Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Menjadi bahan gosip


__ADS_3

Tiga bulan berlalu setelah acara pertunanganku berlangsung dengan mas Rio,pewaris tunggal Wijaya Group yang sampai sekarang masih berprofesi sebagai guru honorer di sekolahku.


Meski statusku kini adalah tunangan dari Mario Ardianto Wijaya,namun hubungan kami tetaplah menjadi rahasia di kalangan sekolah.


Sebenarnya kabar tentang pertunangan pak Mario sudah mulai ramai diperbincangkan di lingkungan sekolah,namun siapa perempuan yang di anggap beruntung telah di pilih oleh pak Mario sebagai calon istrinya masih tetap menjadi rahasia yang kerap kali membuat para penikmat gibah menerka-nerka semau dan sesuka hati mereka.


Kabar tentang pertunangan pak Mario sepertinya sengaja dibuat olehnya sendiri yang mengubah foto profil di sosial media serta applikasi chat dan panggilan miliknya menjadi foto kami berdua denganku yang sedang memamerkan cincin,namun dengan pose membelakanginya membuatku hanya terlihat tubuh bagian belakang.


Awalnya aku sangat marah padanya karena kabar tentang pertunangan kami menjadi bahan gosip di sekolah,namun tak ada yang tau jika perempuan yang ada di dalam foto bersama pak Mario adalah aku.


Hari ini jam pelajaran pertama adalah jadwal pelajaran yang harusnya di ajarkan oleh pak Mario,namun beliau berhalangan jadi pelajaran di geser dengan pelajaran pak Widodo dengan pelajaran Matematikanya.


Berhalangan? halangan apa? kenapa dia tak memberitahuku? tadi pagi pak Pras juga tidak bicara apapun padaku saat mengantarkanku kesekolah.Batinku sambil membolak-balikkan buku tebal di hadapanku yang penuh dengan rumus-rumus cinta yang sulit di mengerti kecuali sang penyair matematika.


Saat jam istirahat,aku dengar beberapa para penggosip membicarakan pak Mario.


Ada yang bilang jika ketidak hadiran pak Mario hari ini kemungkinan pak Mario sedang bersama calon istrinya,bahkan ada yang sampai bilang bahwa pa Mario melangsungkan pernikahan.


"Ra.....ayo!"


Ajak Medina dan Jesi yang kini sudah berbaikan,sejak Medin dan aku menjenguk Jesi yang sedang sakit mereka perlahan mulai melupakan permasalahan diantara mereka.


"Iya!"Jawabku sambil berjalan cepat menyusul kedua temanku dan mulai tak kuhiraukan suara-suara yang tak hentinya membicarakan pak Mario.


"Eh,ada yang tau nggak sih siapa calon istri pak Mario?"


Tanya Jesi pada kami,sesaat setelah kami bertiga duduk di bangku yang sudah ada Samuel disana sedang menyeruput es teh manis miliknya.


"Kamu tanya sama kita atau sama Samuel Jes?"


Tanya Medina menolehkan wajahnya kearah Jesi yang terhalang olehku.


Samuel justru hanya tersenyum melihat kearahku yang sedang memelototinya.


"Kamu penasarang juga tidak Ra?"


Tanya Sam padaku dengan nada meledek,aku tau betul dia sedang meledekku karena sebenarnya dia sangat tau betul bahwa akulah orang yang sedang di perbincangkan orang satu sekolah saat ini tanpa merek sadari.


"Mmmmmm,gimana ya Sam?"


Jawabku pura-pura bingung sambil berfikir keras.


"Aku masih tidak rela jika pak Mario bersama orng lain!"


Celetuk Jesika membuat kami bertiga terkejut,bahkan Samuel sampai terbatuk-batuk karena saat Jesika mengucapkan perkataannya Samuel sedang minum.


"Kamu belum move on Jes!"


Tanya Medina dengan polosnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskan pak Mario untuk siapapun!"


Ucapnya sambil mengepalkan tangan diatas meja.


Aku hanya bisa menelan ludah melihat sikap Jesika yang demikian,bagaimana jadinya jika dia tau aku adalah orang yang dia maksud itu? tidak hanya kecewa,bahkan mungkin dia akan membenciku seumur hidupnya.


