
Pagi-pagi sekali pak Pras dengan mobil yang di kendarainya semalam telah siap di halaman rumah,bahkan aku baru saja selesai mengenakan seragam sekolahku.
"Selamat pagi nona Maura!"
Sapanya padaku saat aku baru saja keluar dari rumah untuk menemuinya.
"Pak Pras pagi sekali datangnya?"
Tanyaku sambil membetulkan letak dasi yang menggantung dileherku.
"Ini perintah tuan muda,supaya nona tidak terlambat kesekolah."
"Tapi tidak perlu sepagi ini pak Pras! bahkan saya belum selesai bersiap.Pak Pras sudah sarapan? kalau belum mari masuk,sarapan dulu!"
Ajakku.
"Terima kasih nona,saya sudah selesai sarapan.Saya tunggu nona disini saja sampai nona siap berangkat."
"Baiklah!"
Aku kembali masuk kedalam rumah untuk meneruskan bersiap-siap dan tak lupa sarapan.
"Halo....! kenapa pak Pras datang pagi sekali? bahkan aku belum sarapan dia sudah ada didepan,aku tidak enak hati jika dia menungguku terlalu lama!"
Ocehku di dalam panggilan pada mas Rio,kuturuni anak tangga dengan terburu-buru sambil kugendong tas merahku di pundak.
"Selamat pagi semua!"
Sapaku saat kulihat mama,papa,om Deni,kak Rendi dan nenek kini sudah siap di meja makan untuk sarapan.
"Pagi nenek...!"
Kuciumi pipi nenek yang sudah sangat harum,khas bunga lavender yang sering kali tercium dari aroma tubuh nenek.
"Ma...Rara sarapan dijalan saja ya!"
Ucapku sambil berpamitan dan mencium punggung tangam semua yang ada di ruang makan.
"Bik,tolong bawain bekal susu sama roti ya!"
Pintaku pada bibi sambil berpamitan.
"Baik non."
"Kenapa tidak sarapan dulu dirumah? kan baru jam segini!"
Jawab papa sambil mengunyah sarapan paginya.
"Nggak enak sama pak Pras pa,sudah menunggu di depan dari tadi."
Jawabku sambil membantu bibi meletakkan roti isi selai kacang di dalam kotak bekal berwarna merah muda.
Aku segera melesat keluar rumah segera setelah berpamitan dan mengucapkan salam.
"Kita berangkat sekarang nona?"
Tanya pak Pras padaku.
"Iya!"
Segera aku masuk kedalam mobil,kulihat bibi berlari dengan sangat terburu-buru menghampiri mobil yang kami tumpangi sambil membawa botol berisi susu untukku.
"Non! susunya ketinggalan....!"
__ADS_1
Pak Pras segera membukakan kaca jendela mobil lalu segera kuterima susu yang bibi ulurkan padaku.
"Terima kasih ya bik!"
"Iya non sama-sama,hati-hati dijalan ya....!"
Ucap bibi sementara mobil telah berjalan pelan menuju gerbang rumahku dan segera melesat menuju jalan.
Sepanjang perjalanan aku sempatkan untuk sarapan dan menghabiskan bekal susu yang bibi bawakan untukku.
"Maaf nona apakah nona sedang terburu-buru,sampai harus sarapan didalam mobil?"
Tanya pak Pras padaku.
"Pak Pras yang membuatku terburu-buru!"
"Maaf nona,saya yang salah karena datang terlalu awal."
Pintar sekali dia,langsung tau apa kesalahannya tanpa haruas kuberi tahu atau mendengar omelanki dulu baru dia tau kesalahannya.
"Besok saya harus datang pukul berapa nona? supaya nona tidak terlambar dan tidak terburu- buru."
"Datang saja kira-kira jam enam lebih lima belas menit,jangan terlalu pagi dan kalau kesiangan tolong kabari saya supaya saya tidak terlalu lama menunggu!"
"Baik nona,maaf atas kesalahan saya pagi ini."
"Sudah saya maafkan pak,lagipula itu bukan masalah besar tidak perlu berkali-kali meminta maaf!"
"Iya nona."
"Pak Pras serius sudah sarapan? kalau belum mari makan bersama! ini masih ada roti satu lagi,ambil lah!"
