
Zarra yang mulai mengantuk kini kugendong dan ku timang-timang supaya cepat tertidur.
Benar saja tak berapa lama setelah berada dalam gendonganku tak terdengar lagi ocehannya yang sejak tadi begitu ramai bergema di dalam kamarku.
Tanpa terasa hari sudah semaki sore,Zarra kini sudah di ambil oleh sang pengasuh.
Aku segera mandi karena mama sudah memberitahuku untuk segera bersiap setelah maghrib akan ada yang datang kekamarku untuk meriasku.
Sebenarnya acara baru akan dimulai sekitar pukul delapan malam,tapi mama bilang tidak ada salahnya jika meriasku harus dilakukan lebih awal agar acara tidak mundur hanya karena menungguku yang belum selesai berdandan.
Nenek datang kekamarku sesaat setelah aku selesai mandi dengan didampingi oleh mama.
Nenek dan mama kembali menanyakan soal kemantapan hatiku atas keputusan besar sebelum kejenjang yang lebih serius lagi yaitu pernikahan.
Nenek hanya ingin aku benar-benar mantap dan tidak akan pernah merubah keputusanku nanti setelah pesta pertunangan selesai,bahkan nenek sempat mendo'akan agar semuanya berjalan lancar dan kami di berjodoh hingga maut memisahkan.
Tak ada kata yang dapat kuucapkan dihadapan nenek kecuali hanya mengaminkan semua do'a dari nenek yang menurutnya baik untuk masa depan kami.
Mama memandangku begitu dalam seolah penuh makna meski bibirnya hanya terdiam,mamalah orang yang paling tau isi hatiku saat ini.
Andaikan aku bisa ma,aku ingin sekali bilang tidak dan pergi dari keluarga ini.Namun kenyataannya aku tidak bisa,aku tidak mampu.Seolah ada rantai besi yang di ikatkan padaku,bukan dikakiku namun dihatiku membuatku tak dapat berbuat apapun bahkan sekedar untuk berkata tidak.
Ibu.....ibu Pratiwi.....apakah disana kau juga bisa merasakan apa yang sedang anakmu rasakan sekarang? taukah engkau bu,bahwa aku ingin sekali bilang tidak! namu aku tidak mampu karena pada kenyataannya aku bukan hanya anak angkat di keluarga Anggara,melainkan cucu kandung dan satu-satunya cucu perempuan yang mereka miliki.
Bahkan aku tidak tau haruskah aku bangga dengan semua ini atau mengutuk diriku sendiri sebagai cucu perempuan tunggal dikeluarga Anggara.
Meskipun aku begitu disayang dan dicintai didalam keluargaku sendiri dan di keluarga calon suamiku serta aku begitu di hormati bak bangsawan bahkan sebelum aku resmi menjadi menantu mereka.Tapi entah mengapa hati ini tak sedikitpun silau akan semua itu,entah apa yang salah dari diriku jika perempuan diluar sana pasti akan sangat bahagia mendapat keaempatan sepertiku saat ini.
Bercalon suamikan seorang pewaris tunggal keluarga konglomerat yang begitu tampan dan rupawan,serta memiliki calon mertua dan calon kakak ipar yang begitu perduli dan sangat penyayang.
Aku bersimpuh di kaki nenek serta menangis dipangkuannya yang kini masih duduk dikursi roda yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi.
Nenek membelai kepalaku yang kini belum mengenakan jilbab karena baru selesai mandi dengan rambut masih setengah basah.
__ADS_1
"Kelak jadilah istri yang baik,jaga kehormatan dirimu sendiri sebelum pernikahan terjadi."
Pesan nenek padaku masih sambil mengusap kepalaku dan kini mengangkat daguku untuk mendongakkan wajahku menghadap kearah nenek.
Disapunya air mata yang masih mengalir melewati pipiku.
"Sudah jangan menangis lagi.Hari ini adalah hari bahagia untukmu,kenapa kamu malah menangis?"
Aku berusaha memaksa bibirku untuk tersenyum dihadapan nenek.
"Kalau matamu sembab,nanti kamu tidak terlihat cantik saat dirias!"
Ucap nenek.
"Yang penting setelah dirias terlihat cantik kan nek?"
