Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Usul papa


__ADS_3

"Papa sendirian?"


Tanyaku sambil mendekat kearah mama.


"Iya. Papa ke Masjid dulu."


Jawabnya singkat dan berlalu pergi begitu saja.


"Ma.....aku mau kekamarku,mau mandi trus sholat subuh."


Pamitku sambil berjalan menuju anak tangga akan segera naik kelantai atas menuju kamarku.


"Tunggu!"


Teriak mama,sontak kuhentikan langkahku karena terkejut mendengar teriakan mama.


Bahkan bibi dan bu Sum yang sibuk membantu mama menyiapkan masakan untuk sarapan kami sekeluarga jadi ikut mematung karena terkejut dengan teriakan mama.


"Ada apa ma?"


Tanyaku bingung.


"Biar di temenin sama bibi,sekalian bantuin ganti sprei kamu yang basah semalam."


Dengan wajah bingung bibi hanya menurut setelah mama menoleh kearahnya,seolah paham dengan kode yang mama berikan.


Bibi ikut naik ke lantai atas sambil berjalan mengikutiku dibelakangku.


"Non tadi kata nyonya spreinya non basah, kok bisa?"


Tanya bibi penasaran.


"Mmmmmm....ketumpahan air minum bi,makannya semalem aku tidur di kamar mama.maaf ya bi jadi harus ngerepotin bibi lagi padahal kemaren baru diganti."

__ADS_1


Terpaksa aku harus melakukan dosa dengan berbohong pada bibi.


"Nggak papa non,ini kan sudah tugasnya bibi.Kenapa nggak sekalian saja semalem minta tolong bibi untuk ganti spreinya non?"


"Udah malem banget bi,nggak enak bangunin bibi lagi istirahat."


Jawabku sambil bersiap menuju ke kamar mandi.


"Bi tolong kalo sudah selesai ganti spreinya jangan turun dulu ya,temenin aku disinu dulu sampai selesai mandi."


Kataku sambil mengeluarkan kepalaku dari dalam kamar mandi,sedangkan tubuhku masih didalam dan terhalang oleh pintu.


"Baik non."


Jawab Bi Umi,dengan rasa penasarannya karena tidak biasa-biasanya aku minta ditemenin kayak sekarang ini.


Setelah selesai mandi aku segera sholat subuh dikamar mama karena bibi sudah selesai menggantikan sprei dikamarku,karena aku tak berani berlama-lama sendirian dikamarku sejak kejadian semalam.


Setelah selesai sarapan mama dan papa memanggilku kekamarnya,kami bertiga masih saling diam sesaat sampai akhirnya papa memulai percakapan.


Ucapnya sambil duduk disebelahku,kini aku duduk diantara mama dan papa di tepi ranjang tempat tidur kedua orang tua angkatku.


"Kenapa malah papa yang meminta maaf? kan papa nggak salah.


Jawabku dengan nada bingung sambil menoleh kearahnya.


"Karena papa tidak bisa mendidik Rendi dengan baik sampai melakukan hal memalukan seperti semalam.Sekarang Rara jujur sama mama dan papa,Rendi tidak melakukan hal yang......."


"Nggak pa,Alhamdulilah Allah masih melindungiku dari hal buruk."


Jawabku dengan tergesa-gesa memotong pembicaraan papa.


"Lalu sekarang kita harua bagaimana pa?"

__ADS_1


Tanya mama.


"Haah!"


Papa menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Satu-satunya solusi hanya......"


Aku dan mama terdiam memandang kearah papa menunggu kelanjutan ucapan papa yang terhenti membuat kami begitu penasaran.


"Rara harus secepatnya kita nikahkan."


Kata papa pelan.


"Hah?! nikah pa?"


Tanyaku dengan sedikit berteriak,lalu buru-buru ku bungkam mulutku dengan kedua telapak tanganku sendiri.Rasanya seperti mimpi,aku benar-benar belum bisa percaya dengan usul papa.


"Apa nggak ada solusi lain pa? Aku kan masih sekolah,aku belum siap menikah muda."


Tanyaku memprotes.


"Iya pa.....lagi pula mau kita nikahkan dengan siapa?"


Tanya mama,sedangkan papa nampak hanya terdiam sambil menghela nafas panjang.


"Semalam papa sudah tanya ke mama tentang keputusan papa ini."


"Mama setuju pa?"


Tanya mama kepada papa,karena ternyata semalam papa tidur dikamar nenek dan sempat mendiskusikan hal ini semalaman.


Menurut cerita dari papa,bahwa awalnya nenek menolak keras jika aku harus di jodohkan dan menikah muda hanya untuk menghindari kak Rendi.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2