Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Adegan didepan Medin dan Sam


__ADS_3

Saat tubuhku menindihnya,tanpa sengaja bibirku pun tanpa sengaja pula mendarat tepat di bibirnya.


"Aduh......!"


Ucapku mengaduh saat kami perlahan bangkit dari atas sofa karena sebuah kecelakaan.


"Kalian ini pamer begituan didepan kami,apa untuk memberi contoh pada kami berdua! hah?"


Ucap samuel terdengar sedang kesal pada kami berdua.


"Ayo sayang,kita tinggalkan mereka berdua.Biar mereka lanjutkan adegan yang tadi tertunda karena ada kita disini."


Ledek Samuel sambil menarik lengan Medina hendak mengajaknya kearah kamarnya.


"Sam.....!"


Ucapku dengan tatapan mengancam.


"Iya,iya....cuma bercanda!"


Ucap Samuel pasrah lalu kembali duduk.


"Kalian curang!"


Gerutu Samuel pada kami berdua.


"Kenapa lagi Sam?!"


Tanya mas Rio pada Samuel.


"Masih juga tanya!"


Samuel terdengar semakin merajuk.


"Lalu kamu mau apa? mencobanya!"


Tanya mas Rio datar sambil menyeruput teh hangat dari cangkirnya.


"Memang boleh?"


Tanya Samuel mulai bersemangat.


"Coba kamu tanya padanya!"


Ucap mas Rio sambil memandang kearahku yang duduk di samping Medina.


"Tanya sama yang mana?"


Tanya Samuel bingung.


"Sam,apa yang sedang kalian bicarakan?"


Tanya Medina polos.


"Jangan iri pada kami Sam,jelas kalian dan kami sangat berbeda."


Ucapku pada Samuel.


"Ingat sumpah taubatmu Sam......!"


Imbuh mas Rio.


"Iya,iya.....!"


Jawab Samuel pasrah dengan kesal karena terpaksa harus menuruti ucapan mas Rio yang tak bisa dia bantah.Entah karena apa yang membuatnya segitu patuhnya pada mas Rio hingga membuatnya tak mampu membantah sedikitpun ucapan mas Rio.

__ADS_1


'TING'


Terdengar bunyi notifikasi dari hape Medina yang kini sudah bisa menyala kembali.


"Ternyata orang tua aku bersama adik-adikku pergi kerumah saudara,dan kakakku tadi sedang pergi."


Ucap Medina masih sambil menatap layar ponselnya.


"Lalu sekarang apakah sudah ada orang dirumah?"


Tanya Samuel pada Medina.


"Iya,sekarang kakakku sudah pulang kerumah."


Jawab Medina.


"Nanti tunggu sampai hujan benar-benar reda baru boleh pulang,ya!" Ucapku pada Medina sambil melirik kearah Samuel tajam.


"Apaan sih,gitu amat liatin akunya!"


Samuel terlihat kesal padaku dan juga mas Rio namun dia tetap tidak berani membantah jika mas Rio yang mengatakan apapun padanya.


Mungkin lain waktu akan kutanyakan hal ini pada mas Rio karena membuatku benar-benar penasaran.


Bahkan aku ingat benar ketika dirumah Samuel kedatangan teman-temannya dan kak Aldi tidak mampu menghentikan Samuel padahal dia adalah adik kandungnya,namun dengan mas Rio justru Sam langsung menurut dan patuh.


Hujan perlahan mulai reda dan hari mulai larut,setelah selesai sholat maghrib mas Rio berencana mengantarkan Medina pulang tentunya diantar oleh kami semua bersama-sama atas permintaanku.


Namun saat kami sudah siap untuk berangkat tiba- tiba saja mas Rio sakit perut dan harus bolak-balik ke toilet.Sepertinya dia masuk angin atau mungkin ada makanan yang seharusnya tidak dimakan olehnya tadi.


Aku yang tidak tega melihatnya seperti ini dan pada akhirnya kuputuskan untuk tetap tinggal menemaninya dirumah.


Samuel mengantarkan Medina sendirian dengan mengendarai mobil mas Rio karena diluar memang masih gerimis tipis fan juga udara malam pasti sangat dingin jika gerimis seperti ini.


"Sayang,mereka sudah berangkat ya?!"


"Iya sudah sekitar lima menitan yang lalu waktu mas masuk ke toilet."


Jawabku sambil menyodorkan secangkir teh hangat untuknya.


"Terima kasih ya,sekarang sudah lebih enakan."


