
Terdengar suara hapeku berbunyi tanda baterai telah melemah dan perlu diisi ulang,seolah berteriak meminta untuk segera dicolokkan pada soket pengisian daya yang sering kita sebut dengan charger.
Baru saja akan kucolokkan chargerku kelubang stop kontak,hapeku sudah keburu mati.Mungkin dia terlalu lelah kugunakan untuk mencoba menghubungi mas Rio berkali-kali sejak sore tadi hingga tanpa sadar sampai menghabiskan daya baterai hapeku.
"Kenapa tidak membiasakan diri untuk sekalian memakai pakaian dikamar mandi sih mas!"
Protesku padanya,karena dia selalu keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di bagian bawah tubuhnya.
Selalu membuatku tidak nyaman setiap melihatnya dalam keadaan seperti itu.
Aku hanya bisa mengalah untuk berbalik badan sampai dia selesai mengenakan seluruh pakaiannya,atau terkadang aku sengaja keluar dari kamar setiap dia mandi jadi aku tidak perlu melihatnya tanpa pakaian seperti sekarang ini.
"Mas sudah makan? kalau belum biar kusiapkan makan dulu ya!"
Tanyaku masih sambil membalik badanku dari arahnya,aku pikir jika aku keluar dari kamar dengan alasan menyiapkan makan malam untuknya maka aku mataku ini akan aman terhindar dari pemandangan yang menyesatkan itu.
"Tidak perlu!tadi sudah makan di cafe,"
Jawabnya sambil berjalan melewatiku meraih hapenya yang ada di meja belajarku.
Rupanya dia sudah selesai mengenakan seluruh pakaiannya,jadi sudah aman!
Kirebahkan tubuhku diatas tempat tidur sementara mas Rio sedang duduk di tepi tempat tidur berusaha mengotak atik hape miliknya.
"Beneran rusak?"
Tanyaku sambil melirik hape miliknya.
"Sepertinya iya!"
Jawabnya sambil meletakkan hapenya di nakas dekat timpat tidur.
Baru saja mas Rio merebahkan tubuhnya disampingku tiba-tiba saja lampu kamarku padam.
Suasana menjadi gelap gulita karena sepertinya pemadaman total dari pusat.
"Ra....apakah dikamarmu tidak ada lampu emergency!"
Tanya mas Rio dengan berbisik,suaranya terdengar panik seperti seseorang yang sedang ketakutan.
"Sebenarnya ada,tapi sedang rusak!"
Jawabku pelan.
"Senter juga tidak ada?"
"Tidak,kenapa? toh kita sudah mau tidur kan,sepertinya tidak ada lampu juga tidak apa-apa!"
"Ra.....!"
"Hhhhhhmmm!"
Jawabku masih tanpa bergeming.
"Aku takut!"
Bisiknya lirih padaku.
"Benarkah?"
Ledekku padanya,karena dia pasti juga sedang meledekku.
"Aki serius!"
Suaranya terdengar semakin gugup.
"Jangan tinggalkan aku,aku takut! mendekatlah!"
Bisiknya lagi dengan suara yang terdengar semakin gugup,sepertinya dia benar-benar takut.
__ADS_1
Aku baru teringat cerita mami,jika mas Rio takut dengan gelap.Aku kira mami hanya bercanda saja saat itu,apakah dia benar-benar setakut itu dengan kegelapan?
Batinku.
"Mas beneran takut?"
Tanyaku ikutan berbisik.
"Cepat kemari,aku tidak bisa melihatmu bahkan tidak bisa melihat apapun!"
"Aku sudah disampingmu mas,apa yang kamu takutkan?"
"Mendekatlah!"
Bisiknya lagi,kini suaranya seperti seseorang yang mulai kesulitan bernafas.
Aku segera meraba sekitar mencoba untuk mendekat kearahnya,saat kurasa tanganku menyentuh tubuhnya segera mas Rio ambruk di dalam pelukanku.
"Mas? mas baik-baik saja kan!"
Mas Rio masih terdiam tak ada jawaban,masih kudengar nafasnya yang seperti tersengal dan tangannya dengan kuat mencengkeram lenganku.
"Mas,mas Rio! jangan membuatku takut! mas tidak apa-apa kan?"
Mataku mulai basah oleh air mata,takut terjadi hal buruk padanya.
Aku takut jika dia mati sekarang,mati di kamarku bahkan di tempat tidurku dan sedang dalam pelukanku pula.
Ya Allah....aku takut,aku takut jika ketika lampu menyala kulihat mayat sedang terbujur dipangkuanku.Aku pasti akan di tuduh membunuhnya.
"Diamlah!"
