
Hari ini adalah hari dimana ujian dilaksanakan,kami sudah mempersiapkan diri dengan belajar lebih serius selama beberapa hari terakhir.
Hari ini aku berangkat kesekolah diantar oleh pak Yanto yang dulu bekerja sebagai sopir nenek dan ikut serta tinggal dirumah kami atas perintah nenek agar lebih mudah jika akan bepergian ketika papa dan kak Rendi tak ada dirumah,karena kami memang tak memiliki sopir pribadi sedangkan aku sendiri atau mama tidak diperbolehkan menyetir padahal mama dulunya jago menyetir dan kemana-mana bawa mobil sendiri.
Aku sengaja berangkat lebih awal daripada biasanya,karena aku tidak mau terlambat datang ke sekolah apalagi hari ini adalah hari penting yang akan menentukan masa depanku.Aku tidak mau jika sampai tidak naik kelaa hanya karena terlambat datang dan tidak bisa mengerjakan soal ujian dengan maksimal nantinya.
Dari depan gerbang sekolah kulihat Medina sepertinya baru saja keluar dari ruang kepala sekolah,entah ada keperluan apa dia dari sama karena aku hanya melihatnya dari kejauhan.
Kupercepat langkahku agar segera menyusul dimana Medina sekarang berada.
"Din....tunggu!"
Teriakku,saat jarak kami sudah tak terlalu jauh.
Medina menghentikan langkahnya dan menoleh kearahku.
"Hai Ra,ayo!"
"Kamu tadi dari ruang kepsek?"
Tanyaku padanya,sedangkan Medin hanya menundukkan kepalanya dan terdiam.
"Din.....kamu kenapa?ada masalah? Din....ayolah....katanya kita kan sahabat? masa ada masalah mau di pendam sendiri gitu?!"
Aku berusaha sedikit mendesaknya agar dia mau cerita.
"Nggak ada apa-apa kok Ra,beneran."
Jawabnya sambil melihat beberapa teman kami yang baru datang.
__ADS_1
"Din....kita berteman sudah lama,aku tau kamu sedang bohong,tapi aku juga tidak bisa memaksamu untuk menceritakan apa masalahmu karena itu adalah privasimu."
Medina masih terdiam dan hanya menundukkan kepala.
"Din kita ini sahabat,siapa tau aku bisa bantu masalah kamu.Soal uang?"
Tebakku dengan asal-asalan.
Medina menganggukkan kepalanya pelan membuatku terkejut karena apa yang asal saja kutebak barusan ternyata benar adanya.
"Jadi beneran karena uang?"
Tanyaku lagi menegaskan.
"Iya Ra orang tuaku belum ada uang untuk membayar uang sekolah yang harusnya sudah lunas sebelum ujian."
"Kemarin kepala sekolah memanggilku dan hari ini harusnya orang tuaku diminta datang kesekolah pagi ini,namun mereka berhalangan hadir dan baru bisa datang nanti agak siangan Ra."
"Sekarang ikut aku ke kantor kepala sekolah yuk!"
Ajakku sambil menggandeng pergelangan tangannya ku bawa Medina untuk menghadap ke kantor kepala sekolah sekali lagi.
"Mau ngapain Ra?"
"Emangnya kamu mau pagi ini nggak bisa ikut ngerjain ujian?mau nungguin orang tua kamu dateng?!"
Segera ku lanjutkan langkahku menuju ruang kepala sekolan dengan masih menggandeng lengan Medina.
Baru saja sampai di depan ruangan kepala sekolah,kami bertemu dengan pak Mario yang kebetulan baru saja keluar dari ruang kepala sekolah.
__ADS_1
"Selamat pagi pak...."
Sapa kami hampir berbarengan.
"Kalian mau kemana?"
Tanyanya.
"Kami....mau masuk keruang kepala sekolah pak."
Jawabku.
"Mau apa,ini?"
Tanyanya sambil memberikan sebuah kartu tanda peserta ujian yang akan diselenggarakan hari ini kepada Medina.
Aku hanya bisa terdiam merasa bingung dengan sikap pak Mario,meski dia tampak begitu dingin dan seolah tak peduli namun sebenarnya dibalik itu semua beliau sangat baik.Nyatanya aku sendiri sudah beberapa kali di tolong olehnya dan kali ini Medina.
"Terima kasih pak karena sudah membantu saya."
Ucap Medina pada pak Mario sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Iya sama-sama."
"Kami permisi pak."
"Hmmm."
Bersambung.....
__ADS_1