
Keadaan nenek sudah mulai membaik,meski belum bisa diajak berkomunikasi namun nenek sudah mulai sadar dan membuka matanya.
Kami berempat mengikuti beberapa petugas membawa nenek ke ruang perawatan,karena nenek akan segera dipindahkan ke ruang perawatan.
Sesampai ya kami di ruangan nenek salah satu petugas berpesan agar jangan terlalu banyak pengunjung atau penunggu karena pasien masih perlu banyak istirahat,kami hanya bisa menurutinya.
Mama dan Papa meminta kami untuk segera pulang,biar mama dan papa saja yang menunggui nenek.
Lagi pula besok aku harus sekolah dan kak Rendi juga harus kekantor,apalagi kemungkinan dalam beberapa hari ini papa tidak bisa pergi kekantor selama nenek sakit dan sudah pastinya beberapa pekerjaan papa akan handle oleh kak Rendi.
Akhirnya dengan terpaksa aku harus pulang dan semobil dengan kak Rendi lagi.
"Dek,kamu laper nggak?"
"Nggak."
Jawabku berbohong,karena aku ingi segera lekas sampai rumah.Rasanya kurang nyaman berduaan di dalam mobil dengan kak Rendi,suasana kembali menjadi canggung ketika kami hanya berdua.
"Kakak laper dek,kita mampir makan dulu ya?"
Pintanya,padahal sebenarnya aku sendiri juga lapar sekali karena tadi hanya makan sedikit tadi diacara Jesi.Aku terpaksa tidak bisa makan banyak karena harus buru-buru pulang dan segera kerumah sakit tadi.
"Kita makan dirumah aja kak,aku dah ngantuk."
Jawabku berbohong kembali.
"Tapi kakak laper dek,ayolah....temenin kakak makan dulu sebentar ya? nanti kalo kakak pingsan dijalan gimana,siapa yang mau bawa mobil?"
Akhirnya aku kalah dan harus mengikuti ajakannya untuk mampir kesebuah resto untuk makan.
Baru saja kami duduk dan melihat menu untuk memesan,kulihat diseberang meja ada kak Rosa.
Kak Rosa sedang dengan seorang laki-laki kelihatan begitu mesra,aku bingung apakah perlu kak Rendi kuberi tau ataukah aku pura-pura saja tidak tau.
__ADS_1
Sambil menunggu pesanan datang kak Rendi kembali membahas soal pak Mario.
"Dek,kira-kira Jesi sama pak gurunya gimana ya?"
"Nggak tau."
Jawabku singkat seakan masa bodoh dengan hal itu meski sebenarnya aku sangat penasaran juga.
"Coba tanyain ke Jesi dek!"
"Kenapa kakak begitu mau tau urusan Jesi?"
Tanyaku sambil mengangkat salah satu alisku.
"Hehehe,nggak papa cuma penasaran aja."
Akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang juga,pesanan makanan serta minuman yang kami pilih dari buku menu datang dan siap disantap.
Kami segera menyantap makanan yang terhidang dihadapan kami dengan lahap.
Ledek kak Rendi padaku dan hanya kubalas dengan senyuman.
Setelah selesai makan kami segera bergegas pulang,baru saja kami berdiri untuk meninggalkan meja kak Rosa berjalan kearah kami.Entah sengaja atau tidak tapi dia benar-benar mendekat.
"Hei,kalian makan disini juga? cuma berdua? nge-date?"
Tanyanya sambil tersenyum sinis kearahku.
"Bukan urusanmu!"
"Ayo dek kita pulang."
Kak Rendi menggandengku untuk segera keluar dari resto tersebut,sepertinya dia sedang enggan meladeni kak Rosa yang kemungkinan hanya akan menimbulkan keributan.
__ADS_1
"Kakak nggak papa?"
Tanyaku,melihat ekspresinya yang datar sambil fokus mengemudikan mobil.
"Emang kelihatannya kakak kenapa?"
"Hehehe,nggak papa sih."
Jawabku sambil nyengir.
"Jangan nyengir!"
Bentaknya.
"Kenapa?"
Tanyaku sedikit takut.
"Kalo kamu nyengir jadi gemesin."
Jawabannya justru membuatku takut dan hanya bisa terdiam.
Tiba-tiba mobil terhenti dipinggir jalan yang agak sepi.
"Dek kakak mau tanya."
"Tanya apa kak?"
"Tapi harus di jawab dengan jujur ya...."
"Insya Allah."
Belum juga bertanya tapi aku sudah mulai gelisah memikirkan pertanyaan apa yang akan kak Rendi tanyakan padaku,mungkinkah hal yang berhubungan dengan pak Mario lagi?
__ADS_1
Bersambung......