Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Kak Rosa


__ADS_3

Setelah selama dua hari berada di ICU kini keadaan nenek semakin membaik dan sudah bisa dipindahkan keruang perawatan biasa.


Selama nenek dirumah sakit aku lebih memeilih tinggal di panti untuk sementara waktu untuk menghindari kak Rendi.


Karena mama dan papa yang harus lebih sering berada dirumah sakit menemani nenek berhantian pula dengan bu Sum.


Seiring keadaan nenek yang mulai membaik dan sudah dipindahkan keruang perawatan biasa membuatku jadi bisa leluasa membesuk nenek setiap pulang sekolah dan kali ini aku kerumah sakit bersama pak Mario yang beralasan ingin membesuk nenek juga.


Saat aku sedang berjalan dikoridor depan ruang rawat inap nenek kulihat kak Rosa yang sedang duduk di kursi roda dengan di dorong oleh seorang perempuan yang ternyata adalah mamanya kak Rosa.


"Kak Rosa?"


Aku berjalan cepat menuju kearah kak Rosa dan kutarik tangan pak Mario agar ikut menemaniku.Kak Rosa dan mamanya mengajakku masuk kedalam kamar inap tempat kak Rosa selama dirumah sakit.


"Kamu kok disini,siapa yang sakit?"


Tanya kak Rosa dengan suara yang sangat lemah.


"Nenek yang sakit kak."

__ADS_1


"Keluarga semuanya apa kabar?"


"Baik kak,Alhamdulilah."


Jawabku.


Setelah mendengan cerita dari orang tua kak Rosa,ternyata kak Rosa mengidap tumor otak ganas yang bersarang dikepalanya.Meski dokter memvonis bahwa usianya tidak akan lama,mungkin hanya bisa bertahan selama beberapa bulan lagi tapi menurut mamanya kak Rosa begitu beraemangat ingin sembuh agar kak Rendi mau menerimanya kembali dan menikahinya.


Tante Widia,mamanya kak Rosa menceritakam semuanya setelah kak Rosa terlelap akibat pengaruh obat pereda rasa nyeri yang di suntikkan oleh seorang perawat melalui selang infusnya.


Sebenarnya kak Rosa sudah beberapa kali menjalani operasi pengangkatan tumor di kepalanya serta beberapa kali menjalani kemotherapi dan sempat dinyatakan sembuh oleh pihak rumah sakit,namun karena pengaruh obat-obatan yang terlalu keras dengan dosis tinggi untuk melawan tumornya kini berpengaruh pada ginjalnya.


Aku benar-benar merasa prihatin melihat keadaan kak Rosa,tante Widia menangis sambil memelukku.


Tante Widia menggenggam tanganku begitu erat.


"Minta tolong apa tante?Insya Allah jika selama saya mampu akan saya usahakan tante."


"Tolong bujuk Rendi agar mau baikan sama Rosa,agar tante bisa melihat Rosa bahagia disisa umurnya yang tidak lagi lama."

__ADS_1


Sejenak aku hanya bisa terdiam sambil melihat kearah pak Mario yang justru hanya diam seolah tak peduli dengan posisiku.


"Tante mohon sama nak Rara supaya bisa bantui tante mendekatkan Rendi dengan Rosa lagi."


"Tante.....tante,Rara akan berusaha sebisanya tapi soal bagaimana kedepannya nanti kita pasrahkan semuanya sama yang kuasa ya tante."


"Terima kasih ya nak Rara,terima kasih banyak atas kepeduliannya."


"Sama-sama tante,tante yang sabar ya.Maaf tante kami harus pamit pulang dulu."


Sepanjang perjalanan menuju parkiran aku hanya melamun tak karuan memikirkan semua yang terjadi membuatku benar-benar tidak tau harus berbuat apa.


"Kamu baik-baik saja?"


Tanya pak Mario padaku.


"Entah,bahkan saya sendiri ragu apakah saya masih waras atau tidak sekarang pak."


"Apa perlu kita ke IGD?"

__ADS_1


Aku hanya melirik kearah pak Mario yang terasa semakin menyebalkan.Apakah iya aku harus menikah dengan orang macam dia yang begitu menyebalkan.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2