
"Hari ini kamu tidak usah berangkat kesekolah saja ya!"
Ucap mas Rio saat kami sampai dirumah mama.
"Kenapa?"
Tanyaku pada mas Rio.
"Lihat mata sembabmu itu,apakah akan tetap kamu bawa kesekolah?"
"Lalu aki harus membolos,begitu mau anda pak Guru?"
Gurauku padanya,kini suasana hatiku sudah membaik saat masuk kembali kerumah mama tidak seperti kemarin saat aku meninggalkannya.
"Selamat pagi ma....!"
Sapaku pada mama dengan senyum sumringah.
Mama hanya memandangku sambil mengerutkan dahinya karena heran dengan sikapku pagi ini.
"Sepertinya Rio semalam sudah menjinakkanmu!"
Ledek mama padaku dan hanya di respon dengan senyuman mas Rio yang nampah tersipu malu,terkihat dari wajahnya yang memerah saat berjalan sambil melepaskan pelukannya di pinggangku.
"kemarin kamu kenapa?"
Tanya mama lagi padaku.
"Tidak apa-apa ma,Rara kekamar dulu ya.....Rara lagi kurang enak badan ma,hari ini mau istirahat saja!"
Ucapku sambil meninggalkan mama.
"Kamu bolos?"
Tanya mama saat aku sudah berlalu meninggalkannya.
"Sudah di izinkan pak Guru ma....!"
Jawabku setengah berteriak tanpa menghentikan langkah kakiku disusul oleh mas Rio.
"Mau kuambilkan sarapan kemari?"
Tanya mas Rio padaku sambil menganti pakaiannya.
"Tidak perlu,nanti juga aku turun untuk sarapan."
Jawabku sambil kembali mengenakan hijab rumahan yang sering kupakai saat dirumah.
"Tidak usah kemana-mana,dikamar saja! nanti biar bibi yang kemari mengantar sarapan untukmu!"
Pintanya padaku agar aku tak kemana-mana hari ini,bahkan dia juga melarangku keluar kamar.
"Aku berangkat sekolah saja ya...."
Pintaku padanya sambil merengek.
"Tidak,mungkin hari ini akan ada sidang untukku di sekolah atas kasus Jesika."
Ucapnya padaku,supaya aku tidak kembali stres memikirkan hal ini lagi.Dia bilang biarlah masalah ini dia sendiri saja yang menanganinya,dia tidak ingin jika aku sampai sakit hanya karena masalah ini.
Aku hanya bisa menuruti perkataannya,karena hanya itu yang bisa kulakukan saat ini.
"Aku harap hasil akhirnya tidak akan mengecewakanku nantinya mas!"
__ADS_1
Ucapku padanya.
"Maksudmu,kamu takut jika aku akan menikahi Jesika? tuh kan,kamu cemburu......!"
Dia mulai menggodaku lagi dengan mendekatkan wajahnya padaku lalu ku balas dengan mendorongnya kearah belakang,menjauh dari tubuhku.
"Maura.....!"
Ucapnya pelan dan segera memelukku dengan erat sambil tangannya menggelitik pinggangku membuatku tertawa karena merasa geli.
'tok,tok,tok'
"Ups,sory pintunya terbuka dengan sendirinya saat aku mengetuknya.Sumpah!"
Kak Rendi sudah berdiri didepan pintu kamarku,sedangkan kami dalam keadaan sedang berdiri berpelukan.
Segera kami saling melepaskan pelukan masing-masing dengan perasaan canggung dengan kedatangan kak Rendi yang tiba-tiba.
"Katanya sakit,masih bisanya mesra-mesraan!"
Ledek kak Rendi sambil menutup pintu kembali.
"Tadi pintunya tidak di kunci ya!"
Tanya mas Rio berbisik padaku.
"Kamu kan mas yang paling belakang!"
"Iya ya,berarti tadi aku kurang rapat menutupnya jadi saat Rendi mengetuk otomatis terdorong dan terbuka.
Kami masih saling berbisik sambil berjalan menuju pintu kamar untuk sarapan,namun mas Rio melarangku turun dan memintaku sarapan dikamar saja.
"Aku sekalian pamit ya!"
Diciumnya dengan lembut bibir lalu keningku.
Entah kenapa aku tidak pernah bisa menolak ciuman serta pelukan darinya,karena bagaimanapun seluruh diri ini adalah miliknya.
'Tok,tok,tok'
"Ra...ini mama!"
