Bahasa Cinta

Bahasa Cinta
Dikira cengeng


__ADS_3

Kakiku dengan sendirinya melangkah memasuki outlet tersebut,mas Rio hanya mengikutiku dari belakang dengan wajah heran.


"Apa yang mau kamu beli disini?"


Tanyanya padaku saat seorang pelayan toko tersebut menyapa kedatangan kami.


"Baju lah!"


Jawabku dengan santai sambil melihat-lihat beberapa setelan baju beserta hijabnya karena manekin yang kukihat di display depan mengenakan pakaian serba muslim.


"Memangnya pakaian ini ada yang muat untukmu?"


"Kamu tidak lihat mas,semua baju yang ada disini hanya khusus untuk anak-anak!"


"Jadi? kamu mau beli untuk calon anak kita?"


Tanyanya masih terlihat heran,aku hanya memandang tajam kearahnya dengan tatapan penuh rasa kesal.


"Beli buat Zarra,mas!"


Jawabku kesal.


"Lalu buat kamu sendiri?"


Tanyanya lagi padaku.Aku hanya tersenyum padanya lalu kembali tanganku dengan lihai memilah pakaian anak-anak yang menurutku lucu dan cocok untuk Zarra.


"Mbak,yang model ini untuk anak usia sekitar satu setengah tahun ada?"


Tanyaku pada seorang pramuniaga yang berdiri dibelakang kami siap melayani.


"Sebentar kak,biar kami cek produk dulu,"


Aku kembali memilih lagi beberapa pasang sepatu untuk Zarra juga.Akhirnya aku selesai juga membeli beberapa pasang baju berhijab serta beberapa pasang sepatu untuk keponakan kecilku yang lucu,tentunya mas Rio yang membayarnya.


"Kamu suka perhiasan?"


Tanya mas Rio padaku.


"Hhmmmmmmm,boleh!"


"Sini,ikut aku!"


Ajaknya padaku kesebuah toko perhiasan.


"Selamat siang tuan Mario,selamat datang!"


Sapa seorang perempuan muda yang begitu cantik dengan penampilannya yang modis.


Mas Rio mengabaikannya dan hanya berdiri disampingku melihat-lihat beberapa contoh perhiasan.


"Mas,boleh aku beli lebih dari satu?"


Tanyaku padanya.


"Pilihlah mana yang kamu suka!"


"Maaf kak,jika saya mau yang seperti ini kembar tiga bisa?"

__ADS_1


Tanyaku sambil menunjuk Koleksi perhiasan dalam bentuk gelang.


"Eternity Bangle,gelang yang terdiri dari beberapa batu berlian di bagian tengahnya ini memiliki dua pilihan warna , yakni rose gold dan emas putih."


Kata seorang seller menjelaskan pada kami,dan pilihanku jatuh pada warna emas putih.


"Beli buat siapa saja kamu?"


Tanya mas Rio sambil menatapku.


"Buat mamaku,mami Sarah dan kak Reina!"


Jawabku santai.


"Lalu untukmu?"


Tanyanya dengan heran,aku hanya bisa menggeleng karena dari semua yang ada disini tidak ada yang membuatku tertarik sama sekali.


"Pilihlah salah satu untukmu sendiri,atau mau aku yang pilihkan?"


"Tidak perlu! aku sudah punya dirumah pemberian keluargamu!"


Jawabku,karena memang kalung pemberian mami dan cincin pertunanganku masih ku simpan sampai saat ini begitu juga cincin kawin kami juga belum berani kupakai kemana-mana dan masih kusimpan semuanya.


Mas Rio hanya terdiam mengeluarkan kartu berwarna hitam miliknya sambil memandang wajahku dengan kesal.


"Kamu harus mengganti semua kerugianku hari ini pada suatu saat nanti Maura!"


Ancamnya dengan berbisik di telingaku,membuatku begidik ngeri.


Aku langsung mengajaknya pulang karena lapar,mas Rio sempat menawarkan padaku untuk mampir makan siang namun kutolak karena aku ingin segera pulang.


Rasa gelisah dan sedih bercampur menjadi satu membuat emosiku serasa diaduk-aduk tak karuan.


Entah apa yang membuatku demikian namun tiba-tiba saja pikiranku tertuju pada rumah,aku rindu keluargaku,aku ingin segera pulang memeluk mama serta nenek.Dua orang wanita yang begitu kudambakan kasih sayangnya ketika dirumah.


