Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Pengantin baru


__ADS_3

Pagi ini mas Rio mengajakku kerumah sakit untuk menemui papinya sebelum aku pulang ketempat asalku karena besok pagi aku harus kembali bersekolah.


Sedangkan mas Rio masih mendapat izin cuti selama satu minggu terhitung sejak kejadian kecelakaan yang di alami papinya.


Sebelum sore mas Rio memerintahkan pak Pras mengantarkanku pulang kerumah orang tuaku agar kami tidak terlalu malam saat tiba di kota tempat tinggalki serta aku bisa beristirahat dirumah sebelum besok bersiap untuk melanjutkan aktifitasku kembali kesekolah.


"Pagi Ra.....!"


Sapa Samuel padaku sambil terengah-engah mengejarku saat aku baru saja berjalan di koridor depan kelasku dengan santai.


"Pagi,hai Sam!"


Ucapku menjawab sapaan Samuel.


"Bagaimana keadaan om Dedi?"


Tanyanya saat kami hampir sampai di depan pintu kelas kami yang terbuka lebar.


"Alhamdulilah sudah membaik setelah kemarin berhasil menjalani operasi."


Jawanku.


"Denger-denger ada pengantin baru ya?"


Tanya Samuel lagi padaku,lebih tepatnya meledekku.


Aku berhenti sejenak didepan pintu kelas dan ku tahan lengan Samuel.


"Ssssst!"


Ku letakkan jari telunjukku di bibirku sendiri,memberi tanda pada Samuel untuk diam dan berhenti membahasnya disekolah.


"Oke!"


Jawab Samuel yang langsung paham dengan maksudku.


Lalu kami kembali melanjutkan berjalan masuk kedalam kelas.


Hubunganku dengan keluarga mas Rio semakin intens sejak aku resmi menjadi menantu di keluarga Wijaya.


Hampir setiap hari mas Rio menelfonku bahkan lebih sering melakukan panggilan video saat berada di rumah sakit.


Menurutku dia menelfonku bukan karena ingin tau kabarku atau merindukan istrinya seperti pasangan lain pada umumnya,namun karena permintaan orang tuanya semata.


Mama dan papa juga sering kali menanyakan padaku soal kabar mertuaku yang jauh disana,mama juga sering menanyakan kabar menantu barunya tersebut padaku.


Mama selalu mengharapakan aku bahagia dengan pernikahanku bersama mas Rio.Meski diawal pernikahan kami tidak didasari rasa cinta,namun mama selalu berharap cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.


Sedangkan aku sendiri tak mengharapakan apapun dalam pernikahan ini,aku hanya bisa menjalani apa yang terjadi pada kehidupanku saat ini saja.Aku sudah pasrah dengan takdir,apapun yang akan terjadi kedepannya biarlah terjadi.

__ADS_1


Hari ini adalah hari dimana mas Rio mulai kembali mengajar disekolahku,karena masa cutinya telah usai.Serta keadaan papinya yang kini mulai membaik,meski belum seutuhnya pulih.


"Selamat siang nona,kita langsung pulang sekarang?"


Tanya pak Pras padaku setiap kali menjeputku sepulang sekolah,pertanyaan yang sama selalu terulang setiap hari bagaikan memutar rekaman suara.


"Iya pak!"


Jawabku,karena memang hari ini aku sedang tidak ingin mampir kemana-mana.


Pak Pras segera melajukan mobil melalui jalanan yang tak begitu ramai,hanya air hujan yang dengan derasnya beramai-ramai siap mengeroyok siapapun dan apapun yang berada di bawah langit terbuka.


"Deras sekali hujannya ya pak!"


Ucapku pada pak Pras yang sedang fokus mengendarai.


"Iya nona."


Jawabnya dengan pandangan matanya yang masih tetap melihat kedepan.


Ku ambil hapeku dari dalam tas,lalu ku sentuh tombol panggil setelah kutemukan kontak nama pak Mario di tampilan layar hape pintarku.


"Halo,Waalaikum salam...."


Kata salam segera kuucapkan untuk menjawab salam darinseberang sana,saat kudengar suara mas Rio mengucap salam ketika mengangkat telfon dariku.


"Mas tadi pagi kesekolah bawa motor atau mobil? karena sekarang hujannya semakin deras lho!"


