Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Kesepian


__ADS_3

"Aku tinggal ganti baju sebentar ya Sam!"


Ucapku sambil menaiki anak tangga menuju ke lantai atas dimana kamarku berada.


"Oke."


Jawabnya singkat lalu dengan sopan kudengar Sam mulai mengobrol dengan mama.


"Halo mas,Assalamu'alaikum.....!"


Ucapku saat mendengar nada sambung mulai berhenti dan terdengar suara mas Rio mengangkat panggilanku.


"Halo,iya waalaikum salam."


"Terima kasih,kalian boleh keluar sekarang."


Ucap mas Rio terdengar menjawab salam dariku,lalu seperti sedang berbicara dengan orang lain.Aku yang sedang merasa bingung hanya bisa diam sambil menunggunya menyelesaikan dulu obrolannya,mungkin sekarang dia sedang sibuk sekarang.


"Halo sayang,sudah pulang kerumah?"


Ucapnya lagi namun masih ku abaikan karena aku sendiri tidak tau dia sedang berbicara dengan siapa,tapi jika kupikir harusnya panggilan itu untukku.Apa mungkin ada orang lain yang dia panggil sayang olehnya selain aku sekarang?


Batinku.


"Halo,Maura Putri Anggara! Kamu masih disana dan mendengarkanku?"


"Iya mas,tadi lagi sibuk ya? Maaf ya aku jadi ganggu kerjaan kamu,"


Tanyaku karena merasa tak enak hati mengganggunya saat dia masih di kantor.


"Nggak kok,ini juga sudah mau pulang.Kamu sedang apa sayang?"


"Barusan habis ganti baju,baru nyampe rumah dianterin Sam.Ini sekarang Sam ada di bawah."


Jawabku memberitahukan apa yang sedang ku kerjakan.


"Udah selesai ganti bajunya? Ck...! Padahal aku mau video call biar bisa lihat,hehehe."


"Enak aja lihat,nggak ah malu! Lagian ini udah selesai dari tadi,sekarang mau turun lagi nggak enak ninggalin Sam lama-lama dibawah!"


Jawabku sambil tersenyum meski dia tak dapat melihat senyumku yang merasa bahagia setiap kali mendengar suaranya,mendapat chat darinya atau melihat wajahnya via video call.


"Si Sam ngapain mampir kesana sayang?"


"Laper katanya,minta makan!"


Ucapku sedikit berbisik padanya.


"Ah,dasar tuh anak bikin malu saja! Masa sih makan saja sampai minta ke rumah orang tua kamu."


Gerutu mas Rio pelan.


"Udah nggak apa-apa,kasihan juga kan dia sendirian dirumah."


"Haaah! Iya memang dia sendirian dirumah,tapi dia bukan anak-anak lagi sayang.Dia sudah cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri,"


"Sudah lah mas jangan terlalu keras padanya,lagian kenapa malah jadi ngobrolin Sam sih!"

__ADS_1


Aku mulai sedikit kesal padanya,entah kenapa setiap kali telfon ujung-ujungnya aku merasa kesal.


Entah apa yang membuatku kesal,rasanya ada sebuah perasaan yang tak mampu terungkap hingga membuatku kesal sendiri pada akhirnya.


"Iya iya,kan kamu tadi yang mulai ngomongin Sam duluan.Kenapa sekarang jadi aku yang disalahkan?!"


Terdengar dia juga tak mau mengalah dariku.


"O.....jadi salah aku! Yaudah maaf kalo aku yang salah,yaudah lanjutin aja lagi kesibukan kamu sana! Aku mau turun nemenin Sam,nggak enak kan ada tamu malah di tinggalin lama-lama."


"Eh eh eh....kok gitu sih? Kamu marah? Cuma gitu aja mara,kok kamu sekarang sensitif sekali sih?"


Tanyanya padaku seakan masih belum rela aku hendak mengakhiri obrolan lewat telfon.


"Aku nggak marah.Cuma kesel aja,sedikit!"


Jawabku santai tanpa ekspresi.


"Tuh kan,suaranya kayak lagi marah.Iya iya sayang aku minta maaf ya karena harus sibuk kerja,dan maaf juga karena sudah bikin kamu kesal."


Suaranya terdengar sedang memohon agar aku tidak lagi marah dan kesal.


"Iya"


Hanya kata singkat yang terucap dariku,karena aku masih merasa kesal padanya.Ingin rasanya aku menyusulnya sekarang juga,entah mengapa semenjak kepergiannya aku merasa kesepian.


