
Mas Rio menghentikan laju mobilnya seketika.
"Kesal? kenapa!"
Tanyanya tanpa rasa bersalah sedikitpun tentang apa yang dia lakukan tadi saat disekolah.
"Bahkan kamu tidak tau apa salahmu mas?"
Tanyaku padanya dengan kesal.
"Tidak!"
Jawabnya yang masih tetap merasa benar sendiri.
"Bahkan kamu tidak tau apa yang terjadi seharian ini padaku disekolah setelah apa yang kamu lakukan!"
Aku kembali terisak saat mengingat kejadian demi kejadian disekolah sejak pagi tadi ketika beberapa siswa melihat kami turun dari mobil yang sama.
"Karena Jesi marah padamu?"
Tanyanya masih merasa benar,dia masih belum menyadari sepenuhnya apa saja kesalahannya seharian ini.
"Jika hanya karena Jesi marah,harusnya dia sadar sejauh apa kita membantunya selama ini sebelum dia marah."
"Kamu tidak tau mas?bukan hanya Jesika tapi seluruh orang disekolah bahkan mencibirku sebagai tunanganmu!"
Aku bahkan sekarang sudah tidak bisa lagi menangis saat mengatakan itu padanya karena air mataku serasa sudah kering terbakar amarah.
Rasa kesal dan amarah yang tadinya sudah mulai mereda kini seperti tersulut kembali.
"Benarkah? maaf aku tidak tau jika akibatnya akan jadi seperti ini."
Mas Rio hanya menunduk sesaat lalu menengadah memandang langit-langit pada mobilnya.
"Aku hanya ingin pulang sekarang!"
Ucapku masih kesal padanya.
"Pulang kerumahku ya...?"Bujuknya padaku,setiap kali kami ada masalah dia selalu mengajakku pulang kerumahnya.
"Tidak! aku mau kerumah mama saja!"
Jawabku,karena aku benar-benar kesal kali ini dan sedang tidak mau berbaikan dengannya sekarang.
"Ayolah....aku tidak mau mama melihat kita seperti ini."
Dia terus berusaha merayuku agar mau diajak pulang kerumahnya.
"Tidak!"
Jawabku kukuh dengan pendirianku.
"Baiklah kalau itu maumu,tapi jangan tunjukkan wajah kesalmu saat didepan orang tuamu.Ok?"
"Kenapa? takut mereka marah padamu!"
Tanyaku ketus sambil melihat kearahnya dengan kesal.
"Bukan begitu,mereka pasti akan khawatir jika melihat anak-anak mereka sedang ada masalah."
"Biarin! aku kesal padamu!"
Aku masih saja tetap merajuk padanya,tak perduli sekeras apapun dia meminta maaf padaku.
"Ayolah,aku kan sudah minta maaf...."
Dia memegang tanganku,namun dengan buru-buru segera kutepis.
"Bodo!"
"Kok kamu gitu sih? maafin aku dong.....ya....maafin ya...ayolah....please....!"
Aku hanya diam karena kesal,aku benar-benar sedih dan hancur saat berada di sekolah tadi ketika mendengar hampir semua mata memandangku dengan cibiran serta membicarakanku bahkan saat aku ada di antara mereka dan mas Rio yang menyebabkan semua ini justru merasa sama sekali tidak bersalah.
"Halooooo,Assalamu'alaikum ma....iya ini Rara sedang bersama saya ma.Iya baik-baik saja kok tadi mampir kerumah Medina sampau lupa waktu,iya ma maaf ya ma sudah membuat mama cemas.Iya ma waalaikum salam...."
Tiba-tiba saja mas Rio seperti sedang berbicara dengan mama lewat ponselnya,padahal sama sekali aku tidak mendengar suara hapenya berdering tadi.Apa mungkin aku yang tidak dengar karena saking fokusnya dengan rasa kesalku sampai-sampai tidak dengar suara dering hape miliknya.
__ADS_1
Aku menatapnya penuh selidik,dengan menyipitkan kedua mataku kearahnya yang hanya tersenyum sambil melirik kearahku.
Tiba-tiba dicubitnya pipiku dengan gemas olehnya.
"Aw...! sakit tau!"
Dengan spontan aku langsung mencubir tangan yang dia gunakan untuk mencubit pipiku tadi.
"Aku benar-benar gemas padamu! apalagi ketika melihatmu marah-marah tidak jelas,ingin rasanya segera...."
"Apa! jangan macam-macam padaku!"
Ancamku padanya sebelum dia selesai menyelesaikan kalimatnya yang sudah bisa kutebak kemana arah pembicaraannya.
"Kenapa? aku tidak pernah macam-macam,aku hanya satu macam kok! hehehe...."
Candanya yang menurutku tidaklah lucu sama sekali.
