
Aku masih tersenyum melihat kearah pintu apotek yang mulai terbuka kembali dan kulihay mas Rio keluar dengan membawa sebuah plastik hitam berukuran tanggung,mungkin dia membeli sesuatu juga didalam selain tes kehamilan.
"Sudah dapat kan?"
Tanyaku padanya saat membuka pintu mobil dan meletakkan barang bawaannya di atas pangkuanku.
Wajahnya terlihat begitu lega seperti seseorang yang baru saja selesai mengerjakan sebuah misi rahasia.
"Ya Allah....kenapa beli segini banyak! kan cukup beli satu atau dua saja mas!"
Ucapku saat membuka kantong plastik yang dia bawa dari dalam apotek tadi.
Aku benar-benar terkejut karena hampir semua merek dia beli dan setiap merk tidak hanya ada satu barang saja tapi 3picis disetiap merknya.
"Mana aku ngerti,mbaknya bilang ada banyak produk dan banyak merk yang berbeda.Aku pikir beli saja semua biar kamu bisa pilih sendiri untuk dicoba!"
Aku hanya menghela nafas panjang dan tersenyum melihat tingkah suamiku yang konyol ini.Kenapa tadi tidak sekalian saja di beli seapoteknya saja biar tidak bingung.
Kuambil salah satu dari sekian banyak alat tes kehamilan yang dibeli oleh mas Rio dan perlahan kubaca dengan teliti cara pemakaiannya agar aku tidak salah nantinya.
"Nanti sampai rumah langsung di tes aja biar tidak penasaran!"
Pintanya sambil menjalankan mobil meninggalkan halaman parkir apotek.
"Disini petunjuknya lebih efektif jika digunakan pagi hari saat bangun tidur!"
Jawabku sambil menunjukkan tulisan pada bungkusnya yang hanya sedikit di lirik olehnya.
"Kan ada banyak,bisa di coba satu persatu itu sampai besok pagi."
Candanya sambil tersenyum kearahku dengan genit.
"Kamu mau coba juga nggak?"
Ledekku balik padanya dengan candaan.
"Boleh,tapi kamu yang harus hamilin aku dulu!"
Ledeknya sambil memegang perutnya sendiri.
"Baiklah......!"
Jawabku sambil kembali memilih beberapa merk produk dari semua alat tes yang ada di dalam kantong plastik.
Pagi harinya aku buru-buru pergi ke kamar mandi karena merasa tidak nyaman dengan perutku,buka karena mules karenahendak BAB namun lebih seperti........DATANG BULAN! aku tersenyum dengan lega saat mendapati noda darah yang menembus hingga kecelana piyamaku.
Jika biasanya hal seperti ini adalah hal yang paling aku benci dan membuatku sebal,namun beda halnya dengan kali ini.Noda darah yang masih basah hingga menembus mungkin sampai ke sprei adalah kabar bahagi untukku pagi ini.
"Yes,tidak jadi hamil...hihihihi.....!"
__ADS_1
Bisikku pada diri sendiri sambil tersenyum bahagia.
Aku segera mandi dan mengenakan pakaian rumah karena kebetulan hari ini aku libur.
"Sudah di tes?"
Tanya mas Rio yang baru saja pulang dari Masjid selesai menunaikan solat subuh berjama'ah.
"Belum,tidak usah di tes!"
Jawabku sambil menyimpan semua barang yang kami beli di apotek ke dalam laci dalam almariku.
"Kenapa?"
Tanyanya sambil melipat sarung yang habis dikenakannya.
Aku hanya senyam senyum dan berjalan kearahnya.
"Aku sudah datang bulan!"
Bisikku di telinganya sambil tersenyum sumringah mengembang di bibirku.
"Udah lega sekarang?"
Tanyanya sambil memeluk bahuku.
Jawabku sambil mengangguk pelan.
"Maaf ya karena sempat membuatmu panik."
Ucapnya sambil menggenggam jemariku lalu menarikku hingga ambruk bersama diatas tempat tidur.
"Kalau nanti kamu sudah lulus dan kita sudah nikah secara resmi,kamu mau punya anak berapa?"
Tanyanya padaku sambil melihat kelangit-langit kamar.