Lalu aku bernafas lega sambil mengakhiri panggilan yang kami tutup dengan ucapan salam.Aku kini bisa bernafas lega karena ternyata mas Rio kesekolah mengendarai mobilnya yang lain,bukan dengan sepeda motor yang biasa di kendarainya.


Pak Pras segera memarkirkan mobil dan membuakakan pintu mobil untukku dan memberiku satu payung lagi untukku agar tak basah oleh air hujan.


Aku langsung berjalan cepat masuk kedalam rumah setelah sebelumnya menawarkan pak Pras untuk mampir dahulu sambil menunggu hujannya agak reda,namun di tolak olehnya karen tidak ada perintah atau izin dari sang tuan mudanya.


Aku segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti seragam yang melekat di dalam tubuhku dengan pakaian rumah tanpa mengenakan hijab karena hanya ingin dikamar saja dan enggan keluar lagi.


'Tok,tok,tok'


Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarku.


"Siapa?"Tanyaku masih tak bergeming dari tempatku duduk di ranjang empukku dengan hape berada di tangan.


Tak ada sahutan,sampai kudengar kembali ketukan di kamarku yang terus berulang namun tak ada sahutan saat kutanyakan siapa gerangan yang ada di depan pintu kamarku tak hentinya mengetuk.


Akhirnya karena merasa kesal,aku segera menyambar hijab rumahan yang sering kukenakan saat dirumah lalu kubuka pintu kamarku dengan perasaan kesal.


"A.....da apa....., mas Rio! ada apa?"


Tanyaku padanya yang terlihat agak sedikit basah di kemeja yang dikenakannya oleh air hujan.

__ADS_1


"Mamamu memintaku untuk menginap disini malam ini!"


Jawabnya lalu menerobos masuk kedalam kamarku tanpa permisi pada pemiliknya.


"Benarkah!"


Tanyaku tak percaya.


"Kalau kamu tidak percaya,tanyakanlah sendiri padany!"


Jawabnya sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Aku mau mandi,apakah ada handuk kering untukku?"


Tanyanya padaku.


"Sebentar,kumintakan handuk baru pada bibi."


Jawabku sambil berjalan menuju pintu untuk segera turun memintakan handuk baru untuknya.


Saat aku sedang berjalan hendak menaiki anak tangga kembali kekamarku,kulihat bibi sedang berbicara dengan seseorang di depan.


Karena penasaran ku hampiri bibi,yang ternyata sedang berbincang dengan pak Pras yang datang membawakan pakaian ganti untuk tuan mudanya.


Aku segera membawakan handuk untuk mas Rio,sekaligus beberapa potong pakaian ganti untuknya yang sudah diantarkan oleh pak Pras di dalam sebuah tas.


Aku segera menuju kamarku.Ketika kubuka pintu kamarku,kulihat ternyata mas Rio sedang merebahkan dirinya diatas tempat tidurku dalam keadaan terlentang dan mata terpejam tanpa kaca mata.


"Mas,ini handuk dan baju gantinya sudah siap!"


Ucapku berusaha membangunkannya,namun tak juga kunjung terbangun.sepertinya mas Rio sangat lelah sekali,aku bahkan merasa tak enak hati jika harus membangunkannya.


Akhirnya kubiarkan dia terlelap mengusir rasa lelah ditubuhnya.


Aku sedang duduk di meja belajar,mengerjakan beberapa tugas sambik sesekali memegang hape untuk berbalas chat dengan Yasmin.


Setelah Yasmin mengakhiri chat dengan alasan ingin istirahat karena lelah,tiba-tiba saja Dimas mengirimku pesan singkat.


'Ra,jika ada waktu aku ingin datang kekotamu bertemu denganmu.Apakah boleh?'


Begitulah isi chat yang kuterima dari Dimas,aku tidak berencana membalasnya karena aku tidak mau menjadi perusak hubungan asmara sahabatku.


"Ehem!"


Aku tersentak saat terdengar suara mas Rio berdehem tepat di belakangku.


"Dimas lagi? sepertinya dia juga menginginkanmu selain sahabatnu!"


Karena terkejut,segera kuletakkan hape dimeja denga sembarangan yang sedari tadi berada ditanganku.

__ADS_1


Sepertinya mas Rio ikut membaca isi pesan yang dikirim Dimas untukmu tadi.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2