
Cahaya yang begitu terang terasa menyilaukan mataku yang masih terkantuk.
Sepertinya ini bukan cahaya alam dari sang surya,melainkan cahaya terang yang berasal dari lampu kamar yang menyala.
Kubuka mataku perlahan sambil kuhalangi mataku dari silau cahaya lampu dengan telapak tanganku.
Kusibakkan selimut yang menutupi tubuhku yang berbalut kemeja panjang milik mas Rio yang hanya menutupi sebagian dari kakiku hingga menampakkan tekukan bagian lututku.
Kubulatkan mataku melihat jam dinding yang ada dikamar mas Rio,yang menunjukkan waktu tengah malam.
Aku berjalan pelan hendak menekan sakelar untuk memadamkan kembali lampu kamar yang terlalu terang untukku kembali tidur.
Baru saja jariku berada di depan sakelar dan belum sempat menyentuhnya,aku dikejutkan oleh bunyi pintu kamar mandi yang tertutup.
Saat kutoleh kearah pintu kamar mandi,ternyata mas Rio yang baru saja keluar dari kamar mandi bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk yang melilit di bagian bawah tubuhnya.
Aku begitu terkejut melihat pemandangan alam yang sama sekali belum pernah kulihat sebelumnya dengan mata suciku ini.
Dengan buru-buru ku palingkan wajahki kearah lain menutupi wajahku yang sudah merah padam karena rasa malu dan segera berjalan cepat menuju tempat tidur lalu menutupi bagian bawah tubuhku dengan selimut.
Mas Rio keluar dari ruang ganti yang berada tepat di depan kamar mandi didalam kamarnya,lengkap dengan kaos polos dan celana pendek yang ia kenakan sambil mengusap-isap kepalanya berusaha mengeringakan rambutnya dengan handuk.
"Kenapa kamu pakai bajuku?"
Tanya mas Rio sambil memandangiku sambil berjalan pelan kearahku.
"Aku pinjam,karena disini tidak ada satupun baju yang layak untuk ku pakai,"
__ADS_1
Jawabku sambil tertunduk.
"Benarkah?"
Ucapnya sambil duduk di ranjang tempatku duduk sambil menutupi bagian bawah tubuhku dengan selimut.
"Lihatlah sendiri di sana!"
Ucapku sambil menunjuk kearah ruang ganti.
"Bukankah pelayan sudah menyiapkan semuanya untukmu?"
Tanyanya seolah tak percaya.
"Pakaian ganti yang kubawa dari rumah ada di kamarku yang sebelumnya,saat aku kesana sudah dalam keadaan terkunci."
"Semuanya bilang kalau kuncinya dibawa oleh mamai,dan lihatlah sendiri semua baju yang ada di dalam sana! sepertinya memang semua itu untukku,tapi......"
"Kenapa?"
Tanyanya bingung sambil berjalan menuju ruang ganti,namun berhenti di depan pintu.
"Sini! tunjukkan padaku baju seperti apa yang kamu bilang tak layak untuk kamu pakai."
Menungguku didepan pintu ruang ganti agara aku segera mengikutinya dan menunjukkan baju yang menurutku tidak layak untuk kupakai.
"Tapi.....!"
__ADS_1
Ucapku ragu,aku merasa tidak nyaman jika mas Rio melihatku hanya mengenakan kemeja miliknya tanpa bawahan.
"Aku ini suamimu,apapun yanh ada pada dirimu sudah seutuhnya menjadi milikku! untuk apa kamu malu jika aku melihatnya?"
"Tapi....bukankah kita sudah membuat perjanjian!"
"Dalam perjanjian,apakah tertulis aku tidah boleh melihat!"
Aku hanya terdiam sambil melihat kearahnya yang sedang melihat kearah lain seolah acuh padaku.
"Melihat tidak sama dengan menyentuh! ayo bangun! tunjukkan padaku baju seperti apa yang kamu maksud!"
Ajaknya sambil menggiringku keruang ganti agar aku berjalan lebih dulu untuk memasuki ruangan yang penuh dengan pakaian,sepatu dan juga jam tangan yang berjajar di almari kaca khusus.
Kubuka sebuah almari berpintu serba putih,kuperlihatkan padanya beberapa pakaian yang tergantung rapi didalamnya dengan berbagai model dan warna namun tidak mungkin kukenakan saat didepannya.
Mas Rio hanya menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal karena dia baru saja keramas,lalu mengacak-acak rambutnya yang masih setengah basah.
"Mami......!"
Ucap mas Rio sedikit berteriak dengan kesal.
Mas Rio menyuruhku untuk segera tidur kembali di ranjang sedangkan dia sendiri memilih tidur disofa sambil menyalakan tivi dengan suara sangat pelan karena sepertinya dia tak mau mengganggu istirahatku.
Ini adalah malam pertama kami sebagai sepasang suami istri yang harus tidur dalam satu kamar yang sama dengan tempat tidur yang terpisah.
BERSAMBUNG......
__ADS_1