnya ketus,sepertinya dia mulai gerah dengan segala pertanyaanku.


"Seberapa mahal?"Tanyaku terus menyudutkannya.


"Kau yakin ingin tau!"


Pertanyaannya seolah menegaskan keingin tahuanku tentang dirinya.


"Iya!"


Jawabku dengan lantang.


"Nanti malam menginaplah denganku,maka akan kuceritakan semua masa laluku di pagi harinya!"

__ADS_1


"Hah! apa! tidak perlu,tidak usah diceritakn juga tidak masalah!"


Jawabku sambil mempercepat langkahku menuju tempat parkir dan ternyata sudah tak ada satupun mobil keluarga kami yang tersisa,kini hanya kami berdua saja yang belum kembali.


Pak Pras sudah menunggu kami di samping mobil yang terparkir di lokasi parkir yang telah tersedia.


Langit mulai gelap dan senja dengan malu-malu bersembunyi jauh dari pandangan mata.


"Kita pulang sekarang tuan muda?"


Tanya pak Pras pada sang tuannya.


"Biar nona Maura yang menentukan!"


"Nona.....?"


"Iya,kita pulang sekarang!"


Segera pak Pras membukakan pintu mobil untukku dan aku segera masuk lalu disusul oleh mas Rio yang masih tersenyum memenangkan perdebatan sore hari ini.


"Kenapa senyum-senyum begitu! senang ya karena merasa menang!"


Tanyaku ketus pada mas Mario saat pak Pras mulai melajukan mobil menuju jalan raya yang mulai sepi.


"Kenapa kamu marah padaku?"


"Aku kesal makanya aku marah!"


Mas Rio mengangkat kedua telapak tangannya dihadapkan padaku saat aku hendak mengeluarkan jurus cubitanku padanya.


"Stop! jangan lakukan! atau....."


Aku hanya bisa menghela nafas panjang untuk meredakan amarahku sendiri.Karena setiap kali marah atau kesal rasanya tanganku ini terasa gatal ingin mencubit siapa saja yang ada dihadapanku,terutama yang membuatku kesal.


"Jangan hiraukan kami Pras! fokuslah menyetir!"


Perintah mas Rio pada pak Pras yang sedang duduk di bangku kemudi.


"Iya tuan muda!"


Jawabnya dengan gugup.


"Pak Pras,usia pak Pras dengan mas Rio itu tuaan siapa sih?"


Tanyaku pada pak Pras yang sedang fokus menyetir seperti perintah sang tuan muda.


"Maaf nona,pertanyaan anda terlalu privasi untuk saya jawab!"


Mas Rio hanya tersenyum merasa semakin diatas awan karena lagi dan lagi sudah merasa berhasil membuatku kesal.


"Mana foto yang tadi? kenapa tidak cepat dikirim!"


Aku berusaha mengalihkan pembicaraan karena teringat kembali foto yang sempat kami abadikan di pantai tadi.


"Sabar! nanti juga kukirim,biar aku pilah dulu mana yang pantas untuk ku kirim!"


"Kenapa tidak semuanya saja dikirim?"


"Terserah aku,bukankah ini hapeku!"


Aku berusaha merebut hape yang kini berada ditangannya.


Begitu aku berhasil merebut hape dari tangannya,betapa terkejutnya aku saat melihat tampilan pada layar hape miliknya.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2