
Pagi ini setelah sarapan pagi kubantu mas Rio berkemas,tak banyak memang yang akan dia bawa karena suatu saat nanti dia pasti juga bakalan kembali lagi kemari.Serta disana dia juga tidak mungkin kekurangan pakaian untuk ganti nantinya.
Pak Pras juga sudah berada di depan menunggu aba-aba darinya untuk berangkat.
Dia terus memandangiku yang tengah sibuk memasukkan beberapa barang-barangnya kedalam koper yang ukurannya tak terlalu besar.
"Kamu yakin tidak mau ikut serta denganku?"
Tanyanya tiba-tiba memegang tanganku untuk mengehentikan aktivitasku sejenak.
"Maaf mas,bukannya aku nggak mau tapi aku tidak bisa karena aku kan masih harus sekolah!"
Jawabku mengelus pelan tangan yang sedang menggenggam erat tanganku itu namun seolah tak mau melepaskanku.
"Kamu pindah sekolah aja gimana?"
"Sekolahku kan tinggal beberapa bulan lagi sudah lulus mas,buat apa pindah segala?"
"Benar juga,tapi ......"
"Kenapa? takut nggak bisa jauh dari aku,karena takut rindu? hah! hehehe...."
Tanyaku menggodanya sambil mencium pipinya dengan lembut.
"Kamu....!"
Segera ditariknya aku hingga terjerembab kedalam pelukannya,dianggkatnya tubuhku kedalam gendongannya sambil memanggut dengan lembut bibirku.
Dan pada akhirnya penyatuan serta peleburan cinta dan kasih sayang serta segala rasa kembali terjadi di pagi ini antara dua insan yang tak lama lagi akan terpisahkan oleh ruang dan waktu yang tak bisa ditentukan oleh mereka.
Mas Rio sudah kembali rapi sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer milikku.
Aku hanya memandanginya dengan menahan tawa saat melihatnya sibuk mengeringkan rambutnya.
"Kenapa?"
Tanyanya sambil memandangiku yang masih membungkus rambut basahku dengan handuk.
"Tidak,memangnya pak guru jam segini sudah keramas lagi habis ngapain pak?"
Ledekku padanya sambil mendekat hendak ikut mengeringkan rambut juga dengan hair dryer yang sudah selesai ia kenakan.
Mas Rio kemudian bangkit dari depan meja rias lalu mendudukkanku di kursi depan meja rias tempat bekasnya duduk tadi.
"Lalu nona,bagaimana dengan anda sendiri? bukankah dini hari tadi anda juga sudah mandi basah?!"
Balasnya meledekku sambil membantuku mengeringkan rambut dengan hair dryer seperti sedang berada di salon.
__ADS_1
"Kalau saya sih karena ulah pacar saya pak,dia nakal sekali!"
Jawabku dengan wajah polos membuatnya terpingkal.
"Sayang,jika aku sudah tidak lagi ada disampingmu tolong jaga dirimu baik-baik ya! ingat jiwa dan ragamu ini hanya untukku,jangan sampai ada celah sedikitpun untuk pria lain!"
"Iya....!"
Jawabku singkat.
"Kok cuma gitu jawabnya?!"
Protesnya padaku dengan wajah kesal sambil meletakkan hair dryer diatas meja setelah memastikan rambutku benar-benar kering.
Aku segera bangkit dari tempatku duduk lalu menghadap kearahnya serta menyingkirkan kursi yang menjadi penghalang diantara kami.
"Iya sayangku...jiwa ragaku hanya untukmu,tak akan kuberi celah sedikitpun untuk pria manapun. Puas sekarang dengan jawabku!"
Mas Rio hanya tersenyum puas sambil memeluk dan menciumi keningku.
Seolah dia merasa enggan untuk kembali kekeluarganya.
Kuantarkan dia sampai di halaman depan rumah bersama keluarga yang lainnya,kulihat dia dari jendela kaca mobil yang terbuka hingga dia benar-benar tak lagi terlihat oleh pandanganku ditelan oleh jarak yang mulai membatasi antara kami.
"Wah....ada yang LDRan nih!"
Aku hanya diam tanpa memperdulikannya,radanya enggan menanggapi ocehan kak Rendi kali ini.
Kak Rendi berjalan mengiringiku lalu merangkul pundakku dari arah samping.
"Jangan macem-macem ya kak!"