"Ayo,antarkan aku pulang sekarang! dan jangan tidur dikamarku malam ini."
Ancamku padanya.
"Lalu aku tidur dimana?"
Tanyanya.
"Terserah! pulang saja kerumahmu sendiri."
Jawabku kesal sambil melototinya.
"Oke....oke....!"
Dengan patuh dia mengantarkanku pulang kerumah orang tuaku yang selama ini kami tinggali setelah beberapa bulan menikah.
Mas Rio sudah memarkirkan mobilnya di rumah mama,aku segera turun setelah dia membukakan pintu mobil untukku.
"Silahkan nona.....!"
Ucapnya sambil membungkukkan badan seperti yang biasa pak Pras lakukan padaku selama ini.
"Terima kasih pak!"
Sedangkan dia berjalan mengikutiku dari belakang.
"Mau apa lagi? sudah sana pergi!"
Usirku dengan halus sambil mengibaskan kedua tanganku kearahnya.
"Kamu yakin malam ini tidak akan merindukanku?"
"TIDAK!"
Jawabku sambil berjalan meninggalkannya.
"Baiklah,aku tidak akan pulang bersamamu sampai kamu sendiri yang memanggilku datang!"
Ucapnya sambil tetap berdiri di samping mobilnya.
Kuhentikan langkah kakiku saat sudah sampai tepat di depan pintu hendak masuk,entah kenapa rasanya antara tidak tega dan takut jika mama akan tau kalau kami sedang bertengkar sekarang.
Kulangkahkan kakiku mendekat kearahnya yang sedang berdiam diri memandang langit yang napak begitu merah malam ini.
"Lihat apa?"
Tanyaku ikut memandang keatas berdiri disampingnya.
"Lihat langit malam ini,sepertinya sebentar lagi akan hujan."
Jawabnya masih tetap mendongak keatas.
"Sok tau!"
"Karena langit saja bisa ikut merasakan perasaanku ketika istriku ngambek sekarang!"
Dia benar-benar sangat pandai merayu sekarang,mungkin inilah wajah aslinya dia ketika bersama wanita.Jika kemarin-kemarin dia jutek dan dingin padaku,mungkin itu hanya akal-akalan dia saja sebagai bunglon.
"Gombal.....! ternyata pak guruku ini pandai sekali merayu muridnya!"
__ADS_1
Ledekku padanya.
"Lalu kamu sendiri kenapa malah mendekatiku sekarang? bukankah katanya tadi sedang marah padaku!"
Ledeknya kembali sambil memandang wajahku.
"Aku memang kesal padamu,tapi tidak bisa marah berlama-lama!"
Jawabku dengan asal.
"Kenapa?"
Tanyanya padaku.
"Entah!"
Jawabku bingung dengan ucapanku sendiri.
"Masuklah,bersihkan tubuhmu dan istirahatlah!"
Pintanya padaku.
"Lalu mas?"
Tanyaku.
"Pulang kerumah!"
"Kenapa tidak tidur disini?"
"Tidak,biar kamu bisa istirahat dengan tenang malam ini tanpa gangguan!"
Jawabnya sambil tersenyum lalu mencium keningku.
Kutahan tangannya saat hendak pergi meninggalkanku,seolah hatiku tidak rela dia pergi.
Dia hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun padaku,lalu membuka pintu mobil pada bagian kemudi.
"Aku sudah tidak marah dan juga tidak kesal padamu!"
Bisikku padanya pelan sambil menundukkan wajahku karena merasa malu mengatakannya.Serasa menjilat ludah sendiri yang sudah jatuh ketanah.
"Lalu?"
Tanyanya seperti sedang meledek atau mungkin dia sengaja mempermainkanku sekarang.
"Jangan pergi...."
Rengekku padanya seperti seorang anak kecil yang akan ditinggalkan oleh ayahnya pergi bekerja.
"Kenapa?"
Tanyanya sambil tersenyum kearahku lalu mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Tidak apa-apa."
Jawabku.
"Baiklah,kalau memang tidak apa-apa berarti aku boleh pergi sekarang kan?"
Tanyanya lagi padaku seolah dia berpamitan hanya untuk menggodaku saja.
"Jangan....!"
Rengekku lagi sambil terus memegangi tangannya agar tidak pergi.
Tanpa kusadari tingkahku benar-benar sudah seperti anak kecil yang kini berubah manja padanya.
"Berikan aku satu saja alasan padaku kenapa aku tidak boleh pergi sekarang!"
"Karena nanti aku akan tambah marah!"
Jawabku kesal sambil melepaskan tangannya dengan kasar.
"Bukan karena kamu mencintaiku?"
Tanyanya sambil tersenyum genit padaku membuatku tak mampu berkata-kata seolah membisu pada kata tembakannya yang seolah mengenai sasarannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG......