Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Honeymoon


__ADS_3

Tanpa menjawab pertanyaannya segera kucubit kecil bagian perutnya yang rata dan terasa sulit ku cubit.


"Aaaw! kenapa aku dicubit!"


Ucapnya mengaduh mendapat cubitan yang mendarat di perutnya.


"Nggak disini juga dong mas....!"


Ucapku sedikit berbisik sambil melotot kearahnya.


"Maksudku menginap disini,sayangku!"


Jawabnya sambil mencubit pipiku dengan gemasnya.


"Aduh....! Kok kenceng banget sih mas nyubit pipinya aku? sakit tau!"


Ucapku sambil memukul pundaknya namun apesnya dia sudah keburu bangkit dari sampingku dan berjalan pelan meninggalkanku untuk menghindariku.


Aku berjalan cepat untuk mengejarnya namun dia semakin cepat membuatku berlari kecil untuk mengimbangi langkahnya yang semakin cepat dan perlahan mulai berlari menjauhiku dan aku masih terus saja mengejarnya dengan susah payah berlari diantara pasir pantai yang terasa berat membuatku kesusahan melangkah dengan cepat.


Mas Mario berhenti sejenak dan berbalik menatapku saat jaraknya mulai agak jauh dariku.


"Tungguin dong mas! aku capek.....!"


Teriakku dari kejauhan yang juga ikutan berhenti untuk mengatur nafas sejenak.


Tiba-tiba saja dia berjalan mendekat lalu berjongkok didepanku,aku yang mengerti dengan maksud mas Rio segera naik keatas punggungnya sambil tersenyum-senyum dibalik punggungnya.


"Jadi ceritanya kita lagi honeymoon nih?!"


Tanyaku padanya yang masih berada dalam gendongan di punggungnya.


"Kenapa kita tidak kembali ketempat yang tadi saja dan menginap disana?"


Tanyaku lagi tanpa memberinya kesempatan untuk menjawab.


"Aku tidak mau lagi ada gangguan!"


Jawabnya dengan cepat,seakan tak mau lagi aku menanyakan apapun padanya.


"Konsentrasi saja dengan janjimu tadi padaku!"


Ucapnya berusaha mengingatkanku.


"Janji? janji apaan!"


Tanyaku padanya,membuat langkah kakinya terhenti seketika lalu menurunkan aku dari punggungnya.


"Jangan pura-pura lupa!"


Aku hanya diam sambil meletakkan jari telunjukku didahi berusaha mengingat-ingat.


"Nanti biar aku bantu mengingatkanmu saat kita sudah di kamar!"


Ucapnya sambil berlalu dengan menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya yang penuh dengan ancaman.


Entah sejak kapan dia memesan tempat ini,saat kami masuk tiba-tiba saja sudah disambut oleh seorang pria berjas hitam mempersilahkan kami serta memberitahu bahwa kamar untuk kami menginap sudah siap.


Aku memandang kearah mas Rio dengan curiga,sedangkan dia hanya membalasnya dengan senyuman yang seolah penuh dengan ancaman.

__ADS_1


"Mas,aku ke kamar mandi dulu ya....!"


Ucapku sambil berjalan menuju sebuah pintu ketika kami sudah sampai di dalam kamar tempat kami akan menginap.


"Iya,jangan lama-lama!"


Ucapnya sambil membuka almari yang ada di dalam kamar.


'Tok,tok,tok'


"Iya mas,ada apa?"


Tanyaku dari dalam tanpa membuka pintu kamar mandi.


"Buka sebentar pintunya sayang!"


Pintanya terdengar dari balik pintu kamar mandi.


"Apa?!"


Tanyaku sambil mengintipnya sedikit membuka pintu kamar mandi.


"Pakai ini,jangan banyak tanya dan tidak boleh membantah!"


Ucapnya sambil menyodorkan sebuah paperbag berwarna merah marun kepadaku dan segera kuterima lalu kembali masuk kedalam kamar mandi.


"Apa ini!"


Mataku membulat dan dahiku berkerut saat melihat isi dari dalam paperbag yang baru saja diberikan oleh mas Rio padaku.


Mas Rio memandangku dengan wajah bingung saat melihatku keluar dari kamar mandi,dia nampak mengernyitkan dahinya lalu dalam sekejap terkekeh.


Tanyanya padaku ketika melihatku mengenakan jubah mandi ketika keluar dari kamar mandi.


"Baju? yang tadi itu baju!"