Aku hanya melihat kearah Sam dengan wajah takut,sedang Sam hanya menggeleng pelan tanpa mengatakan apapun.Hanya Medina yang begitu perduli menenangkan Jesi yang nampak murka karena masih belum bisa merelakan laki-laki pujaan hatinya untuk wanita lain.


Saat pulang sekolah,ketika dalam perjalanan pak Pras memberitahuku bahwa sang tuan muda harus buru-buru kembali kekota tempat keluarga besarnya tinggal.


Pak Mario tadi pagi saat dalam perjalanan menuju kesekolah mendapat kabar bahwa papinya mengalami kecelakaan,itu menurut berita yang di sampaikan pak Pras padaku.


Sesampainya dirumah,kutanyakan kebenaran kabar yang kudapat dari pak Pras dan mama membenarkan kabar tersebut.


Bahkan papa sendiri tadi pagi juga langsung menuju ke kota tempat tinggal keluarga Wijaya untuk melihat keadaan calon besannya secara langsung.


"Lalu ma,apakah papa sudah memberi kabar tentang bagaimana keadaan om Dedi sekarang?"


Tanyaku pada mama.


"Iya,papa bilang kecelakaannya sangat fatal bahkan sampai sekarang pak Dedi masih belum sadarkan diri."


Aku segera menuju kamarku untuk beganti pakaian dan berusaha menghubungi mas Rio.


"Halo,Assalamu'alaikum! mas.....bagaimana keadaan om Dedi?"


Tanyaku to the point setelah mengucap salam pada calon suamiku.


Jawab mas Rio lalu tak terdengar lagi suaranya.


"Halo,mas? mas!"


Panggilku,karena tak lagi kudengarkan suaranya di ujung panggilan.


"Papi.....alhamdulilah sudah sadar,namun belum boleh ditemui oleh siapapun."


Jawabnya pelan,suaranya terdengar serak.


"Mas yang sabar ya,semoga om Dedi segera di beri kesembuhan.Kita berdo'a bersama untuk kebaikkan papinya mas,mas sudah makan?"


Tak kudengar lagi jawaban darinya.


"Mas? halo....mas!"


"Iya,"


Terdengar suara mas Rio yang lirih.


"Mas Rio sudah makan?"

__ADS_1


"Belum! mungkin sebentar lagi."


Jawabnya,lalu kudengar suara seorang perempuan memanggil nama mas Rio dan memberitahunya bahwa dokter ingin bicara dengannya.


"Ra,sudah dulu ya telfonnya.Dokter memintaku masuk untuk masuk menemuinya sekaligus melihat keadaan papi."


"Iya,mas Rio yang sabar ya! setelah ini jangan lupa cepat lah makan!"


"Iya!"


Lalu terdengar suara panggilan telfon terputus.


Sebenarnya aku merasa cemas mendengar berita duka tentang kecelakaan om Dedi,juga sangat khawatir dengan keadaan mas Rio yang sudah pasti sangat sedih dan terpukul hingga mungkin disana dia tidak memperdulikan dirinya sendiri.


Aku sedang berjalan pelan menuruni anak tangga saat kudengar mama sedanh berbicara dengan papa di telfon.


"Baik pa,kami akan segera bersiap-siap.Lalu siapa yang akan mengantarkan kami kesana?


Baiklah,akan ku beritahu Rara sekarang juga!"


Mama sangat terkejut karena saat menoleh ternyata aku sudah berada di belakangnya,kami sama-sama saling terkejut.


"Ada apa ma?"


Tanyaku.


"Baru saja papa memberi kabar tentang keadaan pak Deni,kita sekeluarga diminta datang kesana sekarang juga."


"Hah! sekarang ma?"


"Iya,kita berkemas sekarang.Mama kekamar nenek dulu!"


"Iya."


Aku kembali kedalam kamarku dan segera kuraih hape yang ada diatas meja belajarku.


'Mas,apa terjadi sesuatu pada om Dedi?'


Tanyaku pada mas Rio yang ku kirimkan lewat pesan singkat melalui sebuah aplikasi.


'Apa papamu sudah memberitahukannya padamu?'


Bukannya mendapat jawaban,jusrru aku malah mendapatkan pertanyaan balik darinya.


'Mama hanya memberitahuku jika kami harus kesana sekarang,aku sedang berkemas sekarang.'


'Semua akan dijelaskan dan dibicarakan lagi saat kamu dan keluarga sudah sampai disini.'


Hanya itu jawaban yang kudapatkan darinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2