"Yaudah dulu ya sayang,ada yang harus ku kerjakan lagi sekarang dan sebentar lagi aku pulang."


"He'emh!"


"Nanti kalo aku sudah sampai rumah langsung aku telfon lagi ya.Love you sayang,Assalamu'alaikum...."


Segera ku sentuh tombol berwarna merah untuk mengakhiri panggilan,lalu ku tangkupkan kedua telapak tanganku untuk menutupi wajahku.Segera kuseka bulir bening yang mulai merembes di sudut mataku lalu kutinggalkan kamarku untuk turun dan menemani Samuel yang mungkin sekarang masih menungguku di bawah.


"Itu Rara sudah turun."


Ucap mama pada Sam saat melihatku menuruni anak tangga.


"Ra temenin Sam makan,kasihan dia dirumah sendirian gak ada yang masakin."


Pinta mama padaku.


"Iya ma,gimana kalo setiap pagi kamu kesini aja Sam.Kita sarapan bareng trus berangkatnya aku bisa sekalian nebeng deh...!"


Usulku sambil tersenyum kearah Sam yang nampak hanya diam memandangiku.


"Sam!"


Kusenggol lengannya yang sejak tadi hanya melamun sambil memandangiku dengan aneh.


"Eh! Iya Ra kenapa kenapa?"


Sam nampak gelagapan dan terlihat bingung.


Sepertinya sejak tadi dia tidak mendengarkanku bicara,masa iya dia nggak denger kan deket.Batinku.


"Idenya boleh juga Ra,jadi rumah kita kalo pagi makin rame deh!"

__ADS_1


Mama ikutan menyahut lalu duduk di kursi sebelahku.


Sam yang masih terlihat bingung hanya menaikkan salah satu alisnya sambil melihat kearahku dengan bingung.


"Sam,kamu ini sedang mikirin apa sih? Tadi aku bilang,gimana kalo setiap pagi kamu sarapan disini trus sekalian kita berangkat sekolah bareng."


Ku ulangi sekali lagi ucapanku pada Samuel yang sepertinya mulai mengerti karena kali ini sudah kembali fokus saat diajak bicara,tidak seperti tadi yang terlihat melamun.


"Boleh,tapi......apa nanti malah nggak ngrepotin?"


Sam terlihat ragu dan merasa canggung.


"Nggak apa-apa Sam,kamu kan juga keluarga kami sekarang."


Imbuh mama.


"Oiya ma,mama dan papa sudah tau belum kalo kak Yahdan sekarang ngajar di sekolah aku? Gantiin mas Rio."


Aku berusaha memberi tahukan soal kak Yahdan sepupuku yang sekarang juga menjadi pengajar di sekolahku.


"Iya,Uti sudah kabarin mama.Mama sudah meminta Yahdan buat tinggal disini saja bareng kita,dari pada ngekos kan."


"Trus gimana ma,kak Yahdan mau?"


Tanyaku penasaran.


"Dia nolak,katanya nggak enak nanti malah ngrepotin,gitu."


"Maksudnya pak Yahdan? Guru baru disekolah kita Ra?"


Tanya Sam ikut menyela pembicaraanku dengan mama.


"Iya,dia itu sepupu aku tau!"


Dengan semangatnya aku menceritakan kak Yahdan pada Samuel bahwa kak Yahdan alias pak Yahdan adalah sepupu jauh aku dari luar kota.


"Dari pada ngekos mendingan tinggal sama aku aja Ra dirumah kak Rio,dari pada aku tinggal sendirian kan?"


Aku terdiam mulai berfikir dan mempertimbangkan usul Samuel yang terdengar cukup bagus untuk dipertimbangkan.


"Kayaknya boleh juga ide kamu Sam,lagian memangnya kenapa kalo kamu tinggal sendirian? Takut ya! Hahahaha...."


Aku mulai menertawakan Samuel yang terlihat kesal saat ku meledeknya penakut.


"Bukannya takut Ra,hanya saja dirumah sendirian rasanya sepi Ra."


Pembelaan diri di mulai.


"Alah,bilang aja takut!"


Ledekku lagi sambil tertawa mengejeknya.


"Sudah sudah,coba nanti kalian tanya Rio apakah boleh Yahdan tinggal disana.Kalo nanti boleh biar mama yang coba merayu Yahdan supaya mau tinggal dirumah Rio nemenin Sam,biar nggak takut lagi tinggal sendirian,hehehe."


"Tante.....kok jadi ikutan ngeledekin sih..!"


Aku dan mama menertawakan Samuel yang masih terlihat kesal.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2