Tanyaku dengan wajah kesal,mengingat bagaimana bentuk baju yang ia berikan padaku dan ia minta untuk kukenakan.


Dia bilang baju,tapi menurutku lebih pantas disebut sebagai pakaian dalam karena memang sama sekali tak pantas di sebut sebagai baju jika dilihat dari bentuk serta ukurannya yang begitu minim.


"Ahahaha,sayang itu namanya ligerie memang khusus untuk orang dewasa seperti kita."


Ucapnya berusaha menjelaskan padaku sambil tertawa terbahak melihat wajah polosku.


Aku hanya diam menunduk malu saat melihat tatapannya padaku,meski kami sudsh sering melakukannya tapi nyatanya aku masih ragu dan malu saat dia memintaku mengawalinya.


"Sayang,kamu....kenapa?"


Tanyanya sambil mendekat kearahku dan duduk disampingku dengan jarak yang begitu dekat.


"Hah? ngg...tidak apa-apa kok mas,hehehe"


Jawabku dengan gugup.


"Kamu kenapa gugup begitu? bukankah ini bukan yang pertama kalinya buat kita,hah!"


Dia semakin dekat membuatku semakin susah untuk mengatur nafas dan tanganku terasa gemetar saat dia mulai menyentuh bahuku dan menurunkan sedikit kimono yang kukenakan dibagian bahu.


Kulihat mas Rio tersenyum saat melihatku.

__ADS_1


"Baiklah! Karena ternyata bajunya sudah kamu pakai,aku mau lihat."


Ucapnya sambil bangkit dan berdiri lalu berjalan membelakangiku.


Lho! katanya mau lihat kenapa malah dia membelakangiku begitu? Dasar aneh!


Batinku merasa heran dengan tingkahnya.


"Kenapa kamu malah diam saja? ayo buka,dan mendekatlah!"


Perintahnya padaku.


Aku masih tetap diam ditempatku tanpa pergerakan sedikitpun,aku ragu sekaligus malu jika harus memulainya lebih dulu.


Aku bahkan tidak tau harus memulainya dari mana,aku ragu apakah aku bisa atau justru malah hanya akan ditertawakan olehnya nanti.


"Maura putri anggara!"


Panggilnya khas seperti saat disekolah ketika dia sedang mengabsenku.


"Iya pak guru,saya hadir!"


Jawabku kesal,namun tetap dengan nada sopan sama seperti ketika kami sama-sama di area sekolah.


"Hmmmm! aku memanggilmu,bukan sedang mengabsenmu!"


Kini dia berbalik mengahdap kearahku lalu berjalan perlahan menuju padaku.


"Jadi,harus aku lagi yang memulainya? apakah kamu memang benar-benar tidak menginginkanku?"


Tangannya memegang kedua pundakku,lalu salah satu tangannya menyentuh daguku dan mengangkat wajahku yang masih tetap menunduk.


"Aku........"


"Kenapa? kamu tidak bisa melakukannya? karena malu atau memang tidak bisa karena tidak mau?"


Tanyanya padaku tanpa jeda seolah tak mau memberiku kesempatan untuk menjawab.


"Jika memang kamu tidak mau mungkin karena memang selama ini kamu tidak pernah bisa menerimaku dalam hidupmu."


Kuberanikan diri untuk memandang matanya yang juga memandang tajam kearahku tanpa berkedip sama sekali.


Perlahan kupejamkan mataku dan ku tarik nafas panjangku,berusaha menenangkan diri sendiri dari rasa gugup.


Mas Rio justru tertawa melihat tingkahku yang menurutku sama sekali tidak lucu.


"Kamu kenapa? saat pertama kali melakukannya,bukankah juga kamu yang memulainya? benar kan sayang!"


Kupejamkan kembali mataku lalu kutundukkan wajahku karena rasa malu yang tak berujung.


Jadi malam itu aku yang memulainya?


Tanyaku dalam hati.


Kenapa aku tidak ingat semuanya? yang kuingat semuanya sudah terjadi karena memang aku tak mampu mengontrol diriku sendiri malam itu.


Perlahan mas Rio menarik tubuhku kedalam pelukannya lalu mencium keningku perlahan seolah berusaha menenangkan hatiku yang sedang gelisah.


Kenapa dia selalu tau apa yang sedang kurasakan serta kubutuhkan? Dan juga kenapa aku benar-benar merasa tenang dan nyaman saat berada dalam pelukannya serta saat dia mencium keningku rasanya hatiku benar-benar damai dan tenang seperti berada di surga.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2