Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Kembali pulang


__ADS_3

Sepertinya benar kata pak Mario,bagaimanapun mereka tetaplah orang tuaku.Selama ini mereka membesarkanku dengan kasih sayang tanpa membedakan antara aku dan kak Rendi anak kandung mereka.


Papa dan Mama selama ini tidak pernah membohongiku hanya saja mereka tidak mengatakan yang sebenarnya karena suatu alasan,mungkin inilah saatnya mereka mengatakan yang sebenarnya tentang siapa diriku.


"Ayo."


Ajak pak Mario menggiringku kembali keruangan yang tadi sempat kutinggalkan.


Aku duduk di bangku sebelah orang tuaku dengan tertunduk dalam diam.


"Kita pulang ya nak?"


Ajak Mama padaku yang kebetulan duduk di sebelahku dengan menggenggam kedua tanganku erat sekali.


Aku hanya menganggukkan kepala pelan,bahkan bapak Kepala sekolah yang turut hadir dalam sidang mediasi antara anak dan orang tua ini kini ikut tersenyum kearahku.


Kami berpamitan pulang,mama menuntunku menuju mobil sedangkan papa nampak masih berbincanh dengan pak Mario dan bapak kepala sekolah,lalu mereka bersalaman dan menyusul kami yanh sudah lebih dulu berada di mobil dengan ditemani oleh pak Mario.


Aku merasa ada yang aneh antara papa dan pak Mario karena mereka terlihat akrab dan kudengar pak Mario memangg papa dengan sebutan 'Om'.Itu adalah kata terkahir yang kudengar dari pak Mario dan tak ada lagi percakapan diantara mereka seiring langkah kaki mereka yang semakin dekat dengan mobil.


Papa melajukan mobil yang kami tumpangi langsung menuju rumah,selama dalam perjalanan mama tak henti-hentinya mengucap rasa syukurnya pada yang kuasa karena aku mau diajak pulang.Mama terus memeluk tubuhku dan mengelus kepalaku yang masih terbungkus jilbab putih,sementara aku masih diam seribu bahasa.

__ADS_1


"Semalam kamu tidur dimana sayang?"


Tanya mama padaku membuka percakapan.


"Dirumah temen."


"Kemaren kakakmu mencarimu dirumah Jesi,katanya kamu nggak ada?"


"Aku dirumah Medina,kak Rendi belum tau rumahnya."


"Nak,mama dan papa minta maaf karena menyembunyikan semua ini dari kamu."


"Papa dan Mama tulus menyayangi kamu sama seperti kak Rendi,tidak ada yang berbeda.Kami tidak pernah menganggapmu sebagai anak angkat atau apapun."


Papa menimpali perkataan mama,dan aku masih terdiam.


"Mama tidak mau kamu merasa di bedakan jika kamu tau yang sebenarnya."


"Tapi apa yang dikatakan nenek benar,aku harua tau semua kebenarannya.Atau inikah alasan nenek tidak pernah suka sama aku?karena aku bukan bagian dari keluarganya?"


Perkataanku membuat papa menghentikan laju mobilnya seketika.

__ADS_1


"Bukan,bukan karena itu."


Jawab papa,sedangkan mama hanya menggelengkan kepala.


Aku lebih memilih diam karena takut jika aki terlalu banyak bicara yang ada justru hanya akan menyakiti mama dan papa yang kutau selama ini mereka adalah orang tuaku.


Sesampainya dirumah,mama mengajakku kekamarnya.Diambilnya sebuah album foto lama yang tersimpan dengan rapi diatas almari pakaian.Bahkan mama sampai harus naik menggunakan kursi untuk menjangkau album foto tersebut.


Dibukanya perlahan,aku diam mengamati gambar foto yang ada didalamnya.


Ada papa,mama yang nampak cantik meski tanpa mengenakan hijab,seorang anak laki-laki yang masih kecil,mungkin usianya sekitar lima atau enam tahunan dan seorang perempuan muda yang sedang hamil dengan perut besarnya berada disamping mama.


"Ini almarhumah ibu kandungmu sayang."


Dielusnya wajah wanita yang ada didalam foto tersebut,air mata mama menetes membasahi foto pada album yang berada dipangkuannya.


"Jadi ibu kandungku sudah meninggal ma?"


Tanyaku sambil memandangi dengan seksama foto seorang wanita muda dengan dres terusan bermotif bunga serta cardigan warna senada dengan rambut panjang terurai membuatnya terlihat cantik dan manis.


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2