"Terima kasih nona,saya sungguh suda sarapan tadi bersama tuan muda!"
"Iya nona!"
"Pak Pras yang masak? atau mas Rio?"
"Saya nona."
"Sarapan apa?"
"Nasi goreng tanpa cabai,telur ceplok setenga matang dan kopi susu hangat nona."
"Mas Rio suka sarapan seperti itu?"
"Iya nona."
"Pak Pras sudah lama bekerja di keluarga Wijaya?"
"Lumayan nona."
"Sudah lama kenal sama mas Rio dong?"
"Iya nona,maaf nona mohon jangan menanyakan sesuatu yang tidak seharusnya saya jawab!"
"Tidak,saya hanya menanyakan hal sepele saja kok!"
"Berapa lama pak Pras kenal mas Rio?"
"Sejak kecil nona."
"Hah! kalian dulu waktu kecil berteman?"
__ADS_1
"Tidak nona,almarhum ayah saya adalah sekretaris pribadi tuan besar."
Jawabnya.
"Maaf pak Pras,saya tidak bermaksud mengungkit kesedihan pak Pras.Saya ikut berduka atas meninggalnya ayah pak Pras."
"Tidak apa-apa nona,semuanya sudah lama berlalu."
"Trus pak Pras sejak kapan menjadi asisten pribadi mas Rio?kok selama mas Rio mengajar saya tidak pernah melihat pak Pras?"
"Karena tuan muda tidak pernah mengajak serta saya kemari,nona."
"Nona,maaf kita sudah sampai."
Akhirnya sesi tanya jawab harus berakhir samoai disini dulu,mungki akan ada sesi berikutnya.
Aku sempat bertukar kontak dengan pak Pras sebelum masuk kedalam gerbang sekolah,aku juga berpesan agar pak Pras tidak perlu stand by di sekolah.Pak Pras bebas jika mau kemanapun dan melakukan apapun selama aku sekolah dan saat pulang sekolah akan kuhubungi dia untuk menjemputku,juga kuberitahu dia jika di area sekolah hape tidak kubawa melainkan di kumpulkan oleh guru BK.
Aku melenggang memasuki gerbang sekolah yang sudah terbuka lebar,kusapa pak satpam yang sedang berjaga sambil berjalan santai memasuki area sekolah.
"Rara.....!"
Teriak Medina memanggil dan berlari padaku.
"Kemarin bagaimana acara lamarannya?"
Tanya Medina padaku sambil tersenyum lebar kearahku.
"Lamaran! kamu tau dari mana soal lamaran?"
Tanyaku kembaki padanya,kaget mendengar pertanyaan yang baru saja dia lontarkan padaku.
"Dari kak Rendi,katanya kemarin kalian keluar kota karena sedanga ada acara lamaran saudara!"
"Hufh!"
Kuhembuskan nafas panjangku,merasa begitu lega dada ini karena ternyata Medina tidak mengetahui jika kemari adalah acara lamaranku dengan pak Mario.
"Kamu kenapa?"
"Tidak,hanya lelah saja!"
"Lelah? baru berjalan dari sana kemari lelah kamu bilang? kayak nenek-nenek saja kamu ini."
Ejek Medina padaku sambil tertawa dan kami kini sudah sampai didepan kelas.
Tak lama setelah kami masuk kedalam,kelas datanglah Samuel dengan terengah-engah sambil menggendong tas ranselnya.
"Kalian bagaimana ngedatenya kemarin di toko buku?"
Tanyaku menggoda Medina dan Samuel,Medina hanya tersenyum malu sambil memalingkan wajahnya.Sedangkan Samuel memelototkan matanya padaku.
"Apa Sam? kamu berani padaku!"
Bisikku padanya.
"Jangan mengancamku!"
Jawabnya sambil menujulurkan lidah untuk mengejekku.
Hari ini Jesi tidak berangkat sekolah karena sakit,aku merasa agak sedikit aneh karena akhir-akhir ini jesi sering izin sakit atau jika dia berangkat kesekolah pun wajahnya sering terlihat pucat dan lesu.
Kami mulai bertanya-tanya sebenarnya Jesi sakit apa? Namun karena Medina dan Samuel yang kini mulai tak begitu memperdulikan Jesika kini mengabaikannya dan tak ingin tau lebih dalan soal keadaan Jesi.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....