Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Membesuk Jesi


__ADS_3

"Permisi....Jes!"


Panggilku saat kami memasuki kamar Jesika setelah seorang pelayan membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk.


"Masuk Ra!"


Pinta Jesi dengan suara lemah dan serak.


"Jes.....!"


Sapa Medina sambil berjalan mendekat kearah Jesi mengikutiku dari belakang,sedangkan Samuel lebih memilih diluar bersama pak Pras.


"Medin!"


Jesi nampak terkejut saat melihat Medina yang juga ikut menjenguknya.Mungkin Jesi tak menyangka jika Medina masih begitu perduli padanya atas apa yang Jesi perbuat pada Medina dan kini Medina masih mau membesuknya.


"Spertinya kau sangat terkejut melihatku Jes!"


Ucap Medina pada Jesi dengan acuh.


"Terima kasih Din,kamu masih perduli dan mau membesukku."


"Kalu bukan karena Rara yang memaksaku,mungkin aku tidak akan sampai sini sekarang!"


Jesi berusaha bangun dari pembaringannya dan duduk sambil bersandar pada sandaran tempat tidurnya yang sangat besar.


"Din....aku minta maaf atas apa yang terjadi waktu itu!"


Dengan suaranya yang pelan Jesi berusaha meminta maaf pada Medina,sedangkan Medina hanya terdiam tak menyahut.


"Sudah lah Jes....jangan katakan apapun! kamu sedang sakit sekarang."


Pintaku agar Jesi tidak memaksakan dirinya terus-menerus meminta maaf dari Medina.


"Sudah lah Jes,lagi pula kata maafmu tidak akan pernah merubah apapun.Aku hanya tidak menyangka saja,aku memiliki teman yang begitu tega sepertimu!"


Jesi menangis sambil menggenggam jemari Medina,seolah menggambarkan penyesalan yang begitu dalam serta kata-kata yang keluar dari mulut Medina meski bisa dibenarkan namun terdengar begitu menyakitkan untuk Jesika.


"Aku terpaksa melakukannya Din,Ra! aku tak ada cara lain selain menuruti kemauan Roi,karena dia mengancamku!"


Ucapnya lemah.


"Mengancam?" Tanyaku penasaran.


"Iya Ra,dia mengancamku akan menyebarkan keseluruh sekolah dan juga media sosial foto-fotoku yang tengah tanpa busana yang entah dari mana dia dapatkan."


Entah benar atau tidaknya alasan Jesi kali ini tapi aku percaya padanya,aku merasa Jesi sedang tidak berbohong kali ini.


"Lalu kenapa aku yang harus kau korbankan! kenapa bukan orang lain?"


"Maaf Din,aku benar-benar minta maaf!"


Aku seperti orang yang harus menjadi wasit dalam sebuah pertandingan,Sedangkan keduanya adalah sahabatku yang tak mungkin ku bela salah satunya.


"Jes.....sebenarnya kamu sakit apa? sudah kedokter belum?"

__ADS_1


Tanyaku berusaha meredam ketegangan diantara keduanya dan berusaha mengurangi hawa panas yang memenuhi kamar Jesi meski pendingin ruangan telah menyala.


"Sepertinya lambungku bermasalah Ra,rasanya mual."


Jawabnya sambil memegangi perut serta kepalanya yang mungkin terasa pusing.


"Jes,kalau pusing tiduran saja!"


Aku dan Medina membantu Jesi agar kembali berbaring.


Namun bukannya berbaring,Jesi justru bangkit dan berjalan pelan sambil terseok-seok menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya


Terdengar suara Jesi sedang memuntahkan isi perutnya.


"Jangan-jangan Jesi hamil Ra!"


Bisik Medina padaku.


"Sssst,jangan sembarangan Din! takutnya jadi fitnah!"


Jawabku sambil ikutan berbisik.


"Iya,iya maaf! aku kan hanya bilang JANGAN-JANGAN!"


"Ssst!"


Kusenggol lengan Medina saat kulihat Jesika keluar dari kamar mandi,kami segera mendekat untuk membantu memapah Jesi menuju tempat tidurnya lagi.


"Kita periksa kedokter ya Jes? sepertinya sakitmu parah dan perlu diperiksa dokter."


Bujukku agar Jesi bersedia kami antar kedokter terdekat.


Jesi hanya menggelengkan kepalanya sambil merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Kami semua dikejutkan oleh suara panggilan dari hapeku yang berdering.


