
Aku berencana mampir kerumah Jesi sepulang sekolah nanti untuk membesuknya supaya aku tau bagaimana keadaannya serta tau sedang sakit apa dia sekarang.
Saat jam istirahat aku,Medin dan Sam sedang asyik mengobrol di kantin sambil menikmati makanan yang sudah kami pesan.
"Nanti pulang sekolah mampir kerumah Jesi yuk! kita tengokin dia,sebenarnya sakit apa sih dia?"
Ajakku pada mereka berdua yang kini hanya saling pandang mendengar ajakanku.
"Nggak ah!"
Jawab Medina.
"Jangan gitu dong,bagaimanapun kita kan masih teman satu kelas dan kita bertiga pernah bersahabat dekat bukan?"
Medina terdiam sesaat lalu melihat kearah Sam dan begantian melihat kearahku.
"Bagaimana Sam?"
Tanyanya pada Samuel yang sedang asyik mengunyah snak keripik singkong dalam kemasan yang terkadang terhenti kunyahannya sambil mengobrol dengan kami.
"Kalau aku sih ikut kalian bagaimana baiknya saja!"Jawab Samuel sambil sesekali menyeruput jus jeruk miliknya
"Tapi aku masih kesal padanya Ra!"
Kata Medin padaku.
"Ingat,kita tidak boleh marahan lebih dari tiga hari berturut-turut! ingat kata guru agama kita!"
Aku berusaha menggurui dan menasehati Medina agar tak memendam amarahnya pada Jesi terlalu lama.
"Oke! baiklah aku ikut! kalau sekarang aku mau ketoilet dulu ya!"
Medina berjalan cepat menuju toilet,meninggalkan kami hanya duduk berdua saja di sudut tempat makan di area kantin sekolah.
"Pras sekarang jadi pengasuhmu Ra!"
"Pengasuh- pengasuh.....perawat Sam! emangnya aku bayi apa!"
"Iya,iya! pengawal.....Kenapa?"
"Tanyakan saja pada tuan muda!"
"Hahaha.....! bagaimana perasaan anda ketika pertama kali masuk kedalam keluarganya?"
"Jujur aku syok Sam! kenapa selama ini tidak ada yang memeberi tauku? kamu juga! katanya kita geng? sobat? kawan macam apa kamu tidak memberi tauku tentangnya! sedangkan dia tau semua hal tentangku! Aku kesal Sam ....!"
"Ya begitulah kak Rio! tapi dia baik kok!"
Kusenggol lengan Sam saat kulihat Medina mulai mendekat kearah kami.
"Kak Rio siapa?"
Tanya Medina pada kami,sepertinya Medin sempat mendengar sedikit dari percakapan kami barusan.
"Hah! Kak Rio, kak Rio siapa? oiya,kemarin Rara sempat menyebut juga nama mas Rio,sekarang Sam juga menyebut nama kak Rio.Kak Rio atau mas Rio itu siapa sih sebenarnya?"
Medina mulai menatap kami dengan curiga.
"Pemain bola!"
Jawab Samuel dengan asal.
"Benarkah! sejak kapan kamu suka bola Ra? kamu bahkan tidak pernah membahas itu denganku!"
Aku hanya tersenyum sambil berusaha mengalihkan pembicaraan dengan membahas soal rencana kami mampir kerumah Jesi sepulang sekolah,Medina pun dengan cepat melupakan pembicaraan tentang mas Rio.
__ADS_1
Jam sekolah telah usai,segera ku nyalakan hapeku dan kucari kontak pak Pras.Segera ku telfon dia dan ternyata sudag berada di depan gerbang sekolah.
"Pak Pras,sebelum pulang kita mampir dulu kerumah teman saya ya!"
"Baik nona,"
Jawab pak Pras padaku sambil melajukan mobil mengikuti laju motor Samuel dan Medina yang sudah lebih dulu didepan kami.
"Halo tuan muda, maaf nona Maura meminta saya mengantarkannya kerumah temannya terlebih dahulu. Baik!"
Pak Pras melepaskan earphone yang menempel di lubang telinganya.
"Apakah harus melaporkan apapun yang kulakukan pada tuan mudamu pak Pras!"
Tanyaku kesal,karena aku merasa terkekang oleh tingkah tuan mudanya.
"Maaf nona,tuan muda yang menanyakannya pada saya bahkan sebelum saya melapor!"
"Hah! benar kah? apa dia memata-matai kita? atau di mobil ini sudah di pasang GPS!"