"Mmmmmmmm,mas maunya berapa?"
Tanyaku balik padanya yang juga sama-sama saling memandang kearah langit-langit kamar seolah disana sudah terpampang jelas kehidupan masa depan kami.
"Aku.....mau yang banyak! boleh?"
Jawabnya dengan begitu bersemangat,lalu menanyakan kesanggupanku.
"Enak aja,anak banyak-banyak! emangnya kamu mau mas gantian hamil dan melahirkan?"
Kucubit perutnya yang rata dan keras,lalu dia hanya bisa mengaduh dan kami tertawa bersama seolah kebahagiaan sedang bersama kami disini.
"Sayang! apakah kamu mulai mencintaiku?"
__ADS_1
Tanya mas Rio dengan tiba-tiba padaku.
"Kenapa tanyakan hal itu lagi?"
"Jawab saja!"
"Aku tidak tau mas,entah ada atau tidaknya perasaan sayang dan cinta ini aku hanya bisa berusaha menjaga pernikahan kita dan mencoba untuk menjadi istri yang baik untukmu.Kurasa itu sudah cukup!"
Jawabku dengan tegas tanpa menyinggung kata sayang atau cinta padanya.
Aku sepaham dengan almarhumah nenek yang meski dinikahi kakek tanpa didasari dengan rasa cinta toh nyatanya mereka mampu saling menjaga hati dan perasaan pasangan masing-masing tanpa adanya rasa yang justru akan melukai satu sama lain.
Nenek bilang jika dalan suatu hubungan di landasi dengan kepercayaan dan ketulusan maka rasa sayang dan cinta kasihnya akan selalu menyertai.
Apa gunanya ucapan sayang dan cinta yang berulang kali diucapkan hanya demi menutupi sebuah kebohongan dan ketidak tulusan.
Karena kasih sayang tidak harus selalu terucap namun haruslah di tunjukkan dalam perlakuan setiap saat.
Dengan perlakuan seseorang kita akan tau bagaimana perasaannya terhadap kita,berbeda dengan ucapan kata yang kadang kala bisa saja di bumbui dengan dusta.
Aku hanya tidak ingin diterbangkan oleh sepoi angin cinta yang memabukkan dan pada akhirnya tersakiti oleh perasaan yang timbul dari diriku sendiri pula karena cinta.
Aku tidak ingin jatuh cinta karena pada hakekatnya yang namanya jatuh pasti akan terasa sakit,dicintai adalah sebuah anugerah dan mencintai adalah timbal balik dari apa yang kita dapatkan darinya.Aku tidak mau memaksakan diriku untuk mencintai apapun karena secinta-cintanya aku pada apapun itu semua tetap akan kembali padanya dan aku tidak mau terluka karena kehilangan cinta.
Biarlah Allah yang maha tau atas segala perasaanku saat ini dan dimasa depan,yang terjadi hari ini biarlah ku jalani sesuai rencananya.Karena sekuat apapun aku menolak tak akan mungkin bisa kuhindari,pada saatnya cinta akan mengungkapkan sendiri bahasanya tanpa di ucap dengan kata.
Aku hanya memandangi wajahnya yang begitu nampak sempurna bagiku,dengan mata terpejam tanpa kacamata membuatku benar-benar serasa akan segera meleleh dibuatnya.
Tampang dan raga yang begitu sempurna,pantas saja membuat siapapun yang melihatnya begitu menggilainya hingga ingin bersamanya.
Namun sikap dingin dan menyebalkan pada hampir semua wanita membuatku kesal padanya,tapi itu dulu.
"Jangan melihatku terus seperti itu! nanti jatuh cinta lho!"
Ledeknya padaku tanpa menoleh saat dia mulai membuka matanya kembali memandanh langit-langit kamarku.
"Jatuh cinta? nggak mau ah! nanti sakit kalau jatuh,"
Jawabku sambil bangkit dan duduk diatas tempat tidur,disampingnya berbaring saat ini.
"Kalau cinta? cinta kan? iya kan.....!"
Godanya terus padaku tiada henti sambil menggelitikku.
"Mas.....sudah! perutku sakit......!"
Pintaku memohon padanya agar segera dilepaskan.
BERSAMBUNG......
__ADS_1