Bisiknya masih sambil memegang erat tanganku,kudengar bisikannya begitu dekat dengan telingaku.Meski dalam suasana gelap dan aku tidak bisa melihatnya dengan jelas namun bisa kurasakan sepertinya wajahnya tidak jauh dari wajahny.
"Mas,masih hidup?"
"Iya! aku hanya takut,jangan pernah meledekku karena ini!"
Ancamnya padaku,masih sempat-sempatnya dia mengancam seperti ini dalam keadaannya yang sedang seperti itu.
"Apakah mas sekarang sedang memejamkan mata?"
Tanyaku mulai menebak.
"Iya,kenapa?"
Tanyanya padaku.
"Coba mas buka mata,supaya tidak semakin takut!"
Pintaku padanya.
"Apa bedanya terlejam atau kubuka mataku tetap saja terlihat gelap!"
Jawabnya.
"Saat tidak ada cahaya usahakan mata jangan terpejam,karena akan semakin terlihat gelap.Tenanglah aki disini bersamamu,cobalah pelan-pelan buka mata mas!"
Pintaku masih sambil memeluknya supaya lebih tenang.
"Sudah?"
Tanyaku padanya yang hanya diam tak bersuara.
"Iya,tapi tetap gelap!"
"Memang gelap,tapi perlahan mata mas akan mulai terbiasa dengan keadaan sekitar."
"Aku tidak mau kegelapan ini membunuh siapapun!"
__ADS_1
Ucapnya pelan,terdengar suaranya serak sepertinya dia benar-benar masih takut.
"Tenanglah! tidak akan terjadi apapun pada kita disini,mas aman berada disampingku!"
Meski masih bingung dengan keadaannya saat ini,namun aku mulai iba padanya.Sepertinya ada sesuatu yang menakutkan pernah terjadi padanya disaat gelap.
Karena mustahil seorang dewasa seperti dia begitu ketakutannya pada kegelapan.
Aku tak mau menanyakan padanya meski saat ini aku begitu penasaran,kubiarkan dia tenang dalam pelukanku.
"Apakah sekarang kamu sedang menertawakanku?"
Tanyanya dengam berbisik.
"Tidak ada yang perlu kutertawakan, seseorang pasti punya alasan tersendiri kenapa begitu takut dengan sesuatu!"
Jawabku pelan.
"Terima kasih,"
Ucapnya sambil tetap memegang erat tanganku.
"Mas masih takut?"
Tanyaku.
"Kenapa?"
"Badan mas berat sekali menimpaku sedari tadi,aku sudah tidak kuat menahannya.Tangan dan kakiku mulai kesemutan!"
Ucapku memberitaukannya supaya tidak lagi menyandarkan tubuhnya padaku.
"Maaf! tapi janji jangan meninggalkanku?"
"Iya,aku akan tetap disini.Atau mau ikut denganku keluar untuk mencari lilin?"
"Tidak,diluar pasti sangat gelap."
"Lalu sampai kapan kita akan seperti ini dalam gelap-gelapan? jangan mencari kesempatan!"
"Jangan menuduhku Maura!"
"Huh! iya,iya!"
Jawabku pasrah.
Tak lama berselang lampu menyala terang kembali,kulihat mas Rio yang masih menyandarkan tubuhnya padaku perlahan mulai bergeser menjauh dariku.
"Malam itu hujan turun dengan deras,papi belum pulang dari kantor sedangkan kak Reina sedang belajar dikamarnya.Aku sedang menemani mami yang sedang sakit dikamarnya,seorang pelayan sedang menyiapkan makan malam untuk mami dan hanya ada aku sendirian dikamar menemani mami.
Tiba-tiba lampu padam,suasana kamar begitu gelap.Tak ada apapun yang bisa kulihat,aku hanya bisa memanggil-manggil mami yang sedang terbaring sakit di tempat tidur tanpa jawaban.
Saat seorang pelayan datang bersama kak Reina dengan membawakan lilin,tak lama setelahnya lampu menyala kembali.
Lalu saat pelayan hendak membangunkan mami yang sedang tertidur........"
Mas Rio menghentikan ceritanya sesaat,nampak menahan nafas lalu mencoba menghela nafas panjang.
"Mami sudah tidak bangun lagi untuk selamanya."
Mas Rio mendongakkan kepalanya melihat langit-langit kamarku,sepertinya sedang menahan air matanya yang mulai menggenang.
Aku sangat prihatin dengan kisahnya,ternyata didalam diri yang begiru dingin dan cuek tersimpan sisi rapuh darinya yang tidak semua orang tau.
"Mas,bukan kegelapan yang merenggut almarhum maminya mas.Semua memang sudah takdir,mas tidak perlu lagi menakutkan apapun!"
Ucapku berusaha sok menggurui orang yang jauh lebih dewasa dariku ini.
BERSAMBUNG........
__ADS_1