Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Nge-Mall


__ADS_3

"Udah-udah,kita udah mau nyampe nih debatnya udahan dulu ya....."


Aku berusaha menengahi agar perdebatan diantara mereka segera berakhir.


"Kita nggak boleh iri dengan kehidupan siapapun,kita harus senantiasa bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang karena nggak semua orang bisa seberuntung kita."


"Dengerin tuh Din....! kamu mah enak keluarga kamu tiap hari kumpul dirumah,ada orang tua yang ngertiin kamu tiap hari dirumah."


"Maksud kamu apa? nyindir keluarga aku? keluargaku emang miskin Jes,nggak kek keluarga kamu yang kaya.Keluargaku tiap hari bejubel dirumahku yang kecil dan sumpek bahkan mau kekamar mandi aja harus antri,mau makan aja kadang rebutan."


"Ya ampuuuun! stop! kalo kalian masih juga debat aku turun aj disini sampe kalian selese debatnya!"


Telingaku rasanya penging mendengar mereka berdua yang berada di kanan kiriku selalu berdebat sepanjang perjalanan.


Tapi meski begitu aku jadi sedikit tau seperti apa penggambaran kondisi keluarga kedua teman baikku ini yang membuatku bersyukur dan merasa sangat beruntung.


"Iya,iya....aku diem."


Hampir secara bersamaan mereka menjawab membuat sang pengemudi yakni sopir Jesi ikut tersenyum melihat tingkah kami bertiga .

__ADS_1


"Maaf ya pak,kalo kami berisik membuat bapal jadi nggak konsentrasi mengemudi."


Ucapku pada sopir Jesi.


"Iya non,nggak papa saya seneng non Jesi jadi ada temennya.Kelihatannya kalian anak baik-baik."


Ucapnya balik yang membuatku justru merasa bertanya-tanya dengan maksudnya bilang kalo kami anak baik-baik,apakah sebelumnya Jesi punya temen orang yang nggak baik?


"Kita sampai nih."


Kata Jesi turun dari mobil setelah sang sopir membukakan pintu untuknya dan berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun untuk sopirnya.


Ucapku,di ikuti oleh Medina yang juga ikut mengucapkan terima kasih.


"Sama-sama non."


Kami bertiga belanja banyak sekali barang,bahkan Jesi membawa kami masuk ke toko acesoris,kami membeli sebuah kalung yang sama dengan liontin berbentuk potongan bintang yang jika didekatkan ketiganya akan saling menempel karena ada mgnet didalamnya serta ditenganya dihiasi sebuah batu kecil dengan warna berbed pada setiap kalungnya.


Jesi memilih hiasan batu berwarna merah,Medina dengan warna hitam sedangkan aku lebih menerima sisanya yang kebetulan warna kesukaanku merah muda alias pink.

__ADS_1


Jesika mentraktir kami berdua,Medina kelihatan begitu bahagia karena Jesi juga membelikan kami beberapa potong pakaian untuk dikenakan pada hari ulang tahunnya nanti.Jesi ingin kami selalu kompak kedepannya nanti karena menurutnya kami adalah teman terbaiknya.


Setelah selesai makan siang disebuah resto yang ada didalam mall,kami putuskan untuk pulang karena hari sudah melewati setengah dari perjalanannya.


Jesi mengajak kami mampir kerumahnya,aku merasa tak enak hati jika harus menolaknya yang penting jangan sampai kesorean nggak masalah sih lagian menjelang maghrib juga masih lama.


Akhirnya kami mampir main dulu kerumah Jesi,benar kata Medina bahwa rumah Jesi sangat besar sekali mungkin tiga sampai empat kali rumahku dan begitu banyak pembantu didalamnya.Rumah besar dan semewah ini Jesi dirumah sendirian hanya dengan pembantu,benar saja Jesi merasa kesepian meski banyak pembantu tetap saja dia kesepian.


Jesi begitu antusias ketika menceritakan tentang pak Mario,jika kudengar dari cara Jesi menyebut nama pak Mario sepertinya dia begitu menggilai sosok pak Mario.


Bahkan dia berencana mengundang pak Mario dihari ulang tahunnya dan menyatakan cinta dihari spesialnya tersebut.


Seketika rasanya badanku mendadak lemas,kepalaku pusing dan rasa mualku mendadak kumat.


Aku beralasan capek pada Jesi agar bisa segera pulang,namun naasnya justru Jesi menawarkan kami untuk diantar oleh sopirnya dan Jesi ikut serta mengantar kami pulang kerumah kami masing-masing.


Sudah pasti sepanjang perjalanan nanti Jesi akan melanjutkan kembali membahas soal pak Mario yang membuatku kembali mual dan pusing.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2