Ucapnya sambil menyentuh perutnya sendiri.


"Kalau begitu mas istirahat saja ya,atau mau kerumah mama saja? biar kuminta pak Pras antarkan kita!"


"Tidak perlu sayang,aku istirahat disini saja.Kalau kamu mau pulang kerumah mama,pulang lah!"


Jawabnya sambil merebahkan dirinya diatas tempat tidur.


"Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian dalam keadaan seperti ini,"


Jawabku sambil menutipi tubuhnya dengan selimut tebal supaya hangat.


"Kenapa? apa kamu menghawatirkanku?"


Godanya sambil memainkan jemarinya diatas tanganku.


"Aku hanya sekedar merawatmu saat sakit saja! bukankah ini memang tugasku!"


Jawabku kesal karena dalam keadaan sakit pun dia masih bisa menggodaku.


"Bukan karena sebentar lagi kita akan jarang bertemu,jadi kamu ingin nempel terus denganku?"


Godanya lagi padaku,kini di menarik kencang tanganku hingga membuat tubuhku jatuh menubruk tepat diatas dada bidangnya yang tengah tebaring.

__ADS_1


"Jangan macam-macam! mas sedang sakit sekarang."


Aku berusaha mengingatkannya untuk tidak melakukan hal yang justru akan menguras tenaganya yang lemah sekarang karena sedang diare.


"Apa kami kira aku sudah tidak kuat untuk melayanimu nona?"


Ledeknya padaku sambil memelukku erat diatas tubuhnya.


Melayaniku? hah,bukankah itu terbalik! selama ini bukankah kamu yang selalu menginginkannya,bukan aku.Kecuali saat aku tereaksi oleh obat yang kak Roi campurkan ke minumanku malam itu.


Batinku menggerutu dalam hati.


"Jadi nona,apakah anda sedang butuh layanan saya sekarang?"


Dia mulai membalik posisi tubuh kami hingga membuatku kini berada di bawahnya.


"Maaf pak guru,saya sedang tidak butuh apapun sekarang.Pak guru istirahat saja ya supaya cepat sembuh!"


Jawabku sambil menahan tawa dengan ucapanku sendiri.


"Sayang,kalau nanti aku sudah tidak tinggal disini apakah kamu akan merindukanku?"


Pertanyaannya seketika membuatku tertegun,seolah ada rasa sedih dan kecewa bercampur menjadi satu di kerongkonganku.


"Entah!"


Jawabku dengan cepat.


"Kenapa kamu selalu menjawabnya begitu!"


Tanya mas Rio dengan kesal lalu melepaskanku begitu saja.


"Apakah anda menginginkan saya merindukan anda pak guru? apakah anda juga berharap saya mencintai anda?"


Tanyaku sambil memeluk tubuhnya yang kini berbaring disampingku.


"Bolehkah aku meminta sesuatu darimu malam ini?" Tanyanya sambil menyeringai kearahku.


"Apa? bukankah semua yang kamu mau sudah kamu dapatkan dariku!"


Jawabku kesal melihat tatapan matanya yang seolah siap menerkamku.


"Ada yang masih terlewatkan!"


Jawabnya dengan senyum jahat yang tersungging dari bibirnya.


"Apa?!"


Tanyaki menelisik dengan curiga.


"Aku ingin kamu yang memulainya! hehehehe....!"


Ucapnya berbisik ditelingaku lalu menggigit lembut membuatku tersentak.


"TIDAK! Aku tidak mau....!"


Jawabku sambil berteriak padanya dan mendorong tubuhnya supaya menjauh dariku.


Namun aku selalu bernasib malang setiap malam bersamanya harus selalu memenuhi keinginannya,tapi aku tetap tidak bisa memenuhi keinginan gilanya untuk memulai lebih dulu.Akhirnya kami melakukannya seperti biasa yang dia lakukan padaku.


Aku belum cukup berani dan sama sekali tidak ada pengalaman dalam hal seperti itu jadi hal yang mustahil bisa kulakukan jika aku harus mengendalikannya dan memulainya lebih dulu.Selama ini aku hanya bisa menurut dan patuh dengan apapun yanh dia kehendaki atas diriku dan tidak ada hal yang bisa kulakukan selain itu.


Mungkin untuk permintaannya akan aku usahakan lain waktu jika aku sudah mahir dan banyak belajar darinya.


Hahahahaha 😂 gila......,aku memang sudah gila karena terlalu lama bersamanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2