"Maaf,aku angkat telfon dulu ya!"


Aku segera menjauh dari kedua sahabatku karena aku tau pasti mas Rio yang menelfonku.


Aku tak mau mereka melihat panggilan di layar hapeku dengan kontak pak Mario.Mereka pasti akan curiga akan kedekatan hubunganku dengan pak Mario di luar sekolah.Terutama Jesi,dia begitu menggilai pak Mario hingga menyatakan peradaannya berkali-kali meski berkali-kali pula ditolak.


Apalagi Jesi yang sekarang sedang sakit,apa jadinya jika dia tau pak Mario menelfonku? Dia pasti akan semakin tertekan.


"Halo.....!"


"Kenapa masih belum juga pulang! apa penyakit Jesi sangat parah?"


"Iya,iya....sebentar lagi aku pulang mas!"


Segera kumatikan panggilan tanpa basa basi lebih dulu.


"Siapa Ra? mamamu?"


Tanya Medina padaku.

__ADS_1


"Ngg.......iya! hehehe."


Jawabku dengan gugup.


"Kalian kalau mau pulang,pulanglah! aku sudah tidak apa-apa kok!"


Kata Jesika pada kami terlihat berusaha kuat agar kami bisa meninggalkannya tanpa rasa cemas.


"Lagipula,tidak biasanya mamamu menyuruhmu cepat pulang Ra! kamu tadi bukanya sudah izin?"


Tanya Medina lagi padaku,seakan dia sudah mulai curiga dengan sikapku.


Setelah memastikan keadaan Jesu baik-baik saja,akhirnya kami putuskan untuk segera pulang kerumah masing-masing.


Samuel juga sempat bertemu sekejap dengam Jesika saat kami hendak berpamitan pulang,Jesika terlihat canggung saat berhadapan dengan Samuel namun aku buru-buru menggandeng lengan Samuel untuk kuajak segera pulang.


"Ehem!"


Medina berdehem saat melihatku memegang lengan Samuel.


"Bukan muhrim Ra!"


"Waduh! sory Din,aku tidak bermaksud apa-apa,aku hanya tidak mau nanti mulut ganas Samuel mengatakan sesuatu di dalam sana."


Ucapku berusaha menyelamatkan diriku sendiri dari terkaman Medina yang terlihat sudah mulai menampakkan taring,kuku panjang serta cula di kepalanya dalam imajinasiku saja.


"Kita langsung pulang sekarang nona?"


Tanya pak Pras padaku dan langsung membukakan pintu mobil untukku.


"Iya pak,jangan sampai nanti ada yang semakin marah lagi padaku!"


Jawabki sambil memasuki mobil.


Betapa terkejutnya aku sampai membuat tubuhku terhentak karena ternyata ada mas Rio tengah duduk diam dengan santainya di sampingku sambil memandang wajahku dengan tatapan iblis.


Aku segera keluar lagi dari dalam mobil untuk sekdar say goodbye pada Medina dan Samuel,karena aku takut jika kubuka kaca jemdela mobil maka Medina akan melihat mas Rio di dalam mobil yang sama denganku dan jika tak kubuka kaca mobil untuk mengucapkan selamat tinggal dengannya maka dia akan berfikir bahwa aku sombong tak mau say goodbye padanya.


Setelah melihat Medina benar-benar pergi dan tak terlihat oleh pandanganku,barulah aku masuk kembali kedalam mobil dengan ragu.


"Ehehehehe......selamat sore pak!"


Sapaku dengan senyum yang kupaksa pada seorang laki-laki yang kini duduk bersebelahan denganku.


Dia hanya diam menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi penumpang sambil memejamkan mata.


"Jalan Pras!"


Ucapnya masih dengan mata terpejam tanpa kaca mata.


Sebenarnya aku lebih suka melihatnya tanpa kaca mata,meski saat mengenakan kaca mata pun tidak akan mengurangi ketampanannya tapi saat tanpa kaca mata menurutku dia terlihat jauh lebih muda dan lebih tampan.


Sepertinya dia mengenakan kaca mata hanya saat disekolah atau saat berada di kota ini saja,nyatanya saat berada di kota tempat asalnya tak pernah kulihat dia mengenakan kaca matanya.


Mungkinkah kaca matanya hanya hiasan untuk menutupi jati dirinya saja! lalu dari siapa dan dengan alasan apa!

__ADS_1


Batinku.


BERSAMBUNG......


__ADS_2