
Kak Ana duduk di bangku pengunjung di sebelah bed Jesi kini berbaring dengan selang infus yang menancap pada tangannya.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang Jes? apakah sudah lebih baik?"
Tanya kak Ana pada Jesi yang hanya menjawab dengan anggukan.
"Apakah masih pusing?"
Tanya kak Ana sambil memegang jemari Jesi.
"Sedikit kak."
Jawabnya dengan suara serak.
"Masih mual?"
"Tidak,hanya rasanya aku sangat mengantuk."
"Istirahatlah,pihak sekolah akan menghubungi keluargamu."
Jesi kembali mengangguk lalu memejamkan matanya.
"Tadi dokter bilang apa kak,aku sakit apa? akhir-akhir ini sering sekali mual dan pusing."
Tanya Jesi pada kak Ana saat membuka kembali matanya yang tadi sempat terpejam sesaat.
"Jes.....apapun yang terjadi percayalah,orang-orang disekelilingmu akan selalu ada untukmu!"
Ucap kak Ana pada Jesi,aku mendekat kearah Jesi menggenggam jemarinya.
"Ada kami disini mendukungmu Jes,kami sahabatmu."
Ucapku berusaha menguatkan.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi kak? apakah aku akan mati,apa aku sedang sakit parah sekarang?"
Tanyanya sambil bangkit dari pembaringannya,aku membantunya duduk.
"Kamu......hamil Jes!"
Ucap kak Ana memberitaunya.
Jesi hanya diam dengan pipi yang basah oleh air mata,mulutnya dibekap dengan kedua tangannya sendiri agar suaranya tidak keluar di sela-sela isakan tangisnya.
"Sebenarnya siapa yang melakukannya Jes?"
Tanyaku penuh rasa ingin tau,laki-laki macam apa yang tega melakukan ini pada Jesi.
"Pak Mario!"
Jawab Jesi pelan saat kedua tangannya melepaskan bekapan ke bibirnya sendiri.
"Pak Ma----rio!"
Aku mengulangi kata-kata Jesi dengan terbata seolah tak percaya.
Nama orang yang disebut oleh Jesi adalah pak Mario,orang yang kini telah menjadi suamiku beberapa bulan terakhir.
Bagaikan disambar petir,aku menahan luapan emosi serta tumpahnya air mata yang dengan susah payah serta sekuat tenaga kubendung.
Rasa sakit bagai sembilu menancap tepat di jantungku,rasa sesak di dada membuatku semakin sulit untuk bernafas.
Kupeluk tubuh Jesi tanpa mampu lagi menahan lelehan bulir air mata yang melewati pipi hingga membasahi kerudung putihku.
Kami menangis bersama,namun sempat kulihat Jesi tersenyum disela tangisannya.
"Jes.....kami keluar dulu ya!'
__ADS_1
Ucapku tatkala kami melihat kedua orang tua Jesi datang.
Sepanjang perjalanan sepulang sekolah aku hanya melamun,mengingat kembali perkataan Jesi ketika ditanyakan tentang siapa orang yang telah melakukan perbuatan terkutuk padanya.
Rasa sesak didada serta tusukan pisau tak kasat mata kembali terasa di jantungku,rasa sakit yang tak mampu kuucapkan hanya dengan mengaduh.Tampa kusadari lelehan air mata telah kembali memnasahi kerudungku,aku sesenggukan sendiri di bangku belakang pak Pras.
"Nona,apakah nona baik-baik saja?"
Tanya pak Pras padaku tanpa menghentikan laju mobil yang dikendarainya.
"Hentikan mobilnya sebentar pak Pras!"
Pintaku pada pak Pras yang segera mencari tempat yang sekiranya aman untuk menepi.
Segera kuseka air mataku sesaat setelah pak Pras menepikan mobil.
"Saya harap pak Pras menjawab pertanyaan saya dengan jujur tanpa ada yang di tutup-tutupi lagi,tidak boleh ada lagi jawaban penolakan!"
Sejenak pak Pras terdiam,seolah sedang menimbang permintaanku.
"Maaf nona,jika boleh saya tau pertanyaan macam apa yang akan nona tanyakan pada saya?"
Tanyanya padaku.
"Jangan banyak tanya,tinggal jawab saja apa susahnya sih!"
Jawabku kesal sambil mengeratkan barisan gigiku.
"Baik nona,meski pekerjaan saya yang akan menjadi taruhannya.Karena saat ini tuam muda memerintahkan saya untuk tunduk pada nona."
Ucapnya dengan nada seolah memohon untuk tidak mempertanyakan hal yang nantinya akan membahayakan jiwa dan raganya.
BERSAMBUNG......
__ADS_1