Jawabku sambil terkekeh,nenek ikut tertawa mendengar ucapanku dan mama juga ikut tertawa namun sangat terlihat sangat dipaksakan.
"Diana!"
"Iya ma?"
Jawab mama.
"Lihatlah baik-baik putri kecilmu yang selalu kau banggakan didepanku selama lebih dari delapan belas tahun ini,sebentar lagi dia akan menjadi calon istri orang!"
"Iya ma,Diana tau!"
"Apakah kau akan merasa cemburu jika dia nantinya akan lebih mencintai dan lebih memilih hidup bersama suaminya dibandingkan denganmu nanti?"
"Ma.....!"
Mama memeluk nenek dari samping sambil menciumi pipi serta kening nenek berkali-kali.
__ADS_1
Aku masih belum begitu paham akan maksud dari keduanya,kenapa nenek bicara demikian dan kenapa mama seolah merasa sangat bersalah mendengar ucapan nenek? aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati tanpa berani mengucapkan sepatah katapun.Aku tak mau merusak moment mereka berdua,biarkanlah aku hanya menjadi penonton saja dan menunggu kisah selanjutnya.
"Maaf ma,mas Arya tidak pernah menomor duakan mama.Selama ini mama adalah wanita pertama yang ada dihati mas Arya,sesayang apapun mas Arya padaku tak akan pernah bisa menggantikan posisi mama diharinya!"
Ucap mama sambil kembali memeluk nenek dan kini nenek juga memeluk mama sambil sesekali mencium pipi menantu kesayangan dari anak laki-laki kesayangannya tersebut.
kami bertiga berpelukan bagaikan teletubies.
"Sudah jangan bersedih lagi,bukankah hari ini hari bahagianya Rara?"
Ucap nenek sambil melepaskan pelukannya dariku dan mama.
"Rara,banyaklah belajar dari mamamu!"
"Siap nek!"
Jawabku sambil mendekatkan kelima jemariku yang terjajar rapi ke dahi dekat pelipis,dengan posisi hormat bagaikan prajurit menghormati komandannya membuat nenek dan mama tertawa lepas melihat tingkahku.
Aku tidak boleh terlihat tidak bahagia didepan siapapun,aku harus belajar menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Saat aku sedang serius mendengarkan kembali pesan serta petuah dari nenek dan mama,tiba-tiba saja ada suara ketukan dari pintu kamarku membuat nenek menghentikan wejangannya untukku.
Segera kubuka pintu kamarku dan ternyata mami yang datang ikut bergabung dengan kami.
Nenek melanjutkan kembali kata-kata petuahnya meski kini ada mami dikamarku,bukannya merasa canggung justru mami malah ikut menambahi beberapa wejangan yang ternyata tak beda jauh dengan kata-kata yang nenek ucapkan.
Saking asyiknya kami mengobrol naglor,ngidul ternyata hari sudah semakin petang.Semua berpamitan kembali kekamar masing-masing untuk bersiap-siap melaksanakan kewajiban serta memepersiapkan diri untuk acara nanti malam.
Setelah selesai menunaikan sholat maghrib,terdengar kembali suara ketukan dari pintu kamarku.Entah sudah berapa kali pintu kamarku terketuk selama aku berada di sini,mungkin jika pintu ini hidup dan bisa mengungkapkan apa yang dirasakan dia akan berteriak kesakitan karen selalu merasakan sakitnya berulang kali di ketuk.
Saat kubuka pintu kamarku ternyata dua orang perempuan cantik sudah berdiri didepanku dengan membawakan segala keperluanku dan merekalah yang akan membatuku mempersiapkan diri untuk acaraku malam ini agar aku tampak jauh lebih cantik dari siapapun karena malam ini aku adalah tuan putrinya mami setelah kak Reina tentunya.
Aku sangat gugup karena sebentar lagi semua orang akan melihatku keluar dengan dandanan seperti ini,aku memang selalu tidak percaya diri ketika mengenakan riasan yang agak sedikit berlebihan dan bedak yang sedikit tebal.Karena kak Rendi pasti akan selalu bilang aku terlihat aneh,sama seperti saat aku didandani oleh MUA yang di sewa mama saat acara kelulusan sekolah ketika SMP dulu.
__ADS_1
BERSAMBUNG......