
Aku tak sengaja mencuri dengar,namun pembicaraan mereka nyatanya kedengeran sampai di depan pintu tepan dimana aku berdiri sekarang.
"Maura harus tau siapa sebenarnya."
Ku kernyitkan dahiku mendengar perkataan nenek dan mama yang sedang membicarakanku.
"Iya ma,tapi tidak sekarang."
"Dia sudah semakin dewasa,dia pasti paham jika kamu menjelaskannya."
"Iya ma,saya paham."
"Maura semakin dewasa,mama dengar Rendi menaruh hati padanya.Ini yang mama khawatirkan dari dulu,karena Rendi tau sejak kecil kalau Maura bukan adik kandungnya."
'Deg!'
Aku? jadi.....aku.....bukan anak kandung mama dan papa? batinku,tanpa terasa air mata mengalir melewati pipiku.
"Lho non Rara mau nganterin makanan buat nyonya?"
Kehadiran bu Sum yang secara tiba-tiba mengagetkanku.
Bu Sum melihatku membawakan nampan berisi makanan didepan kamar nenek,sudah pasti untuk nenek.Segera kusodorkan nampan berisi makan untuk nenek padanya lalu kutinggalkan begitu saja,tak ku hiraukan bu Sum yang memanggil-manggil namaku.
Kutarik nafas dalam,berusaha kutenangkan diriku sendiri dengan beristighfar semoga saja apa yang kudengar barusan tidaklah benar.
Segera kuberlari menuju kekamar,kulohat kak Rendi sudah tak ada di kamarku segera ku masukkan kedalam tas sekolahku beberapa barang bawaan lalu kuganti pakaianku.
__ADS_1
"Mau kemana dek,udah rapi aja?"
Tanya kak Rendi saat berpapasan denganku ketika keluar dari kamar.
"Pergi."
Jawabku singkat.
"Kemana?"
Tanpa ku hiraukan kak Rendi aku berlalu begitu saja,pergi dengan taksi online yang sudah kupesan.
"Ren,Rara mana?"
"Pergi ma,emang nggak pamit sama mama?"
"Nggak,sekarang kita cari adek kamu sampai ketemu."
Aku segera menuju rumah Medina sesuai titik lokasi tujuan taksi online yang sekarang kutumpangi.Serta ku hubungi Medina,memberinya kabar bahwa aku sedang dalam perjalanan menuju kerumahnya.
Benar saja Medina merasa sangat terkejut saat melihatku sampai dirumahnya dengan membawa tas,sepertinya dia sudah bisa menebak keadaanku lewat raut wajahku yang kacau.
"Ayo masuk dulu Ra"
Ajaknya menuntunku menuju kedalam rumah dan dibawanya aku masuk kedalam kamarnya.
Sesampainya didalam kamar Medina memelukku agar aku bisa kuat menghadapi apapun masalahku namun disani tangisku pecah,aku menangis sesenggukan dalam pelukan sahabat dekat yang selama ini paling mengerti tentangku.
__ADS_1
Setelah tangisku agak mereda,Medina memberuku segelas air minum agar pikiranku semakin jernih sebening air putih yang kutenggak perlahan.
Kutarik perlahan nafas panjangku disela sesenggukan diiringi tangisku yang mulai redan dan air mata yang sedikit berkurang membanjiri kamar Medina yang sempit namun jauh lebih melegakan berada disini saat ini.
"Kamu kenapa Ra? ada hubungannya sama kak Roi tadi disekolah?"
Tanyanya,namun aku hanya menggeleng dengan tangan masih menggenggam gelas bekas minumku.
"Lalu? karena kak Rendi?"
"Bukan Din.Ini jauh lebih rumit dari rumus pak Widodo dan lebih sulit dari teori pak Andri."
Jawabku dengan asal.
"Ya iyalah lebih sulit dan lebih rumit dari pelajaran matematik,sain dan sejenisnya kamu kan nggak pernah ada kesulitan dan kerumitan dalam menghadapi segala mata pelajaran ra!"
Sahutnya dengam nada kesal.
"Benarkah?!"
Tanyaku,kupejamkan mata serta merebahkan diri diatas kasurnya yang tak seluas serta seempuk kasurku dirumah,namun terasa lebih nyaman.Medina jadi ikutan merebahkan diri disampingku.
"Ternyata aku ini bukan anak kandung orang tuaku Din."
Kataku pelan sambil mengambil nafas dalam.
"Hah?!"
__ADS_1
Medina bangkit dari rebahannya dan duduk disamping tubuhku yang rasanya masih enggan bangkit,mataku menerawang langit-langit kamar Medina yang sebenarnya tak kutemukan hal unik atau aneh disana.
Bersambung.....