Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Memperkenalkanku


__ADS_3

Pak Mario segera melepaskan tangannya saat kami sudah masuk kedala ruang kepala sekolah,sedangkan aku hanya memandangnya dengan bingung.Sama halnya dengan semua orang yang ada di dalam ruangan ini yang juga menatap pak Mario dengan wajah bingung.


"Jika ada yang ingin menjelaskan sesuatu atau meminta maaf pada tunangan saya,silahkan! orang yang ada di hadapan kalian semua ini adalah tunangan saya."


Ucap pak Mario pada semua orang,membuat semua mata terbelalak seakan tak percaya dengan ucapannya.


Jesika terus memandang kearahku,aku berusaha menghindari tatapan matanya yang terlihat ingin segera mencabikku dengan amarahnya.


"Pak Mario,bisa tolong jelaskan pada kami apa maksudnya semua ini?"


Tanya bapak kepala sekolah dengan tegas.


Akhirnya mas Mario menjelaskan bahwa memang akulah orang yang menjadi tunangan pak Mario,selama ini kami sengaja menyembunyikan hubungan kami karena memang disekolah kami tetap sebatas hubungan antara guru dan murid tidak boleh lebih dari itu.


Akhirnya bapak Kepala sekolah bisa memakluminya,lagi pula pak Mario menjelaskan juga menjelaskan jika pertunangan kami adalah hasil perjodohan dari pihak keluarga.


Kedua orang tua Jesika meminta maaf padaku dan juga sudah menjelaskan tentang kesalah pahaman yang sempat terjadi selama ini,namun berbeda dengan Jesika yang seolah sedang memendam amarah terhadapku.


"Maaf semuanya,saya permisi dulu!"


Ucapnya sambil berjalan cepat keluar dari ruangan kepala sekolah.


Aku segera berpamitan juga pada semua yang ada di dalam ruangan tersebut tak terkecuali khususnya kepada bapak Kepala sekolah yang begitu saya hormati disini.


Kukejar Jesika hingga hampir ke depan gerbang sekolah,dia tak berhenti meski aku memanggilnya dengan kencang sekalipun.


Setelah berhasil kuraih tangannya barulah dia mau berhenti namun masih belum mau melihat wajahku.


"Jes,aku bisa jelasin!"


Ucapku padanya tanpa melepaskan tanganku dari pergelangan tangannya.


"Apa yang bisa kamu jelaskan padaku Ra? dasar penghianat!"


'PLAK!'


Tamparan Jesi mendarat tepat dipipiku,hingga menyadarkanku betapa besar kesalahanku padanya atas penghianatan ini.


Jesi benar,akulah yang salah karena menghianatinya selama ini.Bukan hanya menghianati saja,tapi juga membohonginya.


"Jelaskan sekarang!"


Bentak Jesika padaku saat tanganku masih memegang pipiku yang terasa panas bekas tamparannya.


"Maaf Jes,aku tidak bermaksud merebutnya darimu..."


Jesi pergi begitu saja tanpa memperdulikan penjelasanku yang belum selesai.Aku berhenti mengejarnya karena aku yang masih berseragam tidak berani melanggar aturan sekolah yang tidak boleh keluar dari pintu gerbang sebelum jam sekolah usai kecuali atas izin pihak sekolah.


Kedua orang tua Jesika segera menyusulnya,mama Jesi sempat mengelus punggungku saat melewatiku hendak menyusul putri semata wayangnya yang sedang marah.


Aku sempat pergi ke toilet sekolah sebelum akhirnya kembali masuk kedalam kelasku lagi untuk melanjutkan ulangan yang sempat tertunda.

__ADS_1


Saat aku masuk kembali kedalam kelas,seketika semua memandang kearahku seolah mereka sedang mencibirku tak terkecuali Medina sahabatku sendiri.


Setelah pak Widodo meminta semuanya untuk tenang barulah mereka menurut dan mulai tak menghiraukanku untuk sesaat.


Aku merasa benar-benar menyesal karena hari ini harus berangkat kesekolah,jika tau hal seperti ini akan terjadi maka hari ini aku akan lebih memilih bolos atau izin saja.


Selama seharian disekolah aku hanya berdiam diri di dalam kelas karena tak tahan dengan hujatan serta cibiran dari mereka yang tidak mengerti tentang posisiku.


