
Saat kedua sahabatku sudah pulang,aku baru menyadari jik masih ada beberapa kerabat yang masih berada dirumahku.Beberapa aku tidak menalinya karena mungkin kerabat jauh mama atau papa yang jarang bertemu.
"Rara?kamu sudah besar nak!"
Ucap seorang perempuan tua berhijab,usianya mungkin jauh dibawah nenek jika dilihat dari wajahnya yang mulai menampakkan garis-garis keriput tipis namun kewibawaannya tetap terpancar.
"Uti.....?"
Segera kupeluk tubuh gempal beliau,sudah sangat lama sekali aku tidak pernah bertemu beliau sejak perseteruan antara mama dan keluarga besarnya terjadi.Kala itu aku masih kecil,entah usia berapa tepatnya aku tidak ingat.
"Uti datang bersama siapa?"
Tanyaku sambil melihat sekitar,karena tak ada siapapun yang kukenali disekeliling uti.
"Uti datang bersama Yahdan,anak laki-laki almarhum Wak Hasan dia masih sepupumu."
Jawab Uti sambil melihat seorang laki-laki berbaju koko sedang menyalami mama dan papa,membuatku jadi ikut melihat kearahnya.
Subhanallah.....tampan sekali dia,Astagfirullah! ingat Ra,kamu sudah bersuami.Tapi saat tatapan mata kami bertemu aku benar-benar terpesona oleh sinar mata indahnya,wajahnya begitu teduh menyejukan jiwa.
"Assalamu'alaikum dek...."
Uti menyenggol lengan tanganku,membuyarkan lamunanku seketika.
"Waalaikum salam,"
Jawabku sambil menjabat uluran tanganya.
"Saya pribadi ikut berbela sungkawa,"
Ucapnya sambil duduk di samping uti.
"Terima kasih."
Jawabku.
"Uti bagaimana kabarnya,sehat kan?"
Tanyaku,lalu uti kembali memelukku dan menciumiku.
"Bu,ibu istirahatlah! pasti ibu lelah setelah perjalanan jauh."
Ucap mama mendekat kearah uti yang tadinya sedang sedikit saling bertukar kabar denganku.
"Ibu tidak lelah,Yahdan lah yang seharusnya butuh istirahat sekarang.Ibu masih rindu dengan cucu kecil ibu!"
Jawab uti sambil mencubit daguku.
"Yahdan,mari tante antar kamu untuk beristirahat!"
__ADS_1
Ajak ibu pada sepupuku yang tampan seperti penggambaran nabi Yufus yang terkenal tampan.
Kak Yahdan,begitulah seharusnya aku memanggilnya karena almarhum ayahnya adalah kakak tertua mama.Dia langsung mengikuti mama menuju anak tangga,mama mengantarkannya kekamar tamu yang ada di lantai atas bekas kamar yang pernah di tempati mas Rio sebelum kami menikah.
Malamnya para tetangga dan kerabat datang untuk menggelar pengajian dan do'a bersama dirumah kami,biasanya ini akan dilakukan selama tujuh hari berturut-turut.
Uti dan Kak Yahdan masih menginap dirumah kami malam ini dan berencana baru akan pulang besok,sebenarnya uti masih rindu padaku namun karena dirumah ada eyang kakung yang juga sedang sakit dan tidak memungkinkan untuk ditinggal berlama-lama.
Setelah acara selesai,perlahan para tamu mulai bepergian untuk kembali kerumah masing-masing.
Mas Rio mendekat kearah uti dan menyalaminya,uti nampak bingung melihat mas Rio yang langsung duduk di sampingku.
"Ini siapa? temanmu Ren?"
Tanya uti sambil menatap kak Rendi yang duduk di kursi depan uti.
"Bukan uti,ini....."
"Suaminya Rara bu,"
Sahut mama sebelum kak Rendi menyelesaikan perkataannya.
"Suami?!"
Tanya uti dengan tatapan heran kearahku.
"Iya uti,namanya mas Rio."
"Bukannya kamu masih sekolah?"
Tanya uti padaku.
Mama dan papa berusaha menjelaskan tentang pernikahan kami,juga tentang perjodohan yang sudah diatur oleh keluarga kami.
