Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Pertemuan kembali


__ADS_3

Hari sudah semakin gelap dan kami belum juga sampai di tujuan,karena jalanan macet total akibat kecelakaan yang mengharuskan kami menunggu selama berjam-jam sampai proses evakuasi selesai.


Adzan Isya' telah berkumandang dan kami masih di jalan,mas Rio beberapa kali menelfonku untuk menanyakan keberadaan kami sekarang.


Dia begitu cerewet kali ini,mungkin karena merasa khawatir sebab tidak seharusnya kami sampai selarut ini dan masih dalam perjalanan.


Sesampainya di kediaman keluarga Wijaya,aku langsung disambut hangat oleh mami dan papi mertuaku serta kak Reina dan si kecil Zarra keponakanku.


Namun saat netraku melihat sekeliling tak kujumpai keberadaan mas Rio.


Kenapa dia tidak ikut menyambut kedatanganku? Padahal aku kesini kan buat dia dan keberadaannya adalah penawar rindu untukku,mungkin dia sedang di kamar menyiapkan sesuatu untukku.Batinku.


"Rio belum pulang dari kantor,dia sedikit terlambat karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan."


Betapa terkejutnya aku saat mendengar ucapan mami padaku saat menuntunku menuju kedalam istana megahnya.


Ingin rasanya kuhentikan langkah kakiku seketika saat ini juga karena aku tak bisa menemukan apa yang aku mau.


Sudah terbayangkan olehku sejak dalam perjalanan tadi,ketika aku sampai mas Rio akan menyambutku bahkan dia yang akan membukakan pintu mobil untukku.


Namun bayanganku kini hanya sekedar bayangan yang seketika dibuyarkan oleh kenyataan yang ada.


"Nggak apa-apa kan sayang? maaf ya......"


Ucap mami lagi padaku,lalu mempersilahkan aku untuk beristirahat di kamar mas Rio yang kini menjadi kamar kami.


Setelah selesai mandi dan sholat Isya' aku yang masih diam termenung didalam kamar tiba-tiba dikejutkan oleh nada notifikasi dar hapeku menandakan adanya pesan yang baru saja masuk.


'Sayang aku OTW pulang.'


Begitulah isi pesan yang dikirim oleh mas Rio padaku.


Kucoba untuk menghubunginya via panggilan telfon dan juga panggilan video,namu tak ada jawaban.


Karena lelah menunggunya yang tak kunjung tiba,aku mencoba menghibur diriku sendiri dengan menyalakan tivi dan mencari saluran yang sekiranya menarik.


Ada tanyangan kartun yang mampu membuatku tertawa saat melihatnya,perlahan aku mulai mengantuk dan beberapa kali menguap.


Mungkin karena lelah setelah hampir setengah hari berada dalam perjalanan,hingga membuatku merasa kelelahan malam ini.

__ADS_1


Tubuhku menggeliat namun mata ini seolah terasa berat karena digelayuti rasa kantuk,sayup-sayup kudengar kembali suara tivi yang masih menyala masih dengan mata terpejam.


Kudengar suara kelaki memanggilku namun aku seolah enggan merespon karena diriku benar-benar telah dikuasai oleh rasa kantuk yang tak tertahan.


Perrlahan aku merasa seperti ada goncangan yang berlangsung cukup lama hingga benar-benar mengganggu tidurku.


Kupaksa diriku untuk terjaga dan membuka mata,betapa terkejutnya aku karena ternyata aku melihat wajah seorang pria yang begitu sangat dekat dengan wajahku.


"Aaaaa,mas Rio!"


Aku berteriak karena kaget,saat membuka mata ternyata tubuhku sudah berada dalam gendongan mas Rio dangan wajah yang begitu dekat dengan wajahku membuatku benar-benar terkejut.


Aku meronta hingga membuatnya terjungkal dan tubuhku terjatuh seketika,beruntungnya aku jatuh tepat diatas tempat tidurnya yang empuk namun naasnya setelah jatuh menimpa tempa tempat tidur kini tubuhku juga tertimpa tubuh besar mas Rio yang tubuhnya jauh lebih besar dariku hingga membuatku kesulitan untuk bernafas.


