Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Tentang Jesika


__ADS_3

Setelah dari kamar Jesi aku berpamitan kembali kekamarku untuk melaksanakan sholat maghrib karena Adzan baru saja selesai berkumandang.


Aku sempat kembali kekamar Jesi sebelum melaksanakan sholat Maghrib untuk meminjamkan beberapa baju ganti milikku untuk Jesi,karena saat datang kerumahku Jesi tidak membawa apapun kecuali pakaian yang kini melekat ditubuhnya.


"Jes,aku tinggal sholat dulu nggak apa-apa ya?"


"Iya nggak apa-apa Ra,terima kasih ya."


Jesi nampak sudah jauh lebih tenang ketimbang saat berada dirumahnya sendiri.


Aku kira selama ini kehidupan Jesi nampak begitu sempurna,mungkin begitu juga bagi siapapun yang melihatnya.


Sebagai anak tunggal dari anak seorang pengusaha dan ibunya adalah seorang anggota dewan,sudah pasti apapun yang dia inginkan akan dengan mudah dikabulkan oleh kedua orang tua yang begitu menyayanginya.


Namun siapa sangka Jesi justru minim perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang gila kerja dan lebih mementingkan diri mereka sendiri,begitulah yang kutahu dari cerita Jesi selama ini.


Jesi sering kali pergi keluar rumah dengan teman-temannya semasa SMP dulu yang beberapa dari temannya pernah dikenalkan pada kami saat tak sengaja bertemu.


Mungkin karena Jesi merasa kesepian dirumah hanya ditemani oleh beberapa asisten rumah tangga sejak ia masih kecil karena seringnya orang tua Jesi berada di liar untuk keperluan pekerjaan.

__ADS_1


Mungkin apa yang menimpa Jesi saat ini bisa jadi sebuah teguran untuk kedua orang tua Jesi agar lebih memperhatikan anak semata wayang mereka,bukannya saat seperti ini justru mereka malah menekan Jesi dan saling menyalahkan satu sama lain.


Jesi juga sering mengeluh jika kedua orang tuanya kerap kali bertengkar bahkan tak segan mereka adu mulut di depan Jesi sekalipun.


"Jes,kamu sudah makan?"


Tanyaku saat hendak keluar dari kamar Jesi,bahkan tanganku sudah menyentuh hendle pintu kamar yang kini Jesi tempati.


"Belum,hehehe....."


Jawabnya sambil menggeleng dan mengelus perutnya yang mungkin sedang lapar.


"Terima kasih ya Jes,sebenarnya sudah lapar sedari tadi tapi....."


"Kenapa? malu mau minta makan? nungguin di tawari? kamu ini,kayak sama siapa saja!"


Ucapku sambil meninggalkan Jesi menuju dapur untuk meminta bibi menyiapkan dan mengantarkan makanan serta minuman untuk Jesi.


"Ra mama harap apa yang mama fikirkan tentang Jesi salah,tapi sepertinya...Jesi sedang hamil?"

__ADS_1


Tanya mama padaku dengan berbisik sambil melihat sekitar,membuatku ikut melihat sekitar seperti yang mama lakukan.


"Mama tau dari mana?"


Tanyaku sambil berbisik juga.


"Mama ini juga wanita dan sudah pernah mengandung juga,mama bisa bedakan dari bentuk tubuhnya meskipun perutnya masih rata sekalipun!"


Jawab mama padaku masih dengan berbisik.


Aku hanya diam,bingung harus menjawab apa.Karena mengelakpun percuma,mama sudah tau dengan sendirinya tanpa aku memberitahunya.Tapi jika aku mengiyakan apa yang mama katakan,aku takut mama tidak akan mengizinkan Jesi tinggal disini atau bahkan tidak akan lagi mengizinkanku berteman dengannya.


"Apakah orang tuanya sudah mengetahuinya,hingga mengusirnya dari rumah? Kasian sekali Jesi,hiburlah dia sebagai sahabat!"


Ucap mama menasehatiku,sontak senyum bangga mengembang dari bibirku.


"Terima kasih ya ma...."


Kupeluk tubuh mama yang begitu mengerti dan peduli padaku,bahkan juga pada sahabatku.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2