Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Surat ungkapan hati


__ADS_3

Kubanting pintu kamarku dan segera kukunci dari dalam.Kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur,kubenamkan wajahku diatas bantal sampai suara tangisnku tak terdengar.


Aku kembali bangkit saat terdengar suara dering hape milikku,kulihat nama pak Mario pada panggilan yang tertera di layar ponselku.


"Halo,Assalamu'alaikum!"


Jawabku lalu diiringi ucap salam dariku sambil tanganku mengusap pipiku yang masih basah oleh air mata.7


"Waalaikum salam,istriku sedang apa sekarang? pasti sedang membuka kado dariku ya!"


Tanya mas Rio mencoba menebak sambil menggodaku.


"Iya,ini baru mau aku buka bungkus yang ke.......berapa ya? ketiga sepertinya!"


Jawabku.


"Tunggu dulu!"


Ucapnya membuat aktifitas tanganku langsung berhenti saat baru saja hendak membuka bungkus ketiga.


"Kenapa?"


Tanyaku penasaran.


"Kamu habis menangis ya! kenapa,apa yang membuatmu menangis?"


"Tidak,aku tidak menangis.Aku hanya lelah saja kok!"


Dustaku padanya menutupi kebenaran yang ada.


Aki tidak mungkin berkata jujur padanya jika aku habis menangis karena perlakuan kak Rendi yang membuatku kecewa karena sudah memaki suamiku debelakangnya.


Disisi lain aku memang kecewa atas apa yang dilakukan kak Rendi,namun bagaimanapun juga dia tetap kakakku.Aku tidak mungkin mengadu domba antara keduanya.


"Jangan bohong,atau aku akan datang sekarang! coba angkat video call nya sekarang! aku ingin melihat wajahmu."


Ancamannya selalu akan dia wujudkan sesegera mungkin apapun yang terjadi,aku tidak ingin membuatnya datang sedangkan Jesi masih berada disini sekarang.


"Cepat...!"Teriaknya.


"Iya,iya...."


Jawabku sambil menggeser panggilan video darinya.


"Sudah percaya kan aku tidak sedang menangis?"


Aku memasang senyuman termanisku untuknya agar dia percaya padaku.


"Jangan menggodaku seperti itu! atau kamu ingin aku segera kesana sekarang?"


"Eh....jangan!"


Jawabku sambil melambaikan tangan mengisyaratkan tidak.


"Kenapa? lihatlah matamu masih sembab,itu tandanya kamu baru saja selesai menangis.Ceritakan apa yang membuatmu menangis!"

__ADS_1


"Aku......aku hanya rindu dengan ibuku,kita belum pernah kesana kan? kapan-kapan kita kesana ya!"


Aku berusaha berbohong dan mengalihkan pembicaraan serta perhatiannya pada mataku yang sembab.


"Iya juga ya! baiklah kapan kamu mau kita kesana,kenalkan aku pada ibumu! katakan jika kamu juga menyayangi dan mencintaiku seperti aku menyayangi dan mencintaimu!"


Permintaannya semakin lama semakin ngelunjak saja ini pak guru! batinku tanpa berani mengucapkannya secara langsung pada orangnya,karena aku takut dia akan murka.


"Sudah dulu ya,aku mau lanjutkan membuka kado lagi."


"Kado dari siapa sih seneng banget kayaknya? dari pacarnya ya? hehehe."


Ledek mas Rio padaku.


"kalo begitu kamu pacarku dong..?hehehehe."


Jawabku sambil tertawa menyusul tawanya yang terlihat begitu bahagia.


"Baiklah berarti kita resmi pacaran sejak semalam ya!"


Ucapnya padaku sambil mengedipkan mata.


"Terserah!"


Jawabku sambil mencoba kembali membuka bungkus ketiga dan membaca kembali surat dipucuk ketiga darinya.


'Untuk istri kecilku yang sudah benar-benar menjadi istriku seutuhnya,terima kasih engkau telah mempercayakan hal paling berharga dalam dirimu padaku,untukku dan memang itu yang kuinginkan!'


"Surat macam apa ini? Dasar mesum!"


"Hei,hei kenapa marah? tidak mau mencoba buka yang selanjutnya?"


Tanyaku padanya mulai merajuk.


"Sebanyak kau pernah menolakku sebelumnya!"


Jawabnya dengan santai.


Kukerutkan dahiku mulai mengingat berapa kali aku pernah menolaknya,namun aku sudah tidak ingat berapa kali.


Kubuka lagi bungkus keempat dan ada surat lagi serta bungkus kertas lagi,segera kubuka dan kubaca isi suratnya.