Ucap mama dari luar pintu kamarku.
"Iya ma....pintunya tidak di kuncu,masuk saja."
Teriakku dari dalam kamar.
"Sayang,mama bawakan sarapan untukmu!"
Ucap mama sambil membawakanku sarapan pagi kekamar.
"Kenap bukan bibi saja yang membawakannya ma? mama jadi repot gini."
"Mama ingin sekalian melihat keadaanmu."
Mama menempelkan punggung tangannya kedahiku yang sudah tidak lagi mengenakan hijab.
Lalu mama melihat kearah Leherku dengan tersenyum.
"Jadi ini penyakitnya!"
Ledek mama padaku sambil menunjuk kearah leherku.
__ADS_1
"Mama.....!"
Ucapku kesal sambil berusaha menutupi leherku dengan kerah baju tidurku.
"Untuk apa di tutup-tutupi lagi? toh mama sudah melihatnya!"
"Tapi Rara malu ma.....!"
Mama hanya tersenyum padaku sambil menyodorkan sarapan untukku yang langsung dengan lahap ku makan.
"Kamu hanya kelelahan sayang,atau jangan-jangan ini yang pertama?"
Tanya mama padaku.
"Mama.....apaan sih,nggak usah membahas yang begituan ah! kayak mami saja mama ini."
Ucapku dengan memanyunkan bibirku sambil menyuapkan makanan kemulutku sendiri.
"Apa kemarin kalian habis bertengkar?"
Tanya mama padaku.Aku hanya diam sesaat lalu menggeleng.
Aku tidak tau apakah masalah yang sedang menimpa mas Rio saat ini harus kuceritakan pada mama atau tidak.Aku ragu karena takutnya mas Rio memang tidak menginginkan orang tuaku mengetahui masalah yang sedang menimpanya ini.
"Lalu kenapa kemarin kamu menangis? bahkan sampai sekarang matamu masih sedikit sembab.
"Kemarin waktu Rio pulang,dia mencarimu.".
"Benarkah?"
Tanyaku merasa tak percaya.
"Apa mama terlihat sedang bercanda?"
Mama malah jadi menasehatiku banyak hal agar aku tidak gegabah dalam mengambil keputusan,serta sebagai istri aku harus banyak mengalah dan bersikap lemah lembut terhadap suami meski hati sedang dikuasai oleh amarah sekalipun.
Aku harus bisa belajar mengendalikan diri dari keegoisan dan amarah dalam diriku sendiri,satu yang pasti harus patuh dengan suami.
Aku hanya bisa mengiya-iyakan saja nasehat mama dan bersikap sebagai seorang penurut sambil menghabiskan sarapan pagiku tanpa sisa.
'Ra...kamu masih sakit?'
Tanya Medina dalam pesannya yang baru saja kubuka.
'Ini sudah enakan kok,hanya masuk angin'
Balasku dalam pesan yang kukirimkan padanya.
'Aku dan Samuel rencananya mau jengukin kamu ini sepulang sekolah,suruh bibi siapin makanan yang enak ya! hehehehe,canda Ra.'
Mataku terbelalak membaca pesan yang terakhir Mediana kirimkan,bagaimana ini.....bagaimana jika Medina benar-benar kemari? Dia pasti akan kekamarku! karena biasanya kami akan langsung kekamarku jika dia main kemari.
Dengan cepat aku langsung turun untuk menemui mama,memberi tahunya bahwa Medina akan datang membesukku kerumah.
"Kalian ngobrol saja di ruang tengah,jangan dikamar!"
Usul mama padaku,karena ada beberapa foto pernikahan serta pertunanganku dengan mas Mario terpajang di kamar.Serta banyak beberapa barang mas Rio di kamarku,mungkin saja Medina tidak akan menyadarinya namun aku hanya khawatir saja jika dia melihat sesuatu yang akan membuatnya curiga nanti.
Akhirnya aku segera turun keruang tengah dan segera mengirim pesan pada mas Rio bahwa Medina dan Samuel akan mampir kerumah membesukku,agar mas Rio tidak segera pulang dulu sampai Medina dan Samuel pergi.
Namun pesan yang kukirim ke mas Rio tak kunjung dibuka apalagi dibalas,aku khawatir jika ternyata mas Rio juga sudah dalam perjalanan pulang kerumah.Mereka pasti akan bertemu,Medina pasti akan banyak bertanya padaku tentang keberadaan pak Mario dirumahku.
BERSAMBUNG....
__ADS_1