
Setelah selesai sholat Isya' aku segera bersiap karena sebentar lagi pak Mario akan datang menjemputku.
"Ma....pa,Rara nggak makan dirumah ya mau keluar sama pak Mario."
Ucapku saat kulihat mama yang sedang menyiapkan makan malam dibantu bibi dan papa sudah siap di meja makan menunggu yang lain.
"Pak? kenapa panggilnya masih pak sayang?"
Kata papa mengkritik panggilanku pada pak Mario.
"Lalu harus panggil apa pa? kan memang guruku jadi harus panggil pak."
"Guru kan kalau disekolah,kalau dirumah lain lah."
"Iya pa....."
"Sayang foto yang kamu minta sudah mama siapin di atas meja rias mama di kamar ya."
Mama membari taukan tentang foto yang sore tadi sempat kuminta.
Setelah kembali dari kamar mama mengambil foto ibu,aku duduk di kursi dekat papa duduk sambil memandangi foto ibu kenangan terakhir yang kumiliki dari mama.
"Mau kemana de?"
Tanya kak Rendi yang baru saja bergabung di meja makan.
"Mau keluar sama calonnya."
Jawab papa sambil menepuk pelan pundak kak Rendi.
"Jadi kamu terima dia?"
"Iya kak,maaf aku nggak mau tali persaudaraan kita berubah.Aku ingin tetap menjadi adiknya kak Rendi seperti selama ini dan sampai kapanpun."
Kak Rendi mendekat kearahku lalu mengelus pelan ujung kepalaku yang terbungkus hijab warna ungu tua.
"Kakak nggak marah kan?"
"Jika memang ini keputusanmu dengan restu mama dan papa kakak bisa apa."
"Rara minta maaf kak."
"Asalkan kamu benar-benar mencintai dia dan dia juga tulus mencintai serta menyanyangimu,tapi jika dia sampai membuatmu sedih atau menyakitimu kakak yang akan langsung turun tangan."
"Kak......!"
Obrolan kami terhenti ketika terdengar suara bel rumah berbunyi.
"Bi,tolong bukain pintunya ya."
Kata mama pada bibi.
"Baik nyonya."
Bibi segera berjalan cepat menuju pintu depan.
"Assalamu'alaikum.....!"
Ucap tamu yang terdengar langsung nyelonong masuk kedalam dan menuju ruang makan.
"WALAIKUM SALAM....!"
Serentak kami menjawab salam sambil menengok siapa yang datang,ternyata om Doni adik kandung papa datang dari luar negeri.
"Om sendirian?"
Tanyaku sambil bangkit mencium punggung tangan om Doni,saat aku berdiri foto ibu yang tadi sempat ku pengang jatuh kelantai tepat di bawah kaki om Doni.
Om Doni segera meraih foto ibu dan memandanginya denga ekspresi wajah yang aneh,entah lah mungkin om Doni dulu pernah melihat ibuku atau mungkin sempat mengenal almarhumah semasa masih hidup dulu.
Bel rumah kami kembali berbunyi,mungkin itu pak Mario yang datang.
__ADS_1
Saat bibi hendak kedepan membukakan pintu aku buru-buru menghpirinya dan melarangnya.
"Bibi....! udah nggak usah dibukain,biar aku aja yang bukain pintunya,bibi lanjut aja bantuin mama."
"Baik non."
Aku segera menuju pintu dan ketika kubuka benar saja pak Mario yang datang menjemputku.
"Assalamu'alaikum....."
Ucapnya saat pintu kubuka.
"Walaikum salam.....,Silahkan duduk dulu pak saya pamit sama mama dan papa dulu."
"Jadi wanita yang ada di foto itu ibu kandungnya Rara mas?"
Kudengar Om Doni menanyakan tentang foto tersebut pada papa lalu terduduk lemas di kursi sebelah papa bekas tempatku duduk tadi.
"Om.....jadi om kenal sama ibu kandung saya?"
Tanyaku sambil berjalan mendekat perlahan.
"I......iya eh ng....nggak!"
Jawabnya dengan gugup.
"Sebenarnya kenal atau nggak? yaudah ceritanya nanti saja,om istirahat saja dulu saya cuma mau pamit pergi dulu."