"Maaf nona,tuan muda bahkan tanpa benda itu pun tuan muda akan selalu tau kemanapun nona berada!"
"Benarkah!"
Aku hanya bisa mendengus kesal,tiba-tiba saja dering hapeku berbunyi dari dalam tas ranselku.
"Halo...!"
"Kenapa tidak izin dulu kalau mau pergi?"
Tanyanya dari ujung panggilan.
"Saya sudah izin pada mama!"
"Mulai sekarang selain izin pada mamamu,izin juga padaku!"
"Aku ini calon suamimu!"
"Baru juga calon,sudah banyak mengatur!"
"Berani membantah!"
"Tidak! hanya saja sedikit protes!"
Jawabku kesal.
"Sama saja! apa perlu kuberi taukan orang tuamu,kalau kau sering membantah calon suamimu?"
"Dasar tukang ngadu!"
Ku tutup panggilan via aplikasi di hapeku dengan kesal.
Kenapa aku harus menjadi calon istri dari seorang yang begitu menyebalkan seperti dia? bahkan semua orang menganggapnya baik dan hempir semua orang mengidolakannya,begitu juga diriku dulu.Jauh sebelum tau sifat dan sikapnya terhadapku sekarang ini.
"Pak Pras,apakah tuan mudamu itu selalu menyebalkan seperti itu!"
Tanyaku dengan kesal,berusaha meluapakan kekesalanku pada pak Pras yang ada di bangku kemudi.
"Tidak nona,tuan muda orang yang baik.Mungkin mood tuan muda yang sedang tidak bagus!"
Jawabnya dengan santai sambil fokus menyetir.
"Benarka? berarti moodnya selalu tidak bagus setiap kali dekat denganku? begitukah maksudmu!"
"Maaf atas kelancangan saya nona,saya tidak bermaksud membuat nona marah."
__ADS_1
"Hah.....! sudah lah!"
'Kenapa tidak juga meminta izin? bahkan kamu hampir sampai dirumah jesi.'
Sebuah pesan masuk dari pak Mario.
"Ya Allah.....! apa sih maunya orang ini? bukankah dia sudah tau dan juga sudah kuberi tau!"
Aku bergumam kesal pada seseorang yang tak ada dihadapanku.
'Maaf calon suamiku!'
'Mas............sepulang sekolah saya mau mampir kerumah Jesika,membesuknya yang sedang sakit.Bolehkah?'
Ku kirim kan pesan untuknya dengan cepat.
'Baiklah calon istriku,hati-hati dijalan ya.....jangan terlalu sore pulangnya!'
Balasnya dengan manis jika di baca dengan nada yang lemah lembut,namun terasa berbeda jika dia ucapkan langsung dihadapanku.
'Terima kasih untuk izinnya mas!'
'Kenapa tidak menyebutku dengan calon suami lagi? kedengarannya itu jauh lebih baik!'
"Hufh!"
Aku benar-benar kesal dibuatnya,aku sangat menyesal menyebutnya sebagai calon suamiku di dalam pesanku tadi.
Tak ku hiraukan lagi pesan darinya,karena mobil telah berhenti tepat didepan rumah Jesika.
Samuel dan Medina memarkirkan sepeda motor mereka dengan berjajar rapi di sebelah mobil pak Pras.
"Saya tunggu di sini saja nona!"
"Baiklah!"
Jawabku acuh.
"Ra....itu siapa? aku baru lihat,kukira tadi kak Rendi."
Tanya Medina padaku sambil menunjuk kearah pak Pras.
"Jangan nunjuk-nunjuk Din,nanti kamu di terkam!"
Ledek Sam sambil melihat kearah pak Pras.
"Ih......takut!"
Canda Medina pada Samuel.
"Itu sopir baruku Din,lebih tepatnya sopir pribadi."
Jawabku santai sambil memencet bel rumah Jesika.
"Ganteng ya Ra?"
"Ehem!"
Aku berdehem sambil melihat kearah Samuel yang sepertinya tak begitu memperdulikan ucapan Medina.
Kami mengucapkan salam saat pelayan yang bekerja dirumah Jesi menyapa lalu mempersilahkan kami masuk.
Jesi berada di kamarnya dan pelayan meminta kami langsung masuk saja kedalam kamarnya.
Kami segera berjalan beriringan mengikuti seorang pelayan yang mengantarkan kami menuju kamar Jesika.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....