
"Boleh kah Rara tau lebih banyak tentang masa lalu Rara dan ibu kandung Rara ma?"
Tanyaku mengharapkana hal lebih.
Mama mulai menceritakan semuanya,dimulai dari pertemuan mama dan papa dengan seorang perempuan muda bernama Pratiwi.
Mama dan papa kala itu baru saja pulang dari rumah sakit pasca mama keguguran untuk kesekian kalinya.
Kala itu kak Rendi masih duduk di bangku sekolah dasar sering merengek ingin memiliki adik perempuan.Tidak hanya kak Rendi saja mama juga begitu mengharapkan anak perempuan yang cantik sepertiku,kata mama begitu.Begitu juga dengan almarhum kakek yang kala itu begitu mengharapkan cucu perempuan,namun sayangnya setiap kali mama hamil selalu keguguran dan kebetulan calon janinnya sering kali perempuan.Hal tersebut sempat membuat mama stres dan hampir depresi,higga pada keguguran yang ketiga kalinya mama bertemu dengan Pratiwi ibu kandungku.
Secara tak sengaja papa bertabrakan dengan Pratiwi di depan rumah sakit ketika hendak pulang dari rumah sakit hingga membuat Pratiwi jatuh dan sempat mengalami pendarahan.
Papa dan mama langsung menemaninya ke IGD sebagai wujud tanggung jawab karena telah menabrak hingga membuat seorang perempuan hamil mengalami pendarahan.
Namun hal mengejutkan terjadi ketika Pratiwi tersadar dan mendengar penjelasan dokter bahwa kandunganya baik-baik saja,justru malah merasa sedih dan kecewa.Bahkan sempat bilang jika dia mengharapkan bayi dalam kandungannya mati saja.
Setelah di telisik ternyata Pratiwi hamil diluar nikah karena menjadi korban pelecehan oleh seorang pria bejat yang tak ia kenal dan tak diketahui keberadaannya hingga sekarang.
__ADS_1
Pratiwi diusir dari rumah oleh orang tuanya ketika mengetahui Pratiwi hamil diluar nikah dan menganggapnya sebagai aib keluarga.
Mama da papa membawanya ke panti asuhan Mutiara Kasih untuknya tinggal,mama dan papa janji akan merawat calon bayi yang ternyata dokter bilang adalah perempuan setelah lahir nanti dan Pratiwi bebas menentukan kehidupannya dimasa depan.
Mama dan papa juga tidak akan pernah melarang jika dia ingin bertemu dengan putrinya kapanpun,atau jika dia ingin melanjutkan kehidupannya mama dan papa akan mendukungnya.
Selama hamil dan tinggal di panti asuhan,mama dan papa hampir setiap hari datang berkunjung dan mencukupi segala kebutuhan Pratiwi agar ibu dan bayi dalam kandungan tetap sehat.
Malam itu Pratiwi mengeluh sakit perut dan menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan,karena usianya yang masih sangat muda yakni baru delapan belas tahun kala itu membuatnya tak mampu melahirkan secara normal dan terpaksa harus dilakukan tindakan operasi cesar.
Akhirnya operasi pun dilaksanakan namun naas Pratiwi tak mampu bertahan setelah selama sepekan mengalami koma dan dirawat di ICU karena mengalami pendarahan hebat.
Mama dan papa segera mengurus akta kelahiran kala itu,Arya Dwipa Anggara
dan Diana Karina Anggara sebagai orang tua kandungku di dalam akta kelahiranku hingga kini.
Kupeluk erat tubuh mama,dan mama membelai lembut kepalaku yang masih terbungkus hijab.
__ADS_1
Andai saja saat itu mama tidak merawatku mungkin aku masih tinggal di panti asuhan,atau mungkin jika mama tidak bertemu dengan ibu kandungku mungki aku tidak akan lahir didunia ini.
"Semua yang terjadi sudah takdir da Yang Maha Kuasa sayang,tidak ada yang kebetulan dan tidak ada yang harus dipersalahkan."
Aku hanya mengangguk pelan seolah enggan melepaskan pelukan mama.
"Ma......"
"Iya sayang?"
"Apa boleh jika aku tidak tinggal disini?"
Tanyaku
"Kenapa?"
Tanya mama sambil melepaskan pelukanya dariku.
__ADS_1
Bersambung......