Mas Rio segera bangkit dari atas tubuhku saat menyadari tanpa sengaja menimpaku,begitu dia bangkit betapa terkejutnya aku yang langsung dengan spontan menutup wajah dengan kedua telapak tanganku sendiri karena mas Rio yang tanpa mengenakan apapun,sedangkan handuk yang satu-satunya kain penutup tubuhnya kini pun melorot dan jatuh kelantai tanpa ia sadari.


"Kamu kenapa sih?"


Tanpa menyadari apa yang terjadi pada dirinya,membuatku malu ketika melihat belalai gajah lewat di depan mataku.


"I....itunya,anu.....handuknya mas melorot!"


Jawabku terbata tanpa berani membuka telapak tanganku yang masih menutupi wajahku.


Entah mengapa lama tak pernah bertemu membuatku merasa malu dan deg-degan saat berdekatan dengannya.Hati ini sunggu berdebar tanpa aturan lagi iramanya,darah ini serasa berdesir begitu hebatnya,serta jantung ini berdetak begitu cepat seperti sedang diburu sesuatu.


"Mas baru pulang?"


Tanyaku berbasa-basi berusaha mencairkan suasana yang terasa canggung diantara kami.


"Sudah dari tadi cuma kamu kayaknya lelap sekali tidurnya,jadi aku tinggal mandi aja dulu. Gak tega aku bangunin kamu."


Jawabnya sambil berjalan pelan mendekat kearahku.


Membuat detak jantungku semakin cepat dan tak terkendali,ingin rasanya aku pingsan atau menjauh darinya agar segala rasa yang bercampur di dalam diriku ini segera lenyap.Namun jika aku menjauh pasti dia akan berfikir bahwa aku menghindarinya.


"Kamu suda makan?"


Tanyanya sambil menyelipkan rambutku kebelakang telinga,sontak membuatku memejamkan mata seketika.

__ADS_1


"Belum,nungguin mas pulang. Mas sendiri sudah makan?"


"Belum."


Jawabnya sambil mencium lembut keningku.


Entah kenapa beberapa hari tak bertemu membuatku merasa canggung dengannya padahal saat jauh ingin rasanya segera bertemu.


"Kamu kenapa?"


Diangkatnya wajahku yang tertunduk malu saat berada di hadapannya.


"Apakah ada yang mengganggu pikiranmu? Kenapa kamu tidak mau melihatku,apakah kamu marah padaku?"


Kini wajah kami saling berhadapan,manik mata kami saling pandang satu sama lain.


Dengan reflek tangan ini tiba-tiba saja meraih dan memeluk tubuhnya kusandarkan kepalaku di dada bidangnya.


Air mata ini seakan tak lagi mampu kubendung,tumpah ruah dengan bebasnya hingga membasahi dadanya yang berbalut kimono.


"Sayang....kamu kenapa? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?"


Tanpa menjawab sepatah katapun semakin ku eratkan pelukanku pada tubuhnya.


Dibelainya rambutku serta di ciuminya keningku dengan penuh kasih sayang.


Ingin sekali rasanya kuungkapkan apa yang saat ini bergejolak didalam hatiku,rasa yang mengekang jiwa hingga sulit rasanya untuk menguntai kata hanya sekedar untuk berkata 'Aku rindu padamu mas!'


Kata yang hanya bisa tertahan didalam hati,menyumbat kerongkongan hingga sulit terucap dan tak mampu keluar dengan lancar menjadi sebuah suara yang harusnya dengan lancar dan lantang kuucapkan padanya.


Mungkin aku terlalu naif untuk mengakui perasaanku padanya.


Atau aku yang mungkin tak pandai merangkai kata untuk mengutarakan isi hatiku.


Mas Rio meminta pelayan untuk mengantarkan makan malam untuk kami berdua kekamar.


Karena sudah semakin larut dan alarm diperut kami sudah mulai berdering dengan nyaring pertanda meminta untuk segera diisi,karena kebetulan kami memang belum makan malam.


Setelah selesai menghabiskan makan malam kami berdua,perlahan kami mulai melebur rasa rindu kami berdua dengan cara kami,aku belajar untuk berinisiatif memulainya.

__ADS_1


Mas Rio hanya tersenyum bangga saat melihat tingkahku yang kini mulai berani.


BERSAMBUNG


__ADS_2