Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Jesi


__ADS_3

Medina nampak begitu serius ketika membahas soal Jesi,aku begitu penasaran sebenarnya apa yang terjadi kemarin.Mungkinkah ini ada hubungannya dengan pak Mario?


"Sory.....kemarin aku buru-buru pulang duluan karena nenekku masuk rumah sakit."


Jawabku berusaha mencari memberi penjelasan agar Medina tak salah faham,lagi pula semalem begitu pulang dari rumah sakit aku malah ketiduran sampai rumah jam berapa dan siapa yang memindahkanku dari mobil kekamar saja aku tidak tau.


Obrolan kami terhenti ketika pelajaran dimulai dan guru Matematik kami telah memasuki ruang kelas jadi tak mungkin kami mengobrol ketika jam pelajaran sedang berlangsung.


Obrolan kami lanjutkan ketika jam istirahat,kami pergi kekantin dan aku sudah begitu kepo dengan yang terjadi pada Jesi kemarin hingga membuatnya tak masuk sekolah hari ini.


"Din,apa kemarin Jesi jadi menyatakan cintanya ke pak Mario?"


Bisikku pada Medina yang sedang menyeruput es jeruk dihadapannya.


"He'em."


Jawabnya sambil menganggukkan kepala tanpa menoleh kearahku.


"Terus,terus!"


Tanyaku lagi menginterogasi agar tak lagi penasaran.


"Ditolak!"


Jawabnya sambil berbisik kearahku yang sejenak melupakan es jeruknya.

__ADS_1


"Hah?!"


"Ditolak Ra..."


"Iya aku denger,cuma kaget aja."


"Aku kan ngomongnya biasa aja,nggak ngagetin masak kamu kaget"


Ucapnya sambil kembali menyeruput kembali es jeruknya.


"Medina.......Hih! aku lagi serius ini,malah kamu bercanda!"


"Hufh,terus kita harus gimana Ra? mencintai seseorang itu hak asasi,tapi kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk membalas atau menerima perasaan yang sama dengan kita."


"Hmmmmm,bener juga sih. Tumben kamu pinter.hehehe."


"Marah?marah?marah?!"


"Percuma marah sama kamu Ra.


"Kenapa?"


"Hari ini aku marah sama kamu,besok ketemu kamu udah lupa sama marahnya.Hahahahaha."


"Iya juga sih,hahahhaha.....Balik ke kelas yuk Din."

__ADS_1


"He'emh"


Saat perjalanan menuju ke kelas kami berpapasan dengan pak Mario,entah kenapa rasanya sudah nggak respect aja sama beliau.Meski sebenarnya aku sendiri begitu mangaguminya namun perasaanku seketika berubah menjadi rasa kecewa karena beliau telah menyakiti perasaan teman baikku.


Mungkin kalau beliau menerima cinta Jesi justru akulah yang akan terluka,tapi entah kenap aku juga jadi ikut terluka ketika mendengar kabar Jesi tersakiti.


Tapi apa yang dikatakan Medina di kantin barusan ada benarnya juga.


Medina mengajakku mampir kerumah Jesi sepulang sekolah nanti,sebenarnya aku sendiri bingung sebenarny aku sangat ingin bertemu Jesi dan menghiburnya namun di sisi lain nenek sedang dirumah sakit masa iya aku malah main kerumah temen?


Sepulang sekolah kak Rendi menelfonku dan memberi kabar bahwa tidak bisa menjemputku,aku tidak keberatan dia tidak bisa menjemputku dan sekalian kuputuskan ikut dengan Medina mampir kerumah Jesi dengan membonceng motornya.Aku sudah meminta izin pada kak Rendi dan setelah urusannya selesai kak Rendi akan menjemputku dirumah Jesi,kami pun sepakat.


Sesampainya dirumah Jesi,kami langsung dipersilahkan oleh pembantunya masuk.


"Kebetulan kalian berdua dateng,non Jesi sejak kemarin setelah acara ulang tahunnya tidak mau keluar kamar sama sekali."


Kata pembantu Jesi pada kami,spontan membuatku dan Medina jadi saling pandang.


"Sekarang boleh nggak ya bik kami nemuin Jesi?"


"Silahkan Non,siapa tau kalo kalian berdua yang datang non Jesi mau membuka kamarnya.Tolong nanti dibujuk supaya mau makan ya non."


"Siap bi."


Kami pun diantar sampai didepan pintu kamar Jesi,sampai pembantu Jesi berpamitan meninggalkan kami berdua.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2