'Takdir telah mempertemukan kita pertama kali ketika kejadian malam itu,kamu masih ingat saat aku kan? aku tak sengaja lewat sana malam itu namun aku menemukan gadis bodoh yang ceroboh disana,yaitu kamu.


Kita dipertemukan kembali disekolah yang sama setiap harinya dan ketika aku tau bahwa gadis kecil yang dijodohkan denganku adalah kamu,aku merasa tak mampu lagi menolaknya.


Meskipun diawal perjodohan sikapmu selalu menyebalkan dan kekanak-kanakan,tapi aku merasa kamu adalah obat dari segala penawar untukku.'


"Obat penawar untuk apa maksudnya? apa penyakitmu begitu parah mas,sampai manusia sebesar aku bisa menjadi obat untukmu?"


Gurauku padanya setelah membaca surat ke empatnya.


Kubuka lagi isi surat kelima darinya.


'Hanya kamu yang mampu menenangkanku dalam gelap,yang mampu membangkitkan hasratku disaat aku tak mampu lagi berdiri tegak karena rasa kecewa,yang mampu meyakinkanku bahwa ada wanita yang begitu berharga untuk kuperjuangkan.

__ADS_1


Meski kita menikah tanpa didasari rasa apapun pada awalnya,namun ketulusan dan keihlasanmu membuatku bangga dan mulai menyanyangimu,mencintaimu dan ingin memilikimu seutuhnya.


Aku harap kamu tidak akan pernah menyesal menjadi istriku dan menyerahkan dirimu untuk menjadi milikku.Berjanjilah untuk tetap bersamaku dalam suka maupun duka,tetap ada untukku kapanpun aku membutuhkanmu.


Maaf aku memang tidak pandai merayumu hingga sering kali membuatmu kesal karena ulahku,aku juga tidak bisa seromantis pacar teman-temanmu.Baiklah aku akan belajar memacarimu setelah ini agar kamu tau seperti apa rasanya punya pacar dan berpacaran tentunya versi kita hehehe.


Mami Laras adalah wanita pertama dan kamu adalah wanita terkahir yang sama-sama mebuatku takut kehilangan.


Maukah kamu menjadi bidadari surgaku?'


Aku tersenyum setelah membaca suratnya,lalu tertawa terbahak-bahak disela linangan air mataku.


Rasa hatiku saat ini..........semua rasa terasa bercampur menjadi satu.


Rasa haru,bahagia,senang,sedih dan juga kesal bercampur menjadi satu ditambah lagi rasa bingung tentang jawaban apa yang harus kuberikan untuknya.


"Hei,hei,hei.....sayang kamu kenapa? aku kesana sekarang ya! kamu kenapa menangis?"


Tanyanya padaku dengan wajah panik yang kulihat dari tampilan layar pada hapeku.


"Aku menangis karena membaca suratmu!"


Ucapku kesal karena dia dengan mudahnya membuatku menangis,sudah tau aku ini cengeng.


"Maaf sayang,aku tidak bermaksud membuatmu sedih."


Wajahnya terlihat begitu menyesali segala perbuatannya.


"Aku......maaf mas aku tidak bisa menjawabnya sekarang!"


Ku seka lelehan air mata dipipiku,karena aku tidak mau dia melihatku menangis lagi.Entah kenapa aku merasa tidak tega ketika melihatnya bersedih,dan iti karena dia melihat air mataku.


"Tidak harus dijawab sekarang,karena seiring berjalannya waktu aku akan tau sendiri jawabannya!"


"Iya,pak guru memang akan jauh lebih unggul kepintarannya jika dibandingkan dengan muridnya!"


Ledekku padanya,lalu kami tertawa bersama.


"Tidak mau coba buka hadiahmu?"


Tanya mas Rio padaku,aku hanya terdiam membiarkan kotak yang masih terbungkus tergeletak di hadapanku.


"Mas,kamarku sudah penuh dengan sampah pembungkusnya! masih ada berapa bungkus lagi yang harus kubuka!"


Jawabku kesal karena kamarku jadi berantakan oleh sampah pembungkus yang berserakan.


"Bukalah!"


Dia hanya tersenyum saat memintaku membukanya.


Tanganku mulai menyentuh kotak berbungkus kertas berwarna merah muda dengan motif hati berwarna merah.


Aku ragu untuk membukanya karena pasti akan ada lagi pembunhkus yang lain.


Perlahan kubuka pembungkusnya yang hanya menyisakan sebuah kotak berukuran sedang sudah tak lagi ada pembungkus lain yang menutupinya.

__ADS_1


Kulihat di tampilan layar ponselku mas Rio sedang tersenyum menungguku membuka kotak pemberiannya.


BERSAMBUNG.......


__ADS_2