Ancamku padanya sambil menepis tangannya dari pundakku dengan kasar.
"Apanya yang macam-macam sih! kita kan adek kakak,emangnya aku mau ngapain?"
Ucapnya sambil menaikkan salah satu alisnya dan menyunggingkan senyum kearahku.
Aku kembali terdiam dengan tatapan sinis padanya lalu bergegas meninggalkannya menuju kamarku.
Kututup rapat dan tak lupa ku kunci pintu kamarku karena aku takut saja jika kak Rendi kembali kumat seperti dulu lagi,kembali terobsesi padaku ketika tak ada mas Rio di sini.
Mataku menyapu seluruh ruangan didalam kamarku,entah kenapa kamar ini terasa berbeda.
Hawa sunyi dan sepi memenuhi seluruh ruangan ini,seolah terasa kosong tan tak berpenghuni lagi.Aku benar-benar merasa kehilangan kali ini.
Kamar yang sejak dulu kutinggali dengan senang hati dan rasa nyaman tiba-tiba saja terasa berubah,terasa seperti ruangan asing bagiku setelah tak ada lagi mas Rio disini.Tanpa terasa air mata ini mulai meleleh membasahi pipi hingga jilbab ungu yang kukenakan.
__ADS_1
Ada apa ini,kenapa denganku?
Mungkinkah aku sedih karena dia tak ada disini,benarkah aku merada kesepian saat jauh darinya,apakah karena aku mulai mencintainya jadi aku merasa merindukannya!
Batinku.
Tidak,tidak mungkin! bahkan belum genap satu jam kami berpisah,dia pun juga belum pergi terlalu jauh,mana mungkin aku merindukannya tidak masuk akal!
Protesku pada diriku sendiri.
Tiba-tiba saja pikiranku kembali mengenang masa-masa dimana kami bersama dalam kebahagiaan yang bahkan baru saja kami rasakan setelah sebelumnya kami bersama dalam sebuah hubungan yang tidak jelas karena rasa gengsi serta sikap keras yang kami miliki sebelumnya membuat kami jadi sering berselisih dalam banyak hal.
Namun kini saat kami mulai saling membuka hati satu sama lain untuk menyatu dan meleburkan kebahagiaan,kenapa justru kami harus terpisahkan oleh ruang dan waktu yang tak menentu.Seolah takdir sedang mempermainkan hubungan kami.
Bagaimana tidak,saat hati kami belum bisa mengenal satu sama lain kami justru didekatkan agar bisa saling menyatu namun ketika kami sudah mulai saling membutuhkan satu sama lain justru harus rela terpisah.
Lamunanku buyar ketika aku disadarkan oleh bunyi dering dari hapeku yang mengejutkan karena suaranya yang terdengar begitu nyaring.
"Halo mas.... Assalamu'alaikum!"
Ucapku saat menerima panggilan dari mas Rio via telepon.
"Waalaikum salam,kenapa suaramu serak? apakah kamu sedang menangis sekarang!"
Tanya mas Rio menebak dari kejauhan karena memang tak mungkin melihatku sebab jaraknya yang mungkin sudah mulai jauh dari sini.
"Tidak,aku hanya tiduran saja tadi di kamar sambil menonton tivi jadi suaraku serak!"
Dustaku menjawab pertanyaannya,tidak mungkin aku menjawab dengan jujur bahwa aku habis menangis karena ditinggal pergi olehnya karena dia pasti akan menertawakanku nanti.
"Benarkah? Kamu tidak sedang berbohong kan!"
"Mana berani aku membongi tuan muda,hahahha!"
Candaku sambil tertawa yang kubuat-buat untuk mengalihkan pertanyaannya.
"Dasar kamu ini ya.....awas nanti kalau ketemu!"
Ancamnya padaku sambil tertawa terkekeh.
"Ampun tuan muda.....! Mas,sudah dulu ya...aku mau ke toilet sebentar sudah kebelet nih! Aku tutup dulu ya telfonnya? Assalamu'alaikum sayang.....!"
Segera kututup panggilan telfon tanpa mendengarkan jawaban salam darinya.
Kutarik nafas dalam,kurasakan hatiku seperti bergemuruh dan jantungku berdegub dengan kencang saat mendengar suaranya lagi.
Bibirku tersenyum lebar namun air mataku tak hentinya menetes kembali.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....