Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Sahabat mama


__ADS_3

Tidak ada jawaban pasti dari mama,saat kutanyakan perihal usulku untuk tidak lagi tinggal dirumah yang sedari dulu kutempati hingga aku sebesar ini.


Aku sendiri bingung harus bagaimana setelah mengetahui kebenaran ini,apakah aku harus pergi dari sini ataukah tetap tinggal.


Permasalahannya ada pada hubungan antara aku dengan kak Rendi yang kenyataannya kami bukanlah saudara kandung.


"Ma,Rara ke kamar dulu ya?"


"Iya sayang,istirahatlah."


Aku segera kemarku untuk berganti pakaian dan menunaikan kewajibanku sesuai ajaran orang tuaku dalam agama yang ku anut.


Perutku terasa lapar karena memang aku belum makan siang,namun rasanya tubuhku ini rasanya sedang malas bergerak alias mager.


'Tok,tok,tok!'


"Iya,siapa?" Tanyaku.


"Ini mama sayang."


Jawab mama dari luar pintu,mama tidak bisa masuk karena memang sengaja pintu ku kunci.


Ku berjalan dengan enggan lalu segera kupegang gagang pintu dan kuputar kunci yang menggantung dilubang pintu kamarku.


"Iya ma?"


"Kita makan siang dulu yuk!"


Ajak mama padaku sambil menggandengku menuruni anak tangga menuju meja makan.


"Ma......nanti sore boleh Rara kerumah Medin?"

__ADS_1


"Medin?"


"Iya ma,kemaren itu aku nginep dirumahnya terus barang-barang aku masih disana."


"Yaudah nanti sore mama temenin ya,sekalian mama mau ketemu sama orang tua Medina."


"Mama mau ngapain ketemu orang tua Medina?"


"Mau bilang terima kasih,karena mereka sudah jagain anak gadis mama."


Jawabnya sambil tersenyum.


Setelah selesai menghabiskan makan siangku,langsung kubereskan bekas peralatan makanku lalu kucuci piring dan kawan-kawannya segera.Mama dengan heran hanya memandangiku,aku yang manja dan terbiasa apa-apa dilayani hari ini mendadak mandiri tanpa alasan apapun.


"Apaan sih ma lihatin aku kayak gitu? dirumah Medin juga kayak gimi ma,nggak ada ART jadi apa-apa dilakuin sendiri."


"Terus disana kamu juga cuci piring?"


Mama mengeryitkan dahi dan dengan secepat kilat memandang ke arahku sambil menatapku tajam seolah menungguku menjelaskan maksud dari perkataanku.


"Di sana kamu juga minta dilayani?!"


"Hehehe,sebenarnya aku mau bantuin ma.....tapi kata Medina nggak usah,padahal aku lihat adik-adiknya yang masih SD sudah bisa lakukan apa-apa semua sendiri aku jadi malu sama mereka yang sudah sebesar ini tapi masih dilayani."


Mama memelukku dengan erat,ketika ku letakkan piring bersih di rak sebelah tempatku mencuci piring.


"Tetaplah menjadi putri manis mama sayang."


Mama lagi-lagi menangis sambil memeluk erat tubuhku.


"Ma....jangan nangis dong,Rara jadi ikutan sedih."

__ADS_1


"Mama bahagia memilikimu selama ini nak,tapi mama juga sedih karena takut akan kehilanganmu saat kamu tau kebenarannya."


"Ma....dimanapun aku berada aku tetaplah anak mama,aku janji ma."


"Janji ya jangan pergi-pergi lagi."


Kupandangi wajah mama,rasanya aku tidak tega melihat kesedihan diwajah mama yang selama sudah begitu menyayangiku.


Sorenya aku dan mama pergi kerumah Medina untuk mengambil beberapa barangku yang tertinggal,tak lupa kami bawakan beberapa bungkus makanan serta sedikit sembako untuk mereka sebagai tanda terima kasih kami.


Awalnya keluarga Medin merasa terkejut dan ibunya sempat menolak pemberian kami,namun mama terus memaksa akhirnya mereka menerima pemberian kami dengan ucapan terima kasih yang tak henti-hentinya mereka ucapkan.


Mama sangat terkejut ketika ada seorang laki-laki paruh baya masuk kedalam rumah sambil mengucap salam,kami semua yang mendengarnya sontak dengan spontan menjawab salam yang ayah Medin ucapkan.


Sejenak mama saling pandang dengan ayah Medin,seolah mereka seperti dua orang yang sudah saling kenal sebelumnya.


"Diana?"


"Mas Yahya?"


"Kalian saling kenal?"


Tanya bu Ratih,ibunya Medina.


Cerita punya cerita ternyata om Yahya adalah kakak dari sahabat semasa SMP mama yang bernama Wulan.


Bukanlah sebuah kebetulan mereka bertemu di sebuah pertemuan yang tidak sengaja seperti ini karena mama baru tau bahwa ternyata Wulan,sahabat semasa SMP mama sudah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan sesaat setelah melangsungkan pernikahannya.


Mama menangis sesenggukan ketika mendengar kebenaran dari cerita tentang sahabatnya dari om Yahya.Karena sejak lulus SMP keluarga Wulan pindah keluar kota karena orang tuanya yang jatuh bangkrut karena terlilit hutang,sejak saat itu mama tak pernah lagi bertemu Wulan sampai mendengan kabar tentangnya sekarang.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2