Kucium punggung tangan kedua orang tuaku,om Doni lalu saat akan ku raih tangan kak Rendi hendak pamit dan bersalaman justru kak Rendi malah bangkit dan ikut denganku kedepan.
"Kakak mai ngapain?!"
Tanyaku saat kak Rendi menarik tanganku.
"Rio ya?"
Tanya kak Rendi,sontak pak Mario bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya jearah kak Rendi.
"Iya,mau di ajak kemana adikku?!"
"Cuma makan malam."
"Awas ya kalo macem-macem!"
Pak Mario hanya tersenyum menanggapi ucapan kak Rendi yang nampak sedang mengancamnya.
"Apaan sih kak! Udah ya....kami pamit dulu."
Kami segera berpamitan dengan kak Rendi dan kulihat kak Rendi masih mengawasi kami dari depan pintu saat kami sudah masuk kedalam mobil pak Mario.
"Saya kira bawa motor."
"Nggak,takutnya nanti hujan lagi kayak nanti sore lagian mumpung ada mobil papa."
Pak Mario melajukan mobil menuju sebuah cafe yang lumayan rame padahal ini masih belum akhir pekan.
"Silahkan Mas Rio."
Sapa seorang pegawai berseragam biru muda berkerah biru tua berlogo R&r di dada sebelah kanan sesuai dengan nama cafe ini yang sempat kulihat sebelum masuk kemari.
"Mereka menyambut kita?"
Pak Mario hanya tersenyum sambil menarik kursi untukku duduk.
"Selamat malam mas Mario."
Ucap seorang pelayan lain berseragam yang sama datang memberikan buku menu kepada kami."
"Kamu mau pesan apa?"
Tanya pak Mario padaku.
__ADS_1
"Saya pesan seperti biasa ya!"
Ucapnya pada pelayan yang sedang berdiri disamping kami menunggu orderan.
"Saya sama aja."
"Yakin nggak mau pilih yang lain dulu?"
"Nggak."
"Baiklah silahkan ditunggu orderannya ya,saya permisi dulu.Mari mas Rio..."
"Iya."
"Apa semua yang ada disini kenal sama pak Mario?"
"Nggak semuanya sih,hanya beberapa saja."
"Apa bapak pelanggan tetap disini? sampai semua pelayannya hafal dengan bapak."
Pak Mario hanya tersenyum.
"Sebenarnya kamu mau ngomongin apa?"
"Ngggg....saya....saya mau tanya."
"Silahkan."
"Kalau misalnya kita jadi menikah apakah setelah menikah nanti saya masih boleh kuliah?"
"Boleh."
"Kerja?"
"Boleh,asal tidak lupa pada tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga."
"Dan pernikahan baru akan di laksanakan setelah saya lulus kan?"
"Kecuali kamu maunya dipercepat."
"Eh, tidak pak,tidak usah terburu-buru!"
"Apakah saya masih boleh pergi keluar bertemu teman-teman saya?"
"Asal tetap tau batasan."
Sesi wawancara terjeda sementara ketika seorang pelayan yang berbeda lagi datang mengantarkan makanan sesuai pesanan.
"Silahkan kita makan dulu dan kalau bisa jangan panggil pak terus selain di sekolah,nanti orang kira saya ini bapak kamu."
"Tapi memang sudah pantas kan jadi bapak-bapak?"
"Masa!"
"Iya,emangnya bapak umur berapa sih?"
"Baru duapuluh delapan."
"Haaaahh!!!"
"Kenapa? belum tua banget kan? nyatanya masih banyak kok yang suka sama aku."
"Usia kita selisih sepuluh tahun lho pak,bapak yakin mau menikahi saya yang baru berusia delapan belas tahun?"
"Kenapa? seolah dari semua pertanyaan kamu ini sudah menyimpulkan bahwa kamu akan menerima perjodohan ini."
"Sebenarnya saya......"
"Jika kamu menerima perjodohan ini saya tidak akan memaksa kamu untuk terburu-buru menerima saya sebagai suami kamu biarkan semuanya berproses secara alami dan kamu boleh mengajukan perpisahan jika dalam satu tahun tidak adanya perasaan saling suka dan cinta diantara kita.Setelah itu kita bisa menjalani kehidupan kita masing-masing."
BERSAMBUNG......
__ADS_1