Hanya Samuel yang masih perduli padaku karena dialah orang yang paling mengerti aku saat ini.


Saat jam pulang sekolah aku lebih memilih keluar paling akhir dari teman-temanku yang lain,setelah kelas benar-benar sudah sepi barulah aku berjalan perlahan keluar dari pintu kelasku.


Aku hanya diam sambil berjalan tanpa melihat sekeliling menuju kegerbang sekolah.


Pak Pras segera menghampiriku dengan berlari.


"Nona Maura....Maaf mobilnya kan ada di dalam!"


Ucapnya memberitahuku yang tanpa sadar sudah hampir keluar dari gerbang sekolah.


Sontak aku berbalik dan benar saja kulihat mobil yang biasa digunakan oleh pak Pras untuk mengantarkanku kesekolah masih berada didalam area sekolah.


Aku masih diam sambil mengikuti pak Pras dari belakang menuju kearah dimana mobil diparkirkan.


Dadaku terasa sesak,ingin sekali rasanya aku menangis kencang atau berteriak jika perlu biar hatiku sedikit lebih lega.


"Pak Pras kita pulang sekarang!"


"Tapi nona,apa tidak sebaiknya kita tunggu tuan muda sekalian?"


Seolah pak Pras lebih berpihak pada tuan mudanya ketimbang padaku.


"Yasudah tunggu saja tuan mudamu itu!"


Ucapku sambil kembali keluar dari mobil menuju gerbang sekolah sambil kubuka aplikasi ojek online.


"Nona Maura,baiklah akan saya antarkan anda sekarang.Kita tidak perlu menunggu tuan muda."


Ucapnya setelah dengan cepat berlari kearahku,sepertinya dia sedang berusaha membujukku sekarang.


Aku hanya diam belum menanggapinya,kupandang wajahnya sebentar lalu aku kembali kedalam mobil dengan wajah acuh.


"Kita mampir ke cafe mas Rio dulu pak Pras!"


Pintaku pada pak Pras.


"Nona mau makan dulu?"


Tanyanya padaku.


"Tidak usah banyak bertanya pak Pras!

__ADS_1


aku sedang kesal sekarang!


Diam dan kerjakan saja apa yang aku minta!"


"Baik nona."


Jawabnya singkat lalu segera melajukan mobil menuju kearah yang ku minta.


Saat perjalanan menuju kearah cafe sudah mulai dekat,kulihat ada sebuah taman kecil yang agak sepi ketika dilihat dari jalanan.


"Kita ketaman itu dulu pak Pras!"


Pintaku sambil menunjuk kearah taman.


Pak Pras langsung mengehentikan laju mobil dan segera mencari tempat parkir.


"Silahkan nona."


Ucap pak Pras membukakan pintu mobil untukku sambil menundukkan kepala,lalu berjalan mengikutiku dari belakang dengam jarak aman saat aku mulai memasuki taman.


"Pak Pras sudah menikah?"


Tanyaku padanya sambil duduk di sebuah bangku besi berwarna putih yang berada di bawah pohon rindang.


"Belum nona!"


Jawabnya singkat dan cepat.


"Kalau pacar?"


Tanyaku lagi padanya sambil melihat kearahnya yang nampak sedang ragu-ragu saat hendak menjawab.


"Kalau tidak ada tidak usah dijawab! paling-paling juga mai jawabnya gini MAAF NONA PERTANYAAN ANDA TERLALU PRIVASI atau kalau tidak akan di jawab begini MAAF NONA SEPERTINYA PERTANYAAN ANDA TIDAK PERLU SAYA JAWAB"


Kataku sambil menirukan gaya bicaranya dan kata-kata yang sering dia ucapkan untuk jawaban dari pertanyaanku yang tidak bisa dijawab olehnya.


Pak Pras hanya terdiam masih menundukkan kepalanya,tiba-tiba saja ponsel di sakunya berdering.


"Siapa?"


Tanyaku dengan tatapan menyelidik.


"Tuan muda yang telfon nona."


Jawabnya memberitahuku.


"Tidak usah di angkat! aku tidak mau dia tu aku sedang ada dimana,atau jangan lagi ikuti aku mulai sekarang."


Ancamku padanya yang hanya diam,sepertinya dia terpaksa menurutiku.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2