Uti merasa sangat kecewa dengan keputusan mama dan papa yang beliau anggap memaksaku untuk menuruti keegoisan mereka terutama keluarga papa yang tidak memberi kesempatan padaku untuk memilih jalan kehidupanku sendiri.
Meski uti merasa kecewa namun apa mau dikata semua telah terjadi,uti hanya bisa berpesan kepadaku untuk tetap melanjutkan sekolah setinggi-tingginya meski kini tengah menikah.
Uti meminta mama dan papa untuk tetap menjagaku dengan baik dan berharap supaya aku tidak segera hamil sebelum benar-benar siap dengan segala resiko pernikahan dini ini.
Bahkan uti sempat merasa kesal pada mama.
Pasalnya dulu sebelum menikah dengan papa,mama sempat menolak untuk dijodohkan namun kini justru tega menjodohkanku.
Uti tidak bisa berkata banyak karena keadaan keluarga kami yang juga sedang berduka,uti hanya bisa mengalah dan mama serta papa juga tak hentinya meminta maaf atas apa yang terjadi disini tanpa melibatkan uti dan keluarga yang lain.
Pagi harinya saat kami sekeluarga duduk di ruang makan untuk sarapan bersama,kulihat mama dan uti nampak sudah baik-baik saja.
Kukihat diantara mereka seperti tidak ada lagi masalah,sepertinya mereka sudah melupakan permasalahan mereka semalam.
__ADS_1
Hari ini mas Rio sudah harus kembali mengajar,sementara aku belum bisa berangkat sekolah karena memang sudah izin dan pihak sekolahpun memakluminya.
"Jadi Rio bekerja dimana?"
Tanya uti yang kini duduk di kursi antara mama dan kak Yahdan setelah selesai membantu mama dan bibi menyiapkan sarapan.
"Saya bekerja sebagai pengajar di sekolah Rara uti."
"Jadi kamu ini guru disekolahnya Rara?"
"Iya uti......"
Jawab kami berdua berbarengan,lalu sama-sama saling pandang sesaat.
Setelah kami selesai sarapan uti memanggilku dan mas Rio untuk bicara sebentar karena uti sangat tau betul waktu mas Rio tidaklah banyak.
"Apakah kalian sudah melakukannya?"
Tanya uti pada kami to the point.
"Melakukan apa uti?"
Tanyaku,sedangkan mas Rio hanya diam namun sepertinya dia paham sekali dengan pertanyaan uti dan hanya melihatku sesaat lalu kembali tertunduk di hadapan uti.
"Bukankah kalian sudah menikah? tentu sudah melakukannya kan?"
Tanya uti lagi memperjelas pertanyaannya di awal.
"Uti,kami......"
"Belum uti!"
Jawab mas Rio dengan cepat.
"Saya menghargai permintaan Rara pada saya,untuk tidak meminta hak saya sebelum dia lulus sekolah.Karena saya juga ingin dia lebih fokus pada sekolahny dulu uti."
Uti nampak terkejut dengan tatapan seolah tak percaya,namun sesaat menyunggingkan senyuman penuh kelegaan.
"Pertahankan kesabaranmu itu nak,uti harap pertahananmu tidak akan dengan mudah goyah.Jaga dan lindungi cucu uti,jangan sampai kamu menyakitinya.
Jikalau sekalipun kamu tidak mampu menahannya,setidaknya jaga pengorbanannya untuk menurutimu supaya jangan sampai dia dikeluarkan dari sekolahnya."
"Baik uti,terima kasih."
Dari sekian panjang kali lebar ucapan uti menasehati kami,sepertinya hanya mas Rio yang paham sedangkan aku hanya sebagian kecil inti dari perkataan uti yang bisa aku pahami.
Sesaat setelah mas Rio berpamitan untuk berangkat mengajar,uti dan kak Yahdan juga berpamitan untuk segera pulang ke kota tempat mereka tinggal.
Uti berharap suatu saat nanti kami sekeluarga bersedia mengunjunginya dan juga eyang kakung untuk memperkenalkan mas Rio sebagai suamiku pada semua keluarga besar mama.
__ADS_1
Kami hanya bisa mengucap Insya Allah....sebagai janji kami atas izin Allah untuk kembali bertemu dengan uti di kota tempat tinggal uti dan eyang kakung.
BERSAMBUNG......