"Mas,aku ingin pulang.....!"


Rengekku seperti anak kecil yang meminta sesuatu untuk segera dituruti.


"Iya,ini kita sudah jalan pulang!"


Jawab mas Rio dengan santai namun entah mengapa perkataannya yang biasa-biasa saja membuat emosiku serasa terpancing.


"Aku ingin pulang .......!"


Ucapku sambil menitikan air mata,dada ini rasanya begitu sesak hingga rasanya untuk bernafas saja terasa begitu berat.


"Aku mau ketemu mama! hik,hik,hik....."


Tangisku semakin menjadi,air mataku mulai tumpah.Mas Rio menepikan laju mobilnya lalu menatapku dengan bingung.


"Kamu kenapa?"


Tanyanya heran sambil membantuku menyeka air mata yang meleleh melewati pipiku.


Aku hanya bisa menggeleng karena aku sendiripun tidak tau apa yang membuatku seperti ini dan aku juga tidak bisa menjelaskan kenapa aku bersikap bengini.

__ADS_1


"Jangan membuatku bingung Ra,jawablah apa yang membuarmu menangis? apa karena perkataanku tadi?"


Aku masih saja menggeleng sambil tertunduk,air mata ini tak hentinya menetes hingga membasahi jilbab yang kukenakan.


"Kamu rindu orang tuamu?"


Tanya mas Rio mulai menebak-nebak sendiri,namun aku merasa enggan untuk menjawabnya dan hanya lebih memilih diam sambil tetap menundukkan wajah.


"Kamu ini bukan anak kecil lagi,yang akan menangis ketika berpisah dengan orang tuanya hanya dalam waktu beberap hari saja!"


Ucapnya serasa menghakimiku dan menganggapku cengeng.


"Ayo lah Ra,kamu sudah dewasa! kita disini belum genap sehari tapi kamu sudah merengek minta pulang!"


Ucapnya lagi mungkin dia bermaksud menenangkanku namun aku justru semakin merasa kesal dengan ucapannya yang terdengar seperti sedang menghakimiku.


"Sabar ya,jangan menangis lagi please! aku tidak tahan melihat air matamu,"


Mas Rio kembali melanjutkan perjalanan.


"Kita langsung kerumah,atau mau ketempat Zarra?"


Tanyanya padaku,karena dia tau aku paling senang jika berada di dekat Zarra.


Mas Rio memarkirkan mobilnya di depan rumah mertua kak Reina,kami masih berdiam diri didalam mobil menungguku benar-benar tenang.


"Kita turun yuk!"


Ajak mas Rio padaku yang masih merass gamang dengan entah apa yang aku sendiri juga tidak bisa memahaminya.


"Sudah ya......jangan tunjukan wajah sedihmu di depan anak kecil!"


Bujuk mas Rio sambil membelai lembut kepalaku yang masih terbungkus hijab.


Ku anggukkan kepalaku dengan terpaksa menghela nafas panjang berusaha menenangkan diri sendiri agar tak tarlalu terlihat kacau didepan semua orang.


"Senyum dong!"


Pinta mas Rio padaku sambil menutup pintu mobil dimana baru saja aki keluar dari sana sambil menenteng paper bag hasil belanjaanku untuk keponakanku Zarra.


Kupaksakan senyuman mengembang di bibirku.


"Yang ikhlas dong.....!"


Pinta mas Rio lagi padaku agar aku tersenyum dengan tulus yang tidak dibuat-buat,dengan terpaksa ku turuti permintaannya meski pikiranku rasanya masih sangat kacau.


Mas Rio memencet bel pintu rumah yang berada di dekat pintu.Tak perlu lama menunggu,seorang pelayan segera membukakan pintu sambil tersenyum ramah mempersilahkan kami untuk segera masuk.


Kami diminta untuk menunggu diruang tamu sedangkan seorang pelayan yang membukakan pintu untuk kami segera masuk untuk memberi tahukan kak Reina tentang kedatangan kami.


Zarra kecil yang sedang aktif-aktifnya berlarian sambil menggendong boneka beruang berwarna coklat muda,pengasuhnya berjalan cepat mengikuti kemanapun langakah kaki Zarra berlari.


Begitu menyadari kehadiran kami yang sedang duduk diruang tamu,Zarra berlari kearah kami dan langsung memelukku.


"Mamaaaamamamamaaaa......!"


Ucapnya saat memelukku,sontak membuat aku dan mas Rio hanya